Gejolak Bursa Dinilai Ancam Target Pertumbuhan Ekonomi 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)
18:24
5 Februari 2026

Gejolak Bursa Dinilai Ancam Target Pertumbuhan Ekonomi 2026

Gejolak pasar modal Indonesia sepanjang sepekan terakhir dinilai mencerminkan persoalan fundamental ekonomi, bukan sekadar masalah teknis perdagangan saham.

Penilaian tersebut disampaikan Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance, Eko Listiyanto, merespons volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan yang memicu trading halt berulang.

“Seperti diketahui dalam katakanlah satu minggu terakhir ya kemarin, kita mengalami masa-masa kelam ya di pasar saham gitu ya, di mana beberapa kali terjadi trading halt ya, dan kemudian itu berimplikasi ya sampai kepada aspek kelembagaan,” ujar Eko secara virtual, Kamis (5/2/2026).

Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Siapkan Strategi Hadapi Gejolak Bursa

Eko menilai situasi pasar memang mulai terkendali. Meski begitu, persoalan utama belum tuntas dan tetap berisiko memengaruhi prospek ekonomi ke depan.

“Ada yang mundur, dan kemudian situasinya ya alhamdulillah ya sedikit tertangani ya, tapi sebenarnya masalahnya belum selesai gitu,” kata Eko.

“Sehingga kita juga mengaitkan dengan isu tersebut. Kenapa. Karena ini juga akan menentukan bagaimana nanti nasib ekonomi di 2026 ya,” tambahnya.

Eko menyebut gejolak pasar saham seharusnya dapat dihindari jika pergerakan bursa mencerminkan kondisi riil perekonomian secara sehat dan transparan.

“Gejolak saham itu adalah salah satu hal yang harusnya bisa dicegah begitu ya, kalau memang apa yang terjadi di bursa itu memang menggambarkan realitas di perekonomian begitu,” ujarnya.

Sorotan kemudian tertuju pada sikap Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang meragukan kualitas fundamental pasar modal Indonesia.

“Nah, ternyata kan kemarin ada lembaga yang meragukan begitu ya, MSCI ya, lembaga risetnya itu meragukan bahwa itu memang demikian,” kata Eko.

“Apa istilahnya ya, ada fundamentalnya kuat begitu ya, tapi ternyata kemudian banyak yang ya istilahnya digoreng gitu ya,” lanjutnya.

Baca juga: Free Float Naik Jadi 15 Persen, Ratusan Emiten Terancam Tersingkir dari Bursa

Eko mengingatkan pasar saham tetap memegang peran penting bagi pertumbuhan ekonomi, meski struktur ekonomi Indonesia lebih ditopang sektor riil.

“Saya ingin mengingatkan ya bahwa memang pasar modal atau pasar saham itu penting untuk pertumbuhan ekonomi,” ujar Eko.

“Terlepas dari konteks bahwa kalau kita cermati memang sebagian besar ekonomi Indonesia itu tidak bergantung dari pasar saham, tentu lebih bergantung dari sektor riil, tetapi dinamika yang terjadi di pasar saham ya itu juga turut menentukan begitu,” tambahnya.

Ia merujuk berbagai riset yang menempatkan pasar saham sebagai sarana mobilisasi modal, peningkatan likuiditas, pendalaman sektor keuangan, serta pembentukan sinyal informasi ekonomi.

“Apapun itu pasar saham itu penting untuk pertumbuhan ekonomi, dari mulai mengalokasikan mobilisasi modal yang efisien, kemudian peningkatan likuiditas ya, kita tahu financial deepening di Indonesia sangat diperlukan, terus kemudian juga agregasi informasi mekanisme sinyal,” kata Eko.

Fungsi lain pasar saham terlihat dari peningkatan disiplin dan tata kelola emiten. Transparansi laporan keuangan menjadi instrumen pengawasan publik terhadap perusahaan terbuka.

Eko juga mengingatkan risiko serius jika reputasi pasar modal Indonesia merosot hingga turun kelas menjadi frontier market.

“Kalau sudah jadi frontier market, maka isunya itu akan sangat meng-hit ke mana-mana gitu ya, itu nanti meng-hit ke pasar obligasi, yield-nya jadi lebih mahal ya,” ujarnya.

“Itu akan jadi sesuatu yang katakanlah lebih challenging lagi bagi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen,” tegas Eko.

Indef turut memantau reaksi publik melalui percakapan media sosial. Perhatian masyarakat terhadap gejolak pasar saham tercatat sangat tinggi.

“Kami lihat ya di dalam percakapan di sosial media begitu, dari sekitar 41.700 perbincangan ya, di X gitu, ketika terjadi IHSG yang menurun kemarin, itu memang banyak sekali menyebutkan soal aspek trading halt, kekhawatiran bahwa Indonesia akan semakin turun kelas gitu ya, dan kemudian itu akan meng-hit kepada rupiah,” kata Eko.

Tekanan publik juga diarahkan kepada otoritas pasar modal dan pemerintah.

“Ada sekitar 6.000 perbincangan terkait dengan BEI, 5.500 terkait Presiden, dan juga 3.400 terkait OJK,” ujarnya.

Meski IHSG mulai kembali menguat, Eko menilai pemulihan kepercayaan pasar memerlukan pembenahan menyeluruh.

“Hari ini Alhamdulillah IHSG sudah di 8.000-an ya, belum secerah seperti semula tapi ya lumayan lah gitu ya, tidak terjadi trading halt lagi lah gitu. Dan mudah-mudahan ke depan bisa segera diperbaiki substansinya,” pungkas Eko.

Pasar modal Indonesia sebelumnya melewati pekan penuh tekanan pada awal Februari 2026. Volatilitas tinggi diikuti penurunan kepercayaan investor.

Tekanan dipicu kombinasi faktor internal dan eksternal. Sorotan MSCI terhadap transparansi data emiten memperburuk sentimen. Keputusan MSCI membekukan penyesuaian indeks Indonesia memunculkan risiko penurunan status jika perbaikan tidak tercapai hingga Mei 2026.

Investor asing merespons dengan aksi jual bersih besar-besaran. Tekanan pasar kemudian bertambah setelah pengunduran diri sejumlah petinggi Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia dalam waktu berdekatan.

Ketidakpastian arah kebijakan muncul di tengah rencana kenaikan batas free float menjadi 15 persen. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran emiten terkait potensi exit policy dan tekanan lanjutan di pasar.

Tag:  #gejolak #bursa #dinilai #ancam #target #pertumbuhan #ekonomi #2026

KOMENTAR