Pakar Psikologi Forensik Sebut Bunuh Diri Anak di NTT Bukan Fenomena Biasa
–Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, kasus bunuh diri anak di NTT bukan fenomena biasa. Peristiwa mengenaskan itu harus dipahami seluruh pemangku kepentingan agar tak terulang.
Menurut dia, anak-anak yang kesulitan membeli alat tulis bisa jadi adalah fenomena biasa. Ada yang lebih parah banyak yang bahkan sampai tidak bisa bersekolah. Lebih parah lagi banyak yang tidak bisa makan.
”Tapi mereka tidak bunuh diri. Jadi, kalau mau buka hati, sesungguhnya bukan masalah anak tidak bisa beli alat tulis yang membuat geger,” papar Reza Indragiri Amriel.
Menurut dia, peristiwa menyedihkan sekaligus menakutkan ini sebaiknya diperhatikan Presiden dengan secermat mungkin. Pasalnya, ini kontras dengan gembar-gembor salah kaprah bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia sedunia.
Reza menjelaskan, kesedihan (ketidakgembiraan) harus dilihat sebagai spektrum. Bukan biner atau hitam putih. Jadi, ada skala mulai dari yang agak sedih sampai yang paling sedih. Pada tingkatan kesedihan terparah, terjadilah keputusasaan yang hanya bisa diobati pelaku dengan mengakhiri hidupnya sendiri.
Dia mengatakan, warga yang kesedihannya berada pada level di bawah itu pasti sangat banyak. ”Tapi apakah kita memerhatikan populasi yang sesungguhnya amat sangat banyak itu? Pasti tidak. Kita sudah mati rasa terhadap penderitaan yang baru sebatas itu. Kita hanya terperanjat ketika merespon kesengsaraan terekstrim, seperti yang terjadi pada anak NTT itu,” tutur Reza Indragiri Amriel.
”Kita boleh pilih, apa simpulan yang pas untuk memotret kemalangan berujung tragedi pada bocah NTT itu,” imbuh dia.
Reza menyatakan, bunuh diri merupakan ujung akhir dari duka nestapa yang terus bereskalasi dari waktu ke waktu (kronis). Karena kronis, semestinya kematian bisa dicegat jika cukup awas mengamati perubahan tabiat anak. Mulai dari pemunculan pemikiran tentang bunuh diri, dan seterusnya.
”Pusat masalah mereka berada di afeksi. Kalau simpulan itu yang kita iyakan, bisa dibayangkan betapa tingginya risiko anak-anak Indonesia bunuh diri. Mereka yang tidak kunjung bersekolah, mereka yang lapar berkepanjangan, mereka yang penyakitnya semakin parah, bisa dipahami sebagai anak-anak yang terus bergerak menuju titik pembuatan keputusan terekstrim seperti anak NTT tadi,” terang Reza Indragiri Amriel.
Selanjutnya menurut dia, bunuh diri lebih sebagai wujud depresi reaktif. Mirip depresi, tapi pemunculannya sekonyong-konyong. Jadi, langsung terbitnya keputusan untuk bunuh diri lebih disebabkan keterbatasan wawasan seseorang untuk menemukan solusi-solusi konstruktif atas persoalan yang saat itu tengah dihadapi.
”Persoalannya, anggaplah tidak terlalu berat. Tapi pengetahuannya akan opsi-opsi jalan keluar masih terlalu minim. Jadi, pokok masalahnya ada pada kognisi,” ujar Reza.
”Apa pun itu, betapa pilunya kita menangkap warna altruistis pada peristiwa bunuh diri murid SD di NTT itu. Dia mengakhiri hidupnya sendiri guna mengurangi beban hidup orang yang dia sayangi. Seketika terbayang lagu Iwan Fals Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu. Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal,” sambung dia.
Tag: #pakar #psikologi #forensik #sebut #bunuh #diri #anak #bukan #fenomena #biasa