PDI-P Minta Negara Jaga Suara Rakyat di Pemilu, seperti Publik Percaya M-Banking
- Anggota Komisi II DPR Fraksi PDI-P Romy Soekarno menegaskan bahwa ancaman terhadap pemilu saat ini telah bersifat sistemik, mulai dari manipulasi data, serangan siber, hingga penurunan kepercayaan publik.
Dia menilai, pemilu tidak lagi dapat dipandang semata sebagai prosedur elektoral, melainkan infrastruktur digital strategis negara.
Romy pun meminta negara menjaga suara rakyat dalam pemilu ke depannya.
“Suara rakyat adalah transaksi politik paling bernilai. Ia harus dijaga dengan standar keamanan setara sistem perbankan nasional,” ujar Romy dalam siaran pers, Kamis (5/2/2026).
Baca juga: Pakar Minta DPR Tolak Pemilu E-Voting: Negara Maju Saja Tidak Mau
Romy mengatakan, sebagaimana masyarakat mempercayai M-Banking karena arsitektur keamanannya, kepercayaan publik terhadap pemilu hanya dapat dijaga melalui sistem yang aman, terenkripsi, diaudit berlapis, dan tidak dapat dimanipulasi.
Dia menilai, e-voting adalah visi jangka panjang, sementara e-counting merupakan jalan tengah yang paling rasional dan konstitusional saat ini.
Selanjutnya, Romy mengingatkan bahwa demokrasi digital tidak boleh dibangun dengan enkripsi kemarin sore. Pasalnya, kata dia, keamanan pemilu tidak boleh berpikir jangka pendek.
"Dalam konteks ini, kita tidak kekurangan kapasitas nasional: kita memiliki satelit nasional milik Telkom Indonesia, satelit BRI, jaringan data backbone nasional, pusat data nasional, dan pengalaman mengelola transaksi digital bernilai triliunan rupiah setiap hari melalui perbankan nasional seperti Bank Rakyat Indonesia," paparnya.
Baca juga: Pembahasan Musiman Ambang Batas Parlemen Jelang Revisi UU Pemilu
"Kalau uang rakyat bisa diamankan secara digital, tidak ada alasan suara rakyat tidak bisa diamankan dengan standar yang sama, bahkan lebih tinggi," sambung Romy.
Menurut Romy, arsitektur demokrasi digital tidak akan pernah kuat jika tidak disertai penempaan mental dan karakter pemilih.
Oleh karena itu, tegas Romy, reformasi pemilu harus berjalan dua kaki, yakni menghadirkan teknologi yang kuat, serta manusia yang matang secara mental dan moral.
“Inilah yang saya sebut mental and character building of voters: pemilih yang rasional, berani menolak politik uang, tahan terhadap disinformasi, dan sadar bahwa suaranya adalah amanah konstitusi, bukan komoditas politik. Melindungi suara rakyat di era digital adalah tanggung jawab negara dan sejarah kita bersama,” imbuh cucu Presiden ke-1 Soekarno ini.
Tag: #minta #negara #jaga #suara #rakyat #pemilu #seperti #publik #percaya #banking