Lifting Minyak Masih Rendah, IESR: RI Tak Mampu Kurangi Impor BBM
Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM).(SHUTTERSTOCK/jittawit21)
21:04
10 Januari 2026

Lifting Minyak Masih Rendah, IESR: RI Tak Mampu Kurangi Impor BBM

Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai capaian lifting minyak bumi Indonesia masih belum cukup kuat untuk menekan ketergantungan terhadap impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).

Penilaian ini disampaikan merespons laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait realisasi lifting minyak sepanjang 2025.

“Walaupun dilaporkan lifting minyak bumi sedikit di atas target (0,3 persen), namun target 2025 sebesar 605.000 bph sangat rendah, jauh di bawah target lifting minyak bumi 2024 sebesar 635.000 bph,” kata Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa dalam keterangan resmi, Sabtu (10/1/2026).

Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa diwawancarai terkait tantangan bauran EBT Jateng di Semarang, Kamis (6/2/2025).KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa diwawancarai terkait tantangan bauran EBT Jateng di Semarang, Kamis (6/2/2025).Kementerian ESDM mencatat rata-rata lifting minyak bumi, termasuk Natural Gas Liquid (NGL), pada 2025 mencapai 605.300 barrel per hari (bph), sedikit melampaui target APBN 2025 sebesar 605.000 bph.

Angka tersebut lebih baik dibandingkan realisasi 2024 yang berada di kisaran 579.700 bph, meski masih di bawah target APBN 2024 sebesar 635.000 bph.

Fabby menilai capaian tersebut tidak bisa serta-merta dianggap positif. Menurut dia, target lifting minyak 2025 sendiri sudah dipatok sangat rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Sejak 2020, target lifting minyak terus diturunkan dari 707.000 bph. Dibandingkan 2020, target lifting minyak turun sebesar 14,4 persen di 2025,” kata dia.

Fabby juga menyoroti metodologi perhitungan lifting minyak yang digunakan pemerintah.

Dalam laporan 2025, Kementerian ESDM memasukkan NGL sebagai bagian dari lifting minyak bumi, padahal karakteristik NGL berbeda dengan minyak mentah. Ia menilai, tanpa memasukkan NGL, besar kemungkinan realisasi lifting minyak tidak mencapai target.

Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.SHUTTERSTOCK/DED PIXTO Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.

“Jika tanpa memasukkan NGL, kemungkinan volume lifting minyak bumi tidak sesuai target mengingat dalam pelaporan semester I-2025, terdapat perbedaan angka total lifting minyak bumi di bulan Juni yang dicatat Kementerian ESDM (608.100 bph) dan SKK Migas (579.300 bph), di mana SKK Migas tidak memasukkan NGL,” jelasnya.

Lebih jauh, Fabby menyebut target dan realisasi lifting minyak nasional semakin menjauh dari ambisi produksi 1 juta bph pada 2030 yang pernah dicanangkan pemerintahan sebelumnya. Bahkan, target lifting 2026 yang dipatok di angka 610.000 bph dinilai masih jauh dari kebutuhan untuk menekan impor.

“Dengan kondisi seperti ini, Indonesia masih belum mampu mengurangi kenaikan impor minyak mentah dan BBM yang rata-rata mencapai sekitar 1 juta barrel per hari,” tegas Fabby.

Tag:  #lifting #minyak #masih #rendah #iesr #mampu #kurangi #impor

KOMENTAR