Biaya Hidup Tinggi, Banyak Pasangan Ragu Menikah
Ilustrasi(FREEPIK)
17:05
5 Februari 2026

Biaya Hidup Tinggi, Banyak Pasangan Ragu Menikah

– Situasi ekonomi yang sulit membuat banyak orang muda dari kelas menengah harus cermat mengatur pengeluaran. Jangankan untuk menabung, untuk biaya hidup sehari-hari pun serba ngepas.

Kondisi tersebut membuat banyak orang muda berpikir ulang untuk segera menikah, meski secara umur sebenarnya sudah pantas.

Dalam satu dekade terakhir, dinamika pernikahan di Indonesia menunjukkan perubahan yang cukup mencolok. 

Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah pernikahan yang sempat berada di kisaran 2,1 juta peristiwa pada 2014, kini menyusut signifikan. 

Penurunan ini kerap dikaitkan dengan perubahan prioritas generasi muda, termasuk meningkatnya kesadaran terhadap kesiapan finansial sebelum menikah.

Baca juga: Angka Pernikahan Menurun, Kesiapan Finansial Jadi Tolak Ukur Menikah

Biaya hidup minimal jadi titik awal diskusi

Konsultan keuangan keluarga, Dea Arvina Ermacasnia menilai, perhitungan biaya hidup minimal memiliki pengaruh besar dalam keputusan menikah pasangan saat ini. 

“Pengaruh itu menurutku sangat besar. Sekarang banyak pasangan yang lebih realistis, mereka akan hitung dulu biaya hidup minimal, seperti makan, tempat tinggal, transport, tabungan darurat,” ungkap Dea, saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (4/2/2026).

Menurut Dea, pasangan masa kini cenderung tidak lagi mengandalkan asumsi bahwa kondisi keuangan akan otomatis membaik setelah menikah. 

Mereka justru memilih memetakan kebutuhan paling dasar sejak awal, sebagai fondasi kehidupan bersama. 

Meski demikian, Dea menegaskan, tidak ada angka pasti mengenai biaya hidup minimal karena kebutuhan dan penghasilan setiap orang berbeda.

Baca juga: 6 Persiapan Pernikahan yang Wajib Diketahui Menurut Pakar

Bukan harus kaya tapi cukup untuk hidup berkelanjutan

Dea menambahkan, pergeseran standar kesiapan menikah tidak selalu berarti tuntutan untuk mapan secara finansial. 

“Bukan soal harus mapan dulu, tapi soal cukup dan berkelanjutan. Kesiapan menikah bergeser dari punya tabungan besar menjadi punya sistem keuangan yang sehat,” katanya.

Sistem keuangan yang sehat mencakup kemampuan mengelola pemasukan, pengeluaran, dan risiko, sehingga pasangan tidak hidup dalam tekanan finansial sejak awal pernikahan. 

Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, stabilitas dinilai lebih penting daripada jumlah tabungan semata.

Baca juga: Tren “Rp 10.000 di Tangan Istri yang Tepat”, Keterampilan Istri atau Masalah Ekonomi?

Biaya minimal sebagai gerbang menikah

Pandangan serupa disampaikan perencana keuangan profesional, Rista Zwestika Reni. Ia menyebut biaya hidup minimal kini berperan sebagai penyaring utama sebelum seseorang memutuskan menikah. 

“Sangat besar, bahkan jadi gatekeeper utama. Biaya hidup minimal itu bukan hidup mewah, tapi makan layak, tempat tinggal, transport, kesehatan, dan dana darurat kecil,” ujar Rista.

Rista mengungkap, proses menghitung kebutuhan dasar sering kali menjadi momen refleksi bagi pasangan. 

“Saat orang menghitung dan sadar, akan terbesit di benak ‘oh, buat hidup berdua aja segini ya’,” katanya.

Kesadaran tersebut tidak jarang memicu keputusan untuk menunda pernikahan. Jika tidak, banyak pasangan akan tetap menikah dengan rasa cemas karena tidak memiliki kondisi finansial yang stabil.

Baca juga: 6 Tips Menyiapkan Dana Pendidikan Anak meski Ekonomi Sedang Lesu

Tak defisit setiap bulan

Rista menekankan, inti dari kesiapan finansial bukanlah jumlah harta yang dimiliki, melainkan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. 

“Di situlah banyak yang menunda menikah atau menikah tapi penuh kecemasan. Intinya bukan soal punya banyak, tapi tidak defisit setiap bulan,” ucapnya.

Baik Dea maupun Rista sepakat bahwa tidak ada standar biaya hidup minimal yang ideal untuk semua pasangan. 

Namun, pengaruhnya terhadap keputusan menikah sangat besar. Di tengah tekanan ekonomi, menghitung kebutuhan dasar menjadi cara pasangan memastikan pernikahan dijalani dengan lebih tenang, realistis, dan berjangka panjang.

Baca juga: Saat Semua Serba Mahal, Pengeluaran Mana yang Harus Dipangkas?

Tag:  #biaya #hidup #tinggi #banyak #pasangan #ragu #menikah

KOMENTAR