Istana Prihatin atas Tragedi Siswa SD di NTT Bunuh Diri
Mensesneg Prasetyo Hadi mengatakan, pemerintah ikut prihatin dengan peristiwa anak SD bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tidak mampu membeli pena dan buku.
“Terus terang saja kita sangat prihatin dengan adanya kejadian yang menimpa adik kita,” ujar Prasetyo Hadi saat ditemui di Kantor Bappenas, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Prasetyo menegaskan, peristiwa itu menjadi peringatan keras bagi pemerintah untuk memastikan hal serupa tidak lagi terjadi di masa depan.
“Maka sebagai sebuah tanggung jawab kita sebagai pemerintah, sebagai bangsa, mari kita menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan pembelajaran yang sangat keras kepada kita untuk ke depan memastikan hal-hal yang seperti ini tidak terjadi kembali,” lanjut Prasetyo.
Baca juga: Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Tamparan Keras soal Perlindungan Anak
Dari peristiwa ini, permasalahan ekonomi yang terjadi menjadi atensi pemerintah.
Prasetyo mengatakan, saat ini pemerintah masih mencari cara untuk memastikan masyarakat yang berada di garis kemiskinan bisa ditingkatkan.
“Bagaimana caranya memang kita harus bekerja dengan sangat cepat, bekerja keras untuk memastikan saudara-saudara kita yang masih berada di bawah standar garis kemiskinan ini harus bisa segera teratasi dengan berbagai cara,” lanjutnya.
Prasetyo mengatakan, pemerintah tengah mengupayakan sejumlah program untuk mengintervensi masalah kemiskinan.
Program yang disediakan juga berupa pemberdayaan masyarakat.
“Ada yang menggunakan intervensi program-program dari pemerintah, ada yang kemudian kita berusaha untuk melakukan pemberdayaan,” imbuhnya.
Baca juga: Kementerian PPPA Beri Pendampingan Psikologis untuk Keluarga Siswa NTT yang Meninggal
Prasetyo menyinggung soal pembentukan Kemenko Pemberdayaan Masyarakat di masa pemerintahan Prabowo.
Dia menjelaskan, pembuatan kementerian koordinasi ini salah satunya untuk mengupayakan masyarakat penerima bantuan sosial (bansos) naik kelas.
“Kita juga ingin menghendaki bahwa ada satu tahapan untuk masyarakat kita yang selama ini menerima bantuan-bantuan sosial dari pemerintah pada akhirnya kita ingin juga naik kelas,” kata Prasetyo.
“Naik kelas artinya berdaya, memiliki kemampuan, memiliki lapangan pekerjaan yang cukup untuk hidup layak,” lanjutnya.
Dikutip dari Kompas.id, dalam artikel berjudul, "Anak SD Bunuh Diri lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara", kematian YBS (10), yang diduga akibat bunuh diri, adalah tragedi kemanusiaan.
Siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, itu putus asa dengan keadaan yang dialaminya.
Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya MGT (47) menjawab: mereka tak punya uang.
Bagi keluarga mereka, mendapatkan uang dengan nominal itu memang tidak mudah.
Rp 10.000 saja sulit bagi mereka yang tergolong masyarakat miskin.
MGT bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.
Ia janda yang menafkahi lima anak.
Bahkan, untuk mengurangi beban MGT, korban diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok.
Tak jauh dari pondok itulah korban mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkih pada Kamis (29/1/2026).