Sekarang 2026, Negara Ini Ternyata Masih Tahun 2018, Kok Bisa?
Ilustrasi kalender 2026, kalender Maret 2026. Libur Lebaran 2026. Cuti bersama Lebaran 2026.(Unsplash/WD Toro)
17:07
25 Februari 2026

Sekarang 2026, Negara Ini Ternyata Masih Tahun 2018, Kok Bisa?

- Jika sebagian besar masyarakat dunia saat ini menjalani tahun 2026, negara Afrika Timur yaitu Ethiopia, justru masih berada pada tahun 2018.

Situasi ini bukanlah sebuah lelucon time travel (perjalanan waktu) kembali ke masa lalu, tapi hal ini nyata terjadi di Ethiopia.

Bahkan, pengakuan negara tersebut masih berada pada tahun 2018, juga digunakan di berbagai instansi, seperti pengadilan, bank, kantor, sekolah, dan dalam urusan administrasi sehari-hari. 

Baca juga: Liburan ke Ethiopia, Ini Rekomendasi Obyek Wisatanya...

Lantas, kok bisa Ethiopia masih berada pada tahun 2018?

Dilansir dari Times of India, perbedaan tahun antara Ethiopia dengan sebagian besar masyarakat di dunia yaitu karena Ethiopia menggunakan perhitungan kalender yang berbeda.

Sebagaimana yang diketahui, hampir sebagian besar masyarakat di dunia merujuk kepada kalender Gregorian, alias kalender Masehi untuk sistem penanggalan.

Namun, berbeda dengan Ethiopia, masyarakat di negara tersebut menggunakan kalender Ge'ez, sebuah kalender surya tradisional yang bekerja berdasarkan perhitungan dan ritmenya sendiri.

Baca juga: 5 Makanan Unik dari Ethiopia

Perbedaan sistem antara kedua kalender ini membuat Ethiopia tertinggal sekitar tujuh hingga delapan tahun dari negara-negara yang menggunakan kalender Gregorian.

Jika pergantian tahun pada kalender Masehi diperingati setiap awal Januari. Lain halnya dengan Ethiopia, mereka memperingati pergantian tahun pada bulan September.

Dengan kata lain, ketika sebagian besar negara di dunia merayakan tahun baru 2026 pada 1 Januari 2026, Ethiopia merayakan tahun baru 2018 pada bulan September 2025.

Sistem kalender Ge'ez ini cukup unik, karena berakar pada kalender Koptik kuno Mesir, yang sebagian besar tetap tidak berubah selama berabad-abad.

Baca juga: Bulan Madu ke Afrika, Berapa Lama Durasi Idealnya?

Menariknya, jika kalender Masehi punya 12 bulan, kalender Ge'Ez punya 13 bulan. Perhitungan 13 bulan ini terdiri dari: 12 bulan yang setiap bulannya terdiri dari 30 hari.

Serta, ada bulan ke-13 yang disebut Pagume. Durasi bulan ini termasuk singkat, yakni terdiri dari lima hari pada tahun biasa, dan enam hari pada tahun kabisat.

Adapun nama-nama bulan dalam kalender Ge'ez yaitu: Maskerem, Teqemt, Hedar, Tahsas, Ter, Yakatit, Magabit, Miyazya, Genbot, Sane, Hamle, Nahase, dan diakhiri dengan Pagume.

Di Ethiopia, perhitungan kalender seperti ini bukan hanya sekadar simbolis budaya. Tetapi juga digunakan di pengadilan, bank, kantor, sekolah, dan dalam urusan administrasi sehari-hari. 

Baca juga: Hilang Tiga Bulan, Turis Amerika Ternyata Tinggal di Hutan Skotlandia dan Menikah dengan Raja ‘Afrika’

Bagi masyarakat Ethiopia, kalender ini adalah garis waktu resmi kehidupan.

Lalu, kok bisa perhitungannya terpisah beberapa tahun dari kalender Gregorian alias kalender Masehi?

Perbedaan selisih perhitungan tahun ini berakar dari perbedaan rujukan kelahiran Yesus Kristus oleh umat Kristen.

Sebagian besar gereja di Eropa mengadopsi kalender Gregorian pada tahun 1582. Mereka merujuk pada karya seorang biarawan bernama Dionysius Exiguus.

Baca juga: Liburan ke Namibia Afrika, Kini Bisa Ajukan Visa Turis secara Online

Perhitungan biarawan tersebut menetapkan kelahiran Kristus sebagai tahun pertama.

Namun, lain halnya dengan tradisi Ethiopi adan Koptik, mereka merujuk pada perhitungan yang ditetapkan oleh Annianus dari Alexandria sekitar tahun 400 M. 

Alhasil, kalender yang digunakan di Ethiopia berjarak sekitar tujuh hinga delapan tahun dari kalander Masehi.

Baca juga: 7 Fakta Menarik Terusan Suez yang Membelah Benua Afrika dan Asia

Tag:  #sekarang #2026 #negara #ternyata #masih #tahun #2018 #bisa

KOMENTAR