Pemegang Saham Apple Tolak Laporan Risiko Manufaktur di Tiongkok, Prioritaskan Investasi Teknologi dan AI
Tampak Apple Store di Manhattan, New York. (Foto: Reuters)
15:54
25 Februari 2026

Pemegang Saham Apple Tolak Laporan Risiko Manufaktur di Tiongkok, Prioritaskan Investasi Teknologi dan AI

 

Pemegang saham Apple Inc. pada Selasa (24/2/2026), menolak usulan untuk membuat laporan terkait ketergantungan perusahaan terhadap produksi di Tiongkok, yang selama ini menjadi basis utama untuk hampir semua produknya. Keputusan ini menegaskan strategi Apple yang lebih fokus pada diversifikasi manufaktur sambil tetap menekankan pertumbuhan nilai bagi investor.

Dalam beberapa tahun terakhir, Apple telah berupaya memperluas basis produksinya ke negara lain, termasuk Vietnam, India, dan Amerika Serikat. Perusahaan sebelumnya mengumumkan rencana untuk merakit sebagian komputer Mac mini di AS mulai akhir tahun ini guna memenuhi permintaan domestik. Langkah ini dianggap sebagai strategi mitigasi risiko geopolitik dan gangguan rantai pasok global.

Dilansir dari Reuters, Rabu (25/2/2026), CEO Apple, Tim Cook, menegaskan bahwa perusahaan tetap berkomitmen untuk meningkatkan dividen tahunan, namun prioritas utamanya adalah investasi dalam teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan (AI). “Kami memulai dengan melakukan semua investasi yang kami yakini perlu untuk mengembangkan dan mengelola bisnis, berinovasi, dan mendukung peta jalan produk serta layanan kami. Itu prioritas tertinggi kami,” ujar Cook kepada pemegang saham.

Cook menambahkan, keputusan investasi didorong oleh potensi nilai jangka panjang bagi pemegang saham. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada kekhawatiran tentang risiko manufaktur di Tiongkok, perusahaan lebih menekankan inovasi dan pengembangan teknologi sebagai fondasi pertumbuhan.

Pemegang saham Apple menyetujui empat proposal perusahaan lainnya, sementara satu-satunya usulan dari pemegang saham yang menyoroti risiko manufaktur di Tiongkok ditolak. Penolakan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap strategi diversifikasi Apple dan fokus pada teknologi serta profitabilitas.

Namun, terdapat sedikit peningkatan pemegang saham yang menentang “say on pay”, yaitu proses voting wajib bagi pemegang saham perusahaan publik di AS untuk menyetujui atau menolak kompensasi eksekutif. Sekitar 8,6 persen dari total suara menentang usulan ini, meningkat dari 7,6 persen pada tahun sebelumnya.

Menurut laporan proxy perusahaan, kompensasi Tim Cook tetap stabil pada 2025 sebesar USD 74,29 juta (sekitar Rp 1,25 triliun dengan kurs Rp 16.830 per dolar AS), sedikit turun dibanding USD 74,61 juta pada 2024. Perubahan nominal yang relatif kecil ini menunjukkan manajemen tetap konsisten dalam membayar gaji dan tunjangan eksekutif meski ada tekanan dari investor terkait risiko rantai pasok.

Analis pasar dari Bloomberg, Mark Gurman, menyatakan, “Keputusan pemegang saham ini menunjukkan bahwa mereka percaya pada kemampuan Apple untuk mengelola risiko manufaktur sambil tetap berfokus pada inovasi teknologi yang dapat mendorong pertumbuhan pendapatan jangka panjang.”

Langkah Apple ini juga menjadi sorotan global karena mencerminkan ketergantungan perusahaan teknologi besar pada manufaktur Tiongkok, yang menjadi isu strategis dan geopolitik. Diversifikasi ke pasar seperti Vietnam dan India dianggap sebagai langkah mitigasi risiko yang relevan dan berkelanjutan.

Dengan penolakan laporan risiko manufaktur di Tiongkok ini, Apple menegaskan pendekatannya: memprioritaskan inovasi, ekspansi teknologi, dan nilai pemegang saham, sambil tetap memantau risiko global dengan strategi manufaktur yang fleksibel. Keputusan ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan geopolitik meningkat, investor lebih mengutamakan pertumbuhan dan profitabilitas jangka panjang daripada laporan risiko tambahan.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #pemegang #saham #apple #tolak #laporan #risiko #manufaktur #tiongkok #prioritaskan #investasi #teknologi

KOMENTAR