Buntut Kasus Anak SD Bunuh Diri SD di Ngada NTT, Komisi X DPR Desak Pemerintah Jadikan Kawasan 3T Jadi Prioritas Pendidikan
Aparat kepolisian dari Polres Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyelidiki peristiwa siswa SD berinisial YRB bunuh diri. (Istimewa)
17:16
5 Februari 2026

Buntut Kasus Anak SD Bunuh Diri SD di Ngada NTT, Komisi X DPR Desak Pemerintah Jadikan Kawasan 3T Jadi Prioritas Pendidikan

Komisi X DPR mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memprioritaskan pendidikan di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Desakan itu muncul setelah munculnya kasus bunuh diri anak SD di wilayah Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Anggota Komisi X DPR Habib Syarief Muhammad menyampaikan bahwa peristiwa memilukan itu wajib menjadi perhatian. Program pemenuhan kebutuhan dasar seperti buku serta alat tulis harus dilaksanakan secara sistematis. Berkaca dari peristiwa itu, dia mendorong pendidikan di kawasan 3T menjadi prioritas nasional.

”Pemerintah wajib memiliki peta pendidikan yang akurat dan pendataan utuh terkait kebutuhan riil di kawasan 3T,” kata dia pada Kamis (5/2).

Menurut Habib Syarief, peristiwa yang terjadi kepada anak SD di Ngada adalah potret buram pendidikan Indonesia, sekaligus menjadi bukti rapuhnya perlindungan negara terhadap anak-anak di wilayah pelosok. Untuk itu, dia meminta pemerintah tidak hanya memberikan pelayanan biasa, melainkan penanganan khusus dan darurat untuk wilayah 3T.

Politisi PKB asal Jawa Barat (Jabar) itu menyampaikan bahwa kompleksitas masalah pendidikan di wilayah 3T mencakup banyak aspek. Mulai akses geografis yang berat, kemiskinan struktural, hingga minimnya fasilitas fisik sekolah. Menurut dia, sampai saat ini masih banyak sekolah di NTT dalam kondisi rusak parah, bahkan ambruk, namun tetap dipaksakan untuk kegiatan belajar mengajar.

”Banyak guru hanya bertahan dua sampai tiga tahun. Tidak ada tunjangan khusus sebagaimana profesi lain. Kondisi ini jelas berdampak pada kualitas dan keberlanjutan pendidikan anak-anak kita di sana,” sesalnya.

Untuk itu, Habib Syarief mengingatkan pemerintah konsisten menjalankan mandatory spending pendidikan sebesar 20 persen dari APBN dan APBD. Dia menilai, selama anggaran tersebut tidak dialokasikan secara konsekuen, kebijakan pendidikan akan terus bersifat tambal sulam dan tidak menyentuh akar masalah, khususnya di daerah terpencil.

”Ketidakkonsistenan anggaran membuat pendidikan kita tidak merata. Harus ada komitmen bersama antara pusat dan daerah agar kebutuhan dasar anak untuk belajar terpenuhi di seluruh pelosok negeri. Jangan sampai ada lagi anak yang kehilangan nyawa karena persoalan alat tulis,” tegasnya.

Editor: Bintang Pradewo

Tag:  #buntut #kasus #anak #bunuh #diri #ngada #komisi #desak #pemerintah #jadikan #kawasan #jadi #prioritas #pendidikan

KOMENTAR