RI Incar Bahan Baku Uzbekistan untuk Produksi Kerajinan Tangan
Indonesia mulai melirik Uzbekistan sebagai sumber alternatif bahan baku industri kerajinan tangan. Kawasan tersebut dinilai menawarkan harga lebih rendah dengan kualitas kompetitif.
Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia menilai Uzbekistan memiliki potensi besar sebagai pemasok katun, kapas, dan sutra. Komoditas itu dibutuhkan industri kerajinan nasional.
Wakil Ketua Umum II ASEPHI Bidang Kerja Sama Regional dan Internasional Baby Jurmawati menyebut penjajakan kerja sama mulai dilakukan tahun ini. Fokusnya pasokan bahan baku kerajinan.
“Tahun lalu kami coba kolaborasi material Uzbekistan untuk batik, hasilnya bagus. Harga bahan bakunya juga lebih rendah dibandingkan yang biasa kita impor,” ujar Banu lewat keterangan pers, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: 9 Ide Bisnis Kerajinan Tangan dari Bahan Rotan
Pemanfaatan bahan baku Uzbekistan dinilai memberi opsi baru di tengah keterbatasan pasokan domestik. Industri kerajinan selama ini masih bergantung pada impor.
“Supplier bahan baku dalam negeri belum mencukupi. Karena itu kami mencoba alternatif selain India dan China, dan Uzbekistan salah satu yang potensial,” beber Baby.
Kerja sama tersebut menghadapi tantangan logistik. Uzbekistan berstatus double landlocked tanpa akses laut. Seluruh pengiriman mengandalkan jalur udara dengan biaya tinggi.
“Pengirimannya mahal karena harus lewat udara. Ini yang sedang kami cari solusinya,” katanya.
ASEPHI menilai diversifikasi sumber bahan baku perlu dijalankan. Langkah ini menjaga daya saing dan kesinambungan produksi, terutama untuk pasar ekspor yang semakin selektif terhadap kualitas dan keberlanjutan.
ASEPHI juga menjajaki pasokan bahan baku dari negara Asia Pasifik dan Afrika. Skema kerja sama dilakukan melalui saling dukung antarnegeri, termasuk barter partisipasi pameran dan kolaborasi material.
“Kita diundang Jepang dan beberapa negara lain dengan konsep saling support. Kalau pameran internasional itu biaya kargo dan penginapan sangat besar, jadi kita coba kolaborasi lewat asosiasi,” lanjut Baby.
Baca juga: 5 Pusat Oleh-oleh di Makassar, Bawa Pulang Makanan atau Kerajinan Tangan
Upaya ASEPHI tidak berhenti pada bahan baku. Kolaborasi desain dan produksi turut didorong agar produk kerajinan Indonesia lebih diterima di pasar global.
INACRAFT 2026 menjadi salah satu contoh. Pameran ini mengusung tema Womenpreneurs. Penyelenggaraan ke 26 mengubah pendekatan dari berbasis geografis menjadi human centered. Womenpreneurs ditempatkan sebagai ikon utama.
Mengusung konsep Exploring and Celebrating Womenpreneurs in Craft, pameran ini menyoroti peran perempuan Indonesia di balik karya kerajinan nusantara. Peran tersebut terlihat dalam penciptaan keunikan produk hingga pengolahan menjadi peluang usaha.
Tag: #incar #bahan #baku #uzbekistan #untuk #produksi #kerajinan #tangan