Strategi Pemerintah Atasi Angka Pernikahan yang Turun di Indonesia
Pasangan calon pengantin yang ikut dalam program nikah massal di halaman kantor Kemenag Indramayu, Selasa (9/12/2025)(KOMPAS.com/HANDHIKA RAHMAN)
15:35
5 Februari 2026

Strategi Pemerintah Atasi Angka Pernikahan yang Turun di Indonesia

- Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, angka pernikahan di Indonesia merosot dalam satu dekade terakhir.

Pada tahun 2014, jumlah pernikahan masih berada di angka sekitar 2,1 juta peristiwa. Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 2024, jumlah tersebut menyusut hingga mendekati 1,4 juta.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) memandang tren penurunan angka pernikahan ini bukan sekadar fenomena statistik.

Sekretaris Kemendukbangga Prof. Budi Setiyono, S.Sos, M.Pol.Admin, Ph.D., menerangkan bahwa pihaknya memandang tren ini sebagai bagian dari perubahan perilaku demografis masyarakat, di tengah perkembangan sosial-ekonomi masyarakat.

“Tren ini bukan terjadi secara eksklusif di Indonesia, melainkan juga menjadi fenomena umum di banyak negara,” ucap Budi kepada Kompas.com pada Rabu (4/2/2026).

Baca juga: Angka Pernikahan Menurun, Kesiapan Finansial Jadi Tolak Ukur Menikah

Penyebab turunnya angka pernikahan

Budi menerangkan bahwa menurunnya angka pernikahan di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah perubahan preferensi dan kesiapan hidup dan tren demografis yang lebih luas.

Perubahan preferensi dan kesiapan hidup

Pertama adalah perubahan preferensi dan kesiapan hidup. Menurut Budi, saat ini banyak generasi muda menunda pernikahan karena fokus pada pendidikan, karier, dan stabilitas ekonomi.

“Perubahan nilai sosial tentang pernikahan, seperti prioritas pada kematangan pribadi dan kebutuhan hidup layak, yang menjadi faktor signifikan dalam pengambilan keputusan dalam melakukan pernikahan,” jelas dia.

Baca juga: Nestapa Generasi Sandwich, Menunda Pernikahan demi Kebutuhan Keluarga

ilustrasi keluarga Jawa. Trah Jawa mengenal ragam sapaan keluarga hingga 18 generasi. Tiap sebutan punya makna, menggambarkan sopan santun dan keakraban.Pexels/Noval Gani ilustrasi keluarga Jawa. Trah Jawa mengenal ragam sapaan keluarga hingga 18 generasi. Tiap sebutan punya makna, menggambarkan sopan santun dan keakraban.

Tren demografis yang lebih luas

Selanjutnya adalah tren demografis yang lebih luas. Perubahan tersebut konsisten dengan tren global di banyak negara, yang mana angka pernikahan menurun seiring dengan urbanisasi, pendidikan tinggi, dan partisipasi perempuan di dunia kerja.

Apa dampaknya?

Budi mengungkapkan, ada beberapa dampak yang mungkin timbul jika angka pernikahan terus turun.

Baca juga: Dari Trauma ke Marriage is Scary, Ini 5 Faktor Psikologis Kenapa Milenial hingga Gen Z Takut Nikah 

Implikasi terhadap demografi dan fertilitas

Penurunan pernikahan dapat berdampak pada penurunan tingkat fertilitas jangka panjang. Sebab, pernikahan masih menjadi corong utama pembentukan keluarga dan keputusan untuk memiliki anak.

Selain itu, angka pernikahan yang kian menurun berpotensi memperlambat pertumbuhan penduduk, sekaligus mempercepat perubahan struktur usia masyarakat Indonesia menuju populasi yang lebih tua.

Implikasi terhadap bonus demografi dan transisi populasi

Budi mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia sedang ada pada fase bonus demografi karena tingginya proporsi usia produktif.

“Namun, jika pernikahan dan fertilitas terus turun, bonus demografi bisa ‘lewat’. Apalagi jika tanpa upaya untuk memaksimalkan kontribusi angkatan kerja muda pada produktivitas ekonomi nasional,” tutur dia.

Baca juga: Bonus Demografi Indonesia: Antara Potensi dan Pengangguran Pemuda

Perubahan pola keluarga

Ilustrasi keluargaTanoto Foundation Ilustrasi keluarga

Lantaran angka pernikahan terus merosot, keluarga dengan jumlah anggota lebih kecil menjadi lebih umum. Alhasil, pola relasi sosial non-konvensional akan meningkat. Misalnya adalah hidup tanpa harus menikah dianggap sebagai suatu kewajaran.

Ketahanan keluarga

“Karena pernikahan menurun, maka ada tantangan baru bagi stabilitas keluarga,” kata Budi.

Pola kehidupan individu yang tidak menikah tentu berbeda dengan mereka yang menikah.

Mereka yang hidup mandiri tentu menghadapi tantangan hidup sebagai single fighter, yang kondisi psikologis-sosialnya berbeda dengan mereka yang menghadapi tantangan berdua dengan pasangan.

Baca juga: Perjalanan Cinta Boiyen dan Rully, Berujung Gugatan Cerai Usai Dua Bulan Menikah

Strategi menghadapi penurunan angka pernikahan

Budi mengatakan, ada beberapa kebijakan dan program yang dibuat oleh Kemendukbangga dalam menghadapi fenomena ini.

Penguatan pendidikan dan kesiapan berkeluarga

Ilustrasi keluarga.Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi keluarga.

Pertama, pihaknya sedang memperkuat program pendidikan kesiapan hidup berkeluarga, atau pre-marital education, melalui “Akademi Keluarga”.

“Yang mencakup edukasi tentang kesiapan ekonomi, keseimbangan gender, keterampilan komunikasi interpersonal, dan perencanaan keluarga,” tutur Budi.

Ada juga kampanye publik dan layanan konseling keluarga sehat secara digital melalui Elsimil, yaitu aplikasi digital untuk melakukan skrining kesehatan dan edukasi bagi calon pengantin.

Baca juga: 4 Tips Maksimalkan Kunjungan ke Wedding Exhibition, Calon Pengantin Harus Tahu

“Tujuannya adalah untuk mencegah stunting pada anak. Aplikasi ini mendeteksi faktor risiko kesehatan, seperti kurang gizi dan anemia, tiga bulan sebelum menikah. Sertifikatnya menjadi syarat administratif di KUA (Kantor Urusan Agama),” jelas Budi.

Ada juga aplikasi konsultasi keluarga bernama “SAKINA” yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya hubungan berbasis persetujuan dan kesetaraan gender.

“Lalu menyediakan fasilitas mediasi, dan menangani isu-isu seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) melalui pendidikan dan layanan perlindungan,” kata Budi.

“Hal ini diharapkan dapat mengurangi ketakutan atau persepsi negatif tentang pernikahan, dan memperkuat fondasi keluarga yang stabil,” lanjut dia.

Baca juga: 3 Kesalahan yang Sering Dilakukan Calon Pengantin Saat Merencanakan Pernikahan

Peningkatan dukungan ekonomi untuk pasangan muda

Ketidakpastian ekonomi adalah salah satu penyebab utama penundaan pernikahan. Budi mengungkapkan, pihaknya bekerja sama dengan kementerian dan lembaga lain untuk mengembangkan beberapa hal terkait ini.

Pratama adalah insentif ekonomi bagi keluarga berupa program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA).

“Program ini berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga akseptor KB melalui pemberdayaan ekonomi produktif skala mikro,” jelas Budi.

Kelompok ini berfokus pada wirausaha, kreativitas, dan kemandirian ekonomi keluara, untuk mendukung program Bangga Kencana dan mengurangi kemiskinan.

Baca juga: 4 Cara Mengatur Waktu untuk Generasi Sandwich, Belajar dari Film 1 Kakak 7 Ponakan,

Tag:  #strategi #pemerintah #atasi #angka #pernikahan #yang #turun #indonesia

KOMENTAR