NGERI! Benarkah Jeffrey Epstein Menamai Rekening Banknya ‘Baal’ di tengah Narasi ‘Pengorbanan Manusia, Begini Faktanya!
— Rilis terbaru berkas investigasi Epstein Files oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (U.S. Department of Justice/DOJ) kembali menarik perhatian global. Selain jumlah dokumen yang terbuka, perhatian publik tertuju pada istilah yang viral di media sosial yakni nama ‘Baal’.
Istilah ini muncul dalam salah satu dokumen finansial yang tampak mencantumkan nama Baal di samping nama bank, memicu klaim ekstrem tentang aktivitas ritual yang tidak berdasar.
Pada Jumat (30/1/2026), DOJ merilis bagian terakhir dari arsip dokumen yang terkait jaringan sosial, transaksi, dan komunikasi Jeffrey Epstein—terpidana perdagangan seks anak yang meninggal di penjara pada 2019. Publikasi ini adalah bagian dari penerapan Epstein Files Transparency Act, yang memerintahkan pembukaan semua materi yang relevan terhadap kasus tersebut.
Salah satu halaman yang menjadi sorotan publik dalam dokumen Epstein terbaru itu menampilkan baris yang tertulis “Baal name”, diikuti oleh nama Wachovia Bank, N.A. Tangkapan layar dokumen ini tersebar luas di platform X (sebelumnya Twitter) dan langsung memicu gelombang spekulasi liar tentang arti istilah tersebut serta dugaan keterkaitannya dengan praktik ekstrem, padahal dokumen itu hanyalah catatan transaksi finansial.
Dilansir dari Hindustan Times, Rabu (4/2/2026), sejumlah unggahan media sosial mengaitkan istilah itu dengan penyembahan makhluk supranatural dan praktik pengorbanan anak. Salah satunya berasal dari akun X @AdameMedia, yang menulis:
“Baal adalah makhluk supranatural yang disembah di Israel kuno oleh beberapa orang Ibrani sebelum mereka berpindah ke Yudaisme. Pengorbanan anak adalah ritual yang dilakukan para penyembah Baal…”
Unggahan viral lainnya berasal dari akun @andyphylany, yang menyatakan:
“Kasus Epstein ini terlalu dalam dan ekstrem… para pemimpin tersebut dulu mengorbankan bayi dengan membakarnya untuk dewa mereka yang disebut Baal. Dokumen menyebut negara seperti Arab Saudi, India, Inggris, dan lain-lain. Tidak mengherankan, akun yang disebut MKP tetap diam mengenai Genosida di Gaza. Jika Iran terus menentang, Israel akan merilis lebih banyak berkas.”
Namun perlu dicatat, semua klaim tersebut berasal dari opini pemilik akun media sosial warganet dan tidak ada bukti sah yang mendukung, sehingga tetap masuk dalam kategori teori konspirasi dan spekulatif.
Adapun menurut pemeriksaan yang dipublikasikan oleh Sunday Guardian Live, frasa “Baal.name” dalam dokumen Epstein kemungkinan besar merupakan kesalahan pembacaan teks otomatis (OCR), di mana istilah yang seharusnya “Bank Name” salah terbaca menjadi ‘Baal name’. Nama akun yang sebenarnya tercantum dalam dokumen adalah One Clearlake Centre, LLC, bukan entitas mistik atau supranatural apa pun.
Pemeriksaan oleh Media Bias/Fact Check juga menegaskan: “Dokumen yang dikutip tidak mencantumkan rekening bernama ‘Baal.’ Frasa tersebut muncul di baris yang seharusnya berisi ‘Nama Bank’ dan diikuti oleh ‘Wachovia Bank.’ Satu-satunya nama rekening yang tercantum adalah ‘One Clearlake Centre, LLC.’”
Namun, pembahasan tentang Baal dengan cepat menyebar di dunia maya. The Times of India menyoroti fenomena viral ini dari perspektif sejarah, mencatat bahwa secara tradisional, Baal adalah salah satu dewa penting dari kepercayaan kuno Timur Tengah, khususnya bangsa Canaan, yang berarti pemilik atau tuan.
Baal dalam konteks kepercayaan bangsa Canaan sering dikaitkan dengan hujan, badai, dan kesuburan, dan dianggap berperan dalam menjamin kesuburan tanah dan hasil panen. Dengan demikian, Baal bukanlah entitas iblis seperti yang sering digambarkan dalam teori konspirasi modern; interpretasi tersebut muncul dari kesalahpahaman konteks sejarah dan budaya kuno.
Selain itu, laporan The Times of India menjelaskan bahwa ketika kata Baal muncul dalam dokumen yang dipindai, banyak pengguna media sosial online langsung menafsirkan istilah itu sebagai bukti keterlibatan Epstein dalam praktik okultisme, padahal ini kemungkinan besar adalah kesalahan pemindaian yang salah membaca ‘Bank Name’ di dokumen asli.
Artinya, meskipun istilah Baal menjadi pusat perdebatan di media sosial, tidak ada bukti sah bahwa Epstein pernah menamai rekening banknya dengan nama dewa kuno atau entitas lain. Sebaliknya, para ahli sejarah dan pemeriksa fakta menilai interpretasi itu muncul karena kekosongan konteks yang kemudian diisi narasi sensasional oleh publik daring yang terhubung dengan teori konspirasi.
Selain kontroversi terkait Baal, rilis dokumen Epstein Files juga memunculkan diskusi yang lebih substansial. Beberapa dokumen mengungkap korespondensi, foto, dan daftar kontak tokoh publik serta elite sosial global, yang menjadi fokus utama bagi media internasional dan pantas mendapat sorotan lebih luas. Data ini mencakup email, foto, dan interaksi yang memicu pertanyaan tentang jaringan sosial luas Epstein, termasuk nama-nama tokoh berpengaruh dari berbagai belahan dunia.
Namun, otoritas hukum tetap menekankan bahwa adanya nama nama yang disebut dalam dokumen Epstein Files bukan bukti keterlibatan kriminal individu tersebut, melainkan lebih terkait korespondensi atau interaksi sosial yang dicatat dalam dokumen investigasi.
Pada akhirnya, fenomena spekulasi ini mencerminkan bagaimana publik sering mengisi kekosongan informasi dengan narasi dramatis, terutama terkait kasus yang sudah lama menjadi sumber teori konspirasi dan penafsiran ekstrem seperti kasus Jeffrey Epstein.
Kejadian ini menekankan betapa pentingnya verifikasi fakta dan pemahaman konteks sebelum menarik kesimpulan atau mengaitkan istilah-istilah sejarah dengan dokumen hukum modern. Hal ini menjadi semakin krusial di era media sosial, di mana informasi sensasional bisa tersebar dengan cepat, dan tidak semua yang terlihat di media sosial sebaiknya langsung dipercaya tanpa bukti yang kuat.
Tag: #ngeri #benarkah #jeffrey #epstein #menamai #rekening #banknya #baal #tengah #narasi #pengorbanan #manusia #begini #faktanya