Industri Kosmetik RI Masih Minim Riset dan Inovasi
– Industri kecantikan di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk perawatan kulit dan tubuh, termasuk kosmetik dan skincare.
Banyaknya pilihan produk, terutama yang mengusung bahan alami, membuat produk kosmetik lokal makin diminati. Namun, di balik tren tersebut, pengembangan produk berbasis riset dan inovasi dinilai masih belum maksimal.
Menurut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., industri kosmetik nasional terus berkembang dengan nilai pasar yang besar.
Baca juga: Cara Cek Skincare Aman Menurut BPOM, Terapkan Langkah Cek, Klik
“Kosmetik kita itu tumbuhnya 4,7 persen setiap tahun. Pangsa pasar kosmetik kita itu Rp 138 triliun pada 2025 kemarin,” katanya saat ditemui usai acara Nose Innovation Day di Kelapa Gading, Senin (23/2/2026).
Meski demikian, angka tersebut dinilai masih belum mencerminkan potensi yang sebenarnya.
“Potensi ekonominya sekitar Rp 158 triliun. Artinya, masih ada selisih kurang lebih Rp 20 triliun,” jelasnya.
Bahan Alami Melimpah, Tapi Belum Maksimal
Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia memiliki kekayaan bahan alami yang melimpah, termasuk sekitar 31.000 jenis tumbuhan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik maupun obat tradisional.
Selain dari tumbuhan, bahan aktif juga dapat berasal dari sumber lain seperti mineral maupun komponen alami lainnya.
Baca juga: Mengenal Bahan Skincare Alami dari Hutan Kalimantan dan Manfaatnya
Potensi ini membuat produk kosmetik lokal memiliki peluang besar untuk berkembang, terutama dengan tren penggunaan bahan alami yang makin diminati konsumen.
“Potensi pasar kita luar biasa karena didukung sumber daya alam yang luar biasa,” ujar Taruna.
Namun, potensi tersebut tidak otomatis menghasilkan produk yang efektif tanpa didukung dengan riset yang memadai.
Baca juga: ParagonCorp Gabungkan Beauty Advisor dan AI untuk Analisis Kulit yang Lebih Akurat
Riset dan Inovasi Masih Terbatas
Menurut Taruna, salah satu tantangan utama dalam pengembangan kosmetik di Indonesia adalah masih terbatasnya riset dan inovasi yang dapat dikembangkan menjadi produk.
Padahal, Indonesia memiliki ribuan perguruan tinggi yang seharusnya dapat menjadi pusat lahirnya inovasi.
“Kita punya sekitar 4.416 kampus. Tapi kampus bukan hanya tempat belajar, harus jadi pusat inovasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kampus sebenarnya memiliki potensi besar dalam menghasilkan inovasi, tetapi masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan pendanaan dan fasilitas riset.
Di sisi lain, sektor industri dinilai memiliki dukungan finansial yang kuat, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan hasil riset dari dunia akademik.
Baca juga: Tekan Angka Kematian Kanker, Kalbe Kembangkan Produksi Radioisotop dan Radiofarmaka di Sidoarjo
Akibatnya, banyak inovasi yang dihasilkan di lingkungan kampus belum berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Selain itu, banyak bahan alami yang telah digunakan secara turun-temurun, tetapi belum semuanya memiliki bukti ilmiah terkait manfaatnya.
“Keamanannya sudah terjamin karena dipakai sejak lama. Sekarang kita perlu buktikan khasiatnya lewat riset dan inovasi,” lanjutnya.
Dengan riset yang memadai serta kolaborasi yang lebih kuat antara akademisi dan industri, produk kosmetik, termasuk skincare, tidak hanya mengandalkan klaim, tetapi juga memiliki bukti efektivitas yang jelas.
Baca juga: BRIN Kembangkan Sistem AI untuk Diagnosis Malaria, Tingkatkan Akurasi Pemberantasan Penyakit
Kolaborasi Akademisi dan Industri Perlu Diperkuat
Untuk mendorong inovasi, BPOM mendorong kolaborasi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah yang dikenal dengan konsep ABG (Academia, Business, Government).
Melalui kerja sama ini, hasil penelitian diharapkan tidak hanya berhenti di tingkat akademik, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk yang benar-benar bermanfaat bagi konsumen.
Taruna menilai, hubungan antara akademisi dan industri masih perlu diperkuat agar potensi riset dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dengan kolaborasi yang lebih baik, produk kosmetik lokal tidak hanya berkembang dari sisi tren, tetapi juga dari kualitas dan efektivitasnya.
Hal ini diharapkan dapat memberikan pilihan produk yang lebih aman dan terpercaya bagi masyarakat.
Baca juga: Tren Skincare di Tahun 2026, dari Sunscreen Natural hingga Skincare K-beauty