Robot Menari Tiongkok Jadi Peringatan Keras bagi Australia, Kebijakan dan Produktivitas Dipertaruhkan di Era AI
— Pertunjukan robot humanoid yang menari, melakukan kung fu, dan tampil dalam sketsa komedi pada gala Tahun Baru Imlek di Tiongkok bukan sekadar hiburan. Robot-robot canggih ini mampu melakukan koreografi kompleks di sekitar manusia dengan presisi tinggi, sekaligus menjadi sinyal bahwa kecerdasan buatan kini meluas dari ranah digital ke ranah fisik industri.
Televisi negara Tiongkok menampilkan gerakan serentak robot di dekat anak-anak, sementara media sosial dipenuhi meme tentang “mesin menggantikan manusia.” Namun, seperti dilansir The Conversation, Rabu (25/2/2026), pesan Beijing jauh lebih strategis: robot menjadi pusat strategi penerapan AI terintegrasi dalam agenda industrialisasi Tiongkok.
Gala ini bertepatan dengan persiapan Two Sessions, pertemuan tahunan parlemen dan badan penasihat yang dijadwalkan awal Maret. Pemerintah diperkirakan akan mengesahkan Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) sebagai rencana panduan strategis untuk prioritas kebijakan dan pendanaan. Pertunjukan robot menjadi indikator arah pengembangan teknologi Tiongkok dan kesiapan industrialisasi AI.
Fokus utama strategi ini adalah pengembangan robotika berbasis embodied intelligence, atau kecerdasan berwujud yang memungkinkan mesin bergerak dan merespons dunia nyata. Mengutip The Conversation, “Embodied intelligence adalah robotika bertenaga AI atau sistem AI yang tertanam dalam mesin yang dapat bergerak dan merespons di dunia nyata.”
Robot ini tidak hanya memproses data, tetapi juga menyeimbangkan diri, bekerja aman di sekitar manusia, dan menyesuaikan diri saat terjadi kegagalan. Tiongkok melihat robotika sebagai alat untuk mengimbangi populasi menua dan meningkatkan “new quality productive forces”, atau lonjakan produktivitas berbasis AI.
Dalam konteks ini, robot-robot humanoid buatan empat perusahaan terkemuka—Unitree, Galbot, Noetix, dan MagicLab—dipamerkan pada gala tersebut. Langkah ini menandai persaingan di ekosistem industri yang berkembang pesat. Pada akhir 2024, tercatat 451.700 perusahaan robotika cerdas di Tiongkok, termasuk lebih dari 150 yang fokus pada humanoid, semuanya didukung miliaran dolar AS dari modal ventura dan pendanaan pemerintah.
Namun, pendiri Unitree, Wang Xingxing, menegaskan keterbatasan teknologi: “Sulit membangun satu ‘otak’ robot yang bekerja di setiap rumah karena kondisi sangat bervariasi. Penggunaan awal lebih realistis di pabrik dan tur terpandu.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa implementasi skala luas masih memerlukan adaptasi lingkungan dan pengujian ketat.
Kemajuan robot Tiongkok tersebut menjadi peringatan bagi negara-negara mitra dagang, termasuk Australia, bahwa persaingan AI bergerak cepat dan berdampak langsung pada produktivitas nasional. Saat ini, debat AI di Canberra masih fokus pada model bahasa berbasis cloud dan chatbot, sementara produktivitas stagnan. Kekurangan tenaga kerja di perawatan lansia, pertambangan jarak jauh, dan pertanian membuka peluang nyata untuk robot humanoid.
Sementara itu, pemerintah federal Australia telah menerbitkan National AI Plan dan National Robotics Strategy. Namun, seperti dikutip The Conversation, langkah ini “tidak cukup sebagai strategi untuk membangun dan menerapkan robotika berbasis kecerdasan berwujud.”
Dengan Tiongkok bergerak cepat dari panggung ke produksi pabrik, waktu menjadi faktor paling krusial. Standar keselamatan, perlindungan data, dan penyaringan pemasok kini tidak hanya soal keamanan, tetapi juga berdampak pada perdagangan Australia–Tiongkok. Australia harus bertindak cepat agar tidak tertinggal dalam industrialisasi AI berskala besar.
Tag: #robot #menari #tiongkok #jadi #peringatan #keras #bagi #australia #kebijakan #produktivitas #dipertaruhkan