Intip Karya Seni SBY di Hari Kanker Sedunia, Ada Puisi dan Lukisan
- Untuk merayakan Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada Rabu (4/2/2026), MSD Indonesia dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menggelar pameran seni bertajuk “Understanding Cancer Through Art” di MGP Space, SCBD Park, Jakarta Selatan, sampai Minggu (8/2/2026).
Pameran tersebut menampilkan lebih dari 70 karya seni dari penyintas kanker dan caregiver (pendamping). Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, turut menyumbang beberapa karya di pameran tersebut.
"Karya seni yang ditampilkan berupa tulisan, lukisan, dan fotografi. Perjalanan setiap pasien kanker unik. Setiap perjalanan berbeda. Mereka mengungkapkannya melalui karya seni,” kata External Affairs Director MSD Indonesia, Dudit Triyanto, di lokasi, Rabu.
Pameran ini mengajak masyarakat untuk melihat kanker dari sisi yang lebih manusiawi, melalui empati, memahami perjuangan, serta menumbuhkan dukungan dan harapan.
Baca juga: 7 Makanan yang Bantu Lawan Kanker, Rekomendasi Ahli di Hari Kanker Sedunia
Banyak para penyintas dan pendamping pasien kanker yang menceritakan perjuangan mereka, serta menyalurkan harapan-harapannya, melalui beragam karya seni yang dipamerkan.
Adapun karya SBY turut hadir di pameran tersebut karena ia adalah pendamping Ani Yudhoyono, sepanjang mendiang istri berjuang melawan kanker darah.
Karya SBY yang bisa dinikmati
Lukisan “Tears in the Dark Day”
Karya seni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berjudul Tears in the Dark Day di pameran seni bertajuk ?Understanding Cancer Through Art? di MGP Space, SCBD Park, Jakarta Selatan, yang berlangsung sejak Rabu (4/2/2026) sampai Minggu (8/2/2026).
Ada empat karya SBY yang bisa dinikmati oleh pengunjung di pameran ini. Pertama adalah lukisan “Tears in the Dark Day” yang dibuat pada 26 Desember 2024, dalam rangka mengenang 20 tahun Tsunami Aceh.
Lukisan ini merekam satu momen duka dan kemanusiaan. Ani sedang memangku dua anak kecil korban bencana Tsunami Aceh 2004 yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya.
Baca juga: Tema Hari Kanker Sedunia 2026, “United by Unique” dan Pesan di Baliknya
Dalam pelukannya, mereka menangis bersama. Dalam lukisan oil mix media on canvas ini, Ani tidak digambarkan sebagai seorang lbu Negara, tetapi sebagai seorang ibu yang hadir sepenuhnya bagi anak-anak yang kehilangan segalanya.
Pada tahun 2019, Ani menjalani perjuangan berat melawan penyakit kanker.
“Dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia, lukisan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan dan empatinya tidak lahir semata saat ia menghadapi penyakitnya sendiri, melainkan telah tumbuh jauh sebelumnya, dalam keberaniannya menampung duka, merawat luka sesama, dan berbagi keteguhan di tengah penderitaan,” seperti yang tertera dalam keterangan lukisan tersebut.
Dari pelukan seorang ibu di tengah bencana sampai keteguhan seorang Ani dalam melawan kanker, lukisan tersebut menyuarakan pesan yang bahwa harapan selalu lahir, bahkan di saat hidup terasa paling gelap.
Baca juga: Sejarah Hari Kanker Sedunia dan Maknanya bagi Dunia Kesehatan Global
Lukisan “Indah di Kaki Bukit”
Karya seni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berjudul Indah di Kaki Bukit di pameran seni bertajuk ?Understanding Cancer Through Art? di MGP Space, SCBD Park, Jakarta Selatan, yang berlangsung sejak Rabu (4/2/2026) sampai Minggu (8/2/2026).
Lukisan acrylic on canvas ini dibuat menjelang akhir tahun 2021, ketika SBY tengah menjalani masa pemulihan pascaoperasi pengangkatan kanker prostat di Amerika Serikat.
Kerinduan terhadap kampung halaman di Indonesia adalah sumber inspirasi karya tersebut.
“Dalam kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih, bahkan masih menggunakan kateter, SBY tetap menyalurkan rasa rindu kepada tanah air melalui sapuan kuas pada lukisan ini,” seperti yang tertera dalam keterangan lukisan tersebut.
Lukisan "Indah di Kaki Bukit” hadir sebagai simbol ketangguhan manusia dalam menghadapi kanker.
Melalui karya tersebut, SBY menunjukkan bahwa di tengah perawatan dan pemulihan, harapan tetap dapat tumbuh, dan kreativitas tetap menemukan jalannya.
Baca juga: SBY Disebut Ingin Beri Alarm Pencegahan soal Perang Dunia III, Bukan Bikin Panik
Puisi
Dua karya lainnya adalah puisi berjudul “Gerimis di Tengah Kota” yang dibuat di Semarang pada April 2025, dan “Bayang-Bayang (2)” yang dibuat di Jakarta pada bulan dan tahun yang sama.
Pameran seni bertajuk ?Understanding Cancer Through Art? yang digelar di MGP Space, SCBD Park, Jakarta Selatan, sejak Rabu (4/2/2026) sampai Minggu (8/2/2026), untuk merayakan Hari Kanker Sedunia.
Puisi pertama berbicara tentang hidup yang suka memiliki momen-momen tidak terduga, sedangkan puisi kedua berbicara tentang keputusasaan dan pilihan untuk bangkit.
Karya lain yang dapat dinikmati
Selain empat karya dari SBY, karya lainnya dari para penyintas dan pendamping pasien kanker juga patut dinikmati. Salah satunya adalah lukisan berjudul “Terkapar” oleh penyintas kanker serviks, Niniek Y.
Lukisan ini menceritakan tentang rasa sedih yang sempat menyelimuti dirinya ketika didiagnosis kanker serviks, tetapi ia tetap berjuang menjalani hidup dengan penuh harapan.
Baca juga: Vaksinasi HPV Anak Jadi Prioritas Demi Eliminasi Kanker Serviks 2030
Ada pula lukisan berjudul “Sekuat Bukit Karang, Seerat Genggaman” karya pendamping pasien kanker darah dan payudara, Mira M. Amar.
Karya tersebut menggambarkan keteguhan penyintas kanker dalam menghadapi masa-masa sulit. Ia tetap berdiri kuat bak bukit karang yang terus diterjang ombak.
Kanker, tantangan kesehatan yang serius
Kanker masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Data GLOBOCAN 2022 mencatat lebih dari 408.000 kasus baru dan hampir 243.000 kematian dalam satu tahun.
Baca juga: Cerita Alika Islamadina Jadi Caregiver Ibu dan Nenek yang Kena Kanker
Pameran seni bertajuk ?Understanding Cancer Through Art? yang digelar di MGP Space, SCBD Park, Jakarta Selatan, sejak Rabu (4/2/2026) sampai Minggu (8/2/2026), untuk merayakan Hari Kanker Sedunia.
Padahal, hingga 50 persen kasus kanker sebenarnya dapat dicegah. Tanpa penguatan pencegahan dan deteksi dini, jumlah kasus kanker diperkirakan akan meningkat lebih dari 70 persen pada 2050.
Ketua Umum YKI Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, menegaskan bahwa kanker bukan hanya persoalan medis, tetapi persoalan kemanusiaan yang menguji seluruh sisi kehidupan.
“Di balik diagnosis, banyak pasien dan penyintas kanker menjalani hari-hari yang berat. Mereka bergulat dengan rasa takut, stigma, dan kesepian,” ungkap dr. Aru di lokasi.
Ia meyakini bahwa penyembuhan tidak hanya terjadi di ruang perawatan, tetapi juga di ruang-ruang harapan.
“Melalui seni, seperti melukis, menari, bernyanyi, dan berbagai ekspresi kreatif, para pejuang kanker menemukan kembali suara, martabat, dan makna hidupnya. Seni menjadi bagian vital dari perjalanan mereka, agar tak seorang pun melawan kanker sendirian,” pungkas dr. Aru.
Baca juga: Jumlah Kasus Kanker Meningkat, karena Gaya Hidup Modern?
Selain menikmati pameran seni, masyarakat juga bisa mengikuti beragam talkshow edukatif yang membahas berbagai isu seputar kanker paru, payudara, pencernaan, serviks, sampai mitos dan fakta seputar kanker. Rangkaian talkshow dimulai pada Jumat (6/2/2026) sampai Sabtu (7/2/2026).
Tag: #intip #karya #seni #hari #kanker #sedunia #puisi #lukisan