Psikiater Ungkap Tanda Awal Bunuh Diri pada Anak yang Sering Diabaikan, Orangtua Harus Tahu
Ilustrasi anak menangis. Psikiater mengingatkan bahwa perubahan perilaku kecil pada anak bisa menjadi tanda awal krisis psikologis yang berujung fatal jika tidak segera disadari.(Unsplash/Lucas Metz)
15:05
5 Februari 2026

Psikiater Ungkap Tanda Awal Bunuh Diri pada Anak yang Sering Diabaikan, Orangtua Harus Tahu

Psikiater menegaskan bahwa sebagian besar kasus bunuh diri pada anak tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan diawali tanda peringatan yang kerap tidak disadari lingkungan terdekat.

Perubahan perilaku, ucapan bernada putus asa, hingga penarikan diri menjadi sinyal awal yang sering dianggap sebagai fase biasa.

Padahal, menurut dokter, tanda-tanda ini merupakan cara jiwa anak meminta pertolongan. Kegagalan membaca sinyal tersebut dapat berujung pada tragedi yang sebenarnya bisa dicegah.

Pernyataan ini disampaikan Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr Lahargo Kembaren, SpKJ, dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Rabu (4/2/2026).

Baca juga: Berkaca dari Kasus Bunuh Diri Anak di NTT, Psikiater Tekankan Pentingnya Dukungan Emosional

Anak sudah memahami kematian, tapi belum siap secara emosional

Menurut Lahargo, anak usia sekitar 9–10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, meskipun kemampuan mengelola emosi dan menimbang konsekuensi jangka panjang belum matang.

“Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada usia ini cara berpikir anak masih konkret dan hitam-putih, sehingga saat berada dalam tekanan psikologis, anak mudah menarik kesimpulan ekstrem, seperti merasa masalah akan selesai jika dirinya tidak ada.

Baca juga: Kasus Anak Bunuh Diri Jadi Alarm Kesehatan Mental, Menkes Siapkan Psikolog di Puskesmas

Perubahan perilaku jadi alarm paling penting

Ilustrasi anak sedih. Psikiater mengingatkan bahwa perubahan perilaku kecil pada anak bisa menjadi tanda awal krisis psikologis yang berujung fatal jika tidak segera disadari.Freepik Ilustrasi anak sedih. Psikiater mengingatkan bahwa perubahan perilaku kecil pada anak bisa menjadi tanda awal krisis psikologis yang berujung fatal jika tidak segera disadari.

Lahargo menekankan bahwa perubahan perilaku merupakan tanda peringatan dini yang paling krusial dan tidak boleh dianggap sepele. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Anak menjadi lebih pendiam dan menarik diri
  • Perubahan emosi drastis, seperti murung, mudah menangis, atau cepat marah
  • Ucapan bernada putus asa, misalnya “aku capek hidup” atau “aku cuma bikin repot”
  • Gangguan tidur, termasuk mimpi buruk berulang
  • Penurunan prestasi sekolah atau hilangnya minat bermain

Perilaku anak berubah bukan tanpa sebab, itu cara jiwa meminta tolong,” kata dr Lahargo.

Ia merujuk pada penekanan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau diabaikan.

Baca juga: Cara Journaling Saat Keinginan Bunuh Diri Muncul Menurut Psikolog

Bunuh diri anak lahir dari akumulasi masalah

Lahargo menegaskan bahwa bunuh diri pada anak hampir tidak pernah disebabkan satu kejadian tunggal.

“Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi, bukan satu kejadian,” ujarnya.

Akumulasi tersebut dapat berasal dari faktor individu, keluarga, maupun lingkungan, seperti tekanan emosional berkepanjangan, konflik keluarga, perundungan, hingga isolasi sosial.

Baca juga: 4 Cara Self-Help untuk Mengendalikan Dorongan Bunuh Diri Menurut Psikolog

Peran stres ekonomi dan beban orang dewasa

Dalam banyak kasus, anak juga menyerap stres orangtua, terutama terkait masalah ekonomi, meski tidak selalu memahami situasinya secara utuh.

Menurut Lahargo, anak kerap merasa dirinya menjadi penyebab kesulitan keluarga dan memikul tanggung jawab semu yang seharusnya tidak ia tanggung.

“Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk,” ucapnya.

Ia menilai kondisi ini diperberat oleh minimnya layanan kesehatan jiwa anak yang mudah diakses, rendahnya literasi kesehatan mental, serta lemahnya sistem deteksi dini di sekolah dan komunitas.

Baca juga: Waspadai 5 Tanda Seseorang Ingin Bunuh Diri, Termasuk Bicara Ingin Mati

Deteksi dini jadi kunci pencegahan

Lahargo menegaskan bahwa bunuh diri pada anak dapat dicegah jika tanda awal dikenali dan ditangani secara serius.

“Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tapi tentang keputusasaan yang tak punya bahasa,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membaca sinyal dini dan menyediakan lingkungan yang aman secara emosional.

“Anak yang didengar tidak perlu berteriak lewat kematian. Mari hadir bagi mereka di setiap musim hidupnya,” tutup Lahargo.

Baca juga: Jangan Diam Saja, Ini 7 Cara Mencegah Seseorang Bunuh Diri Menurut Psikolog

 

Jika menemukan tanda-tanda ingin bunuh diri pada diri sendiri atau pada orang sekitar, tolong upayakan memperoleh bantuan layanan konseling.

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa mengunjungi website Into the Light Indonesia di bawah ini:

https://www.intothelightid.org/saya-ingin-bunuh-diri/ Anda juga bisa menghubungi Yayasan Pulih (021) 78842580 atau email lewat [email protected] atau Call Center Halo Kemenkes 1500-567

Tag:  #psikiater #ungkap #tanda #awal #bunuh #diri #pada #anak #yang #sering #diabaikan #orangtua #harus #tahu

KOMENTAR