Jepang Uji Coba Terapi Anime untuk Bantu Atasi Depresi
Jepang melakukan uji coba terapi anime untuk bantu mengatasi depresi. Ide ini berasal dari psikiater asal Italia, Francesco Panto yang memimpin penelitian di Yokohama City University, Jepang.
Sewaktu tinggal di pedesaan di Sisilia, Italia, Panto remaja merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan di daerah itu. Sebab, lingkungan tempat tinggalnya memiliki stereotip yang kuat terkait gender dan membatasi cara seseorang mengekspresikan diri secara bebas.
- Jepang Kembangkan Ruang Shalat Portabel untuk Wisatawan Muslim
- Usia Rata-rata Hikikomori di Jepang Meningkat, Lansia 90 Tahun Harus Urus Anak Usia 60 Tahun
"Manga dan anime sangat membantu saya... keduanya merupakan sarana yang sangat penting sebagai penopang emosional," kata Panto, dikutip dari AFP, Sabtu (23/5/2026).
Dunia Panto berubah usai bermain video game Final Fantasy. Ia merasa karakter laki-laki di game tersebut beresonansi dengan dirinya.
Saat ini Panto tinggal dan bekerja di Jepang. Dia percaya anime bisa membawa manfaat besar bagi kesehatan mental orang lain.
- Shinkansen di Jepang Telat 3 Menit akibat Kondektur Ketiduran, JR East Minta Maaf
- Ini Strategi Jepang agar Warganya Punya Paspor dan Rajin ke Luar Negeri
Jepang uji coba terapi anime untuk bantu atasi depresi
Konseling berbasis karakter anime
Jepang tengah uji coba terapi menggunakan avatar anime untuk membantu mengatasi depresi di kalangan anak muda.
Uji coba yang dipimpin Panto bertajuk character-based counselling (konseling berbasis karakter) yang dilakukan selama enam bulan. Uji coba tahap pertama ini selesai pada Maret 2026 lalu.
Tim peneliti mengumpulkan 20 orang peserta, dengan rentang usia usia 18 sampai 29 tahun, dan memiliki gejala depresi.
Para peserta kemudian mendapatkan layanan konseling secara online (daring), tapi tanpa menghadapkan mereka langsung dengan wajah asli psikolog. Psikolog yang bertugas muncul di layar monitor dalam bentuk avatar anime, dengan suara asli yang diubah secara digital.
Panto menyebut metode ini sebagai "filter of fantasy" (fantasi filter), yang ia yakini bisa membuat pikiran pasien menjadi lebih tenang, nyaman, dan lebih mudah mengenali masalah diri mereka sendiri. Hasil uji coba ini diharapkan bisa memperkuat teori tersebut.
Tim peneliti membuat enam karakter anime yang berbeda untuk studi ini. Karakter ini dibuat berdasarkan arketipe yang sering ada dalam manga Jepang, dengan masalah mental yang spesifik. Para peserta pun bebas memilih karakter yang paling mereka sukai.
"Saya berusaha menanamkan pergulatan batin tertentu pada setiap karakter. Salah satu karakternya bernama Kuroto Nagi. Dia memiliki ciri-ciri kepribadian bipolar," ucap Panto.
Meskipun demikian, avatar ini tetap dibuat dengan konsep yang menyenangkan. Psikolog akan menceritakan kisah latar belakang karakter pada awal sesi tanpa menunjukkan masalah kesehatan mental secara berlebihan.
Bangkitkan semangat hidup
Jepang tengah uji coba terapi menggunakan avatar anime untuk membantu mengatasi depresi di kalangan anak muda.
Uji coba ini menarik perhatian seorang game developer dan penggemar anime berusia 24 tahun yang namanya tak bisa diungkap berdasarkan aturan uji coba.
Peserta ini tertarik bergabung setelah membaca deskripsi salah satu karakter terapi yang digambarkan sedang mencari kekuatan sejati dalam hidupnya.
"(Karakter itu) membuat saya merasa seolah-olah hal itu bisa membantu saya mendekati jawaban atas masalah-masalah saya sendiri," tutur dia.
Penelitian tahap pertama ini melacak kondisi fisik para peserta dengan detail, termasuk detak jantung dan pola tidur mereka setiap hari. Tujuan utamanya adalah menguji kelayakan dari terapi anime ini.
Panto bahkan berencana mengembangkan terapi ini menggunakan teknologi AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan). Dengan demikian, proses terapi ke depannya bisa berjalan tanpa bantuan psikolog manusia secara langsung.
- Penerbangan dan Permintaan Pariwisata China-Jepang Turun, Apa Sebabnya?
- Tren Baru Wisata Jepang: Turis Asing Ramai ke Salon Rambut, Kenapa?
Stigma kesehatan mental anak muda di Jepang
Suasana di salah satu destinasi wisata populer Dotonburi di Osaka, Jepang, Senin (6/11/2023). Jepang tengah uji coba terapi menggunakan avatar anime untuk membantu mengatasi depresi di kalangan anak muda.
Proyek ini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi tantangan mental di Negeri Sakura. Masyarakat Jepang mengenal istilah sosial bernama ikizurasa yang menggambarkan kondisi seseorang yang merasa sulit untuk hidup di tengah masyarakat.
"Ada banyak anak muda yang tidak bisa bersekolah atau melanjutkan pekerjaan mereka. Jadi tujuan kami adalah memberi mereka... pilihan baru untuk bangkit dari kesulitan yang mereka hadapi," ucap asisten profesor dalam proyek ini, Mio Ishii.
Saat ini stigma untuk mencari bantuan kesehatan mental di Jepang masih sangat tinggi. Berdasarkan data dari situs World Economic Forum tahun 2022, angka konseling di Jepang sangat rendah yakni hanya ada enam persen orang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis.
Ishii menaruh harapan besar pada masa depan terapi anime ini.
"Karena biasanya orang-orang memiliki stigma dan hambatan psikologis untuk meminta bantuan terkait kesehatan mental mereka. Namun, anime atau teknologi dapat mengurangi hal-hal tersebut," tutur dia.
Tag: #jepang #coba #terapi #anime #untuk #bantu #atasi #depresi