CEO Uber Prediksi Mayoritas Perjalanan Akan Dioperasikan Robot dalam 20 Tahun, Jutaan Pengemudi Terancam Disrupsi AI
CEO Uber Dara Khosrowshahi memprediksi mayoritas perjalanan akan dijalankan kendaraan otonom dalam 20 tahun ke depan (The Guardian)
22:51
24 Februari 2026

CEO Uber Prediksi Mayoritas Perjalanan Akan Dioperasikan Robot dalam 20 Tahun, Jutaan Pengemudi Terancam Disrupsi AI

- Transformasi industri transportasi global memasuki fase baru. Setelah lebih dari satu dekade mengandalkan jutaan pengemudi sebagai fondasi model bisnisnya, Uber kini secara terbuka memproyeksikan masa depan yang didominasi kendaraan tanpa pengemudi. 

Pergeseran ini bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan potensi perubahan struktural terhadap ekonomi berbasis kemitraan yang selama ini menopang 9,5 juta pengemudi di seluruh dunia.

Sejak berdiri pada 2009, Uber berkembang pesat di Amerika Serikat dan berbagai negara lain melalui model aplikasi yang menghubungkan penumpang dengan kontraktor independen yang menggunakan kendaraan pribadi. Skema ini merevolusi ekonomi fleksibel (gig economy) dan menciptakan sumber penghasilan baru bagi jutaan orang. Namun, di sejumlah kota seperti San Francisco, Los Angeles, Phoenix, dan Atlanta, kendaraan otonom kini mulai menjadi alternatif nyata.

Dilansir dari Fortune, Selasa (24/2/2026), CEO Uber Dara Khosrowshahi memprediksi perubahan drastis dalam dua dekade mendatang. "Anda bisa membayangkan mayoritas perjalanan kami dipenuhi oleh robot dalam berbagai bentuk," ujarnya dalam wawancara dalam siniar The Diary of a CEO.

Dia menegaskan, "Mungkin bukan dalam 10 tahun dari sekarang, tetapi jika Anda melihat 15 sampai 20 tahun ke depan, Anda akan mulai sampai di sana."

Pernyataan itu muncul di tengah ekspansi kendaraan otonom yang dikembangkan sejumlah raksasa teknologi, termasuk Waymo, Tesla, dan Zoox. Di beberapa wilayah Amerika Serikat, robotaksi bahkan telah digunakan untuk perjalanan rutin, menandai normalisasi teknologi yang sebelumnya dianggap futuristis.

Meski optimistis, Khosrowshahi mengakui jalan menuju dominasi kendaraan otonom tidak sederhana. "Kami tidak beroperasi di dunia virtual, kami beroperasi di dunia fisik," katanya. "Anda harus menyiapkan regulasinya. Anda harus membangun mobilnya. Anda harus membangun sistem sensornya; modelnya harus sampai pada tingkat yang memadai." Pernyataan ini menegaskan bahwa hambatan teknis dan regulatif masih menjadi faktor penentu.

Untuk mempercepat proses tersebut, Uber meluncurkan unit baru bernama Uber Autonomous Solutions yang bertujuan mengoordinasikan pengembangan infrastruktur kendaraan otonom, pengalaman pengguna, serta operasional armada secara global. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak sekadar menjadi perantara teknologi, tetapi ingin berada di pusat ekosistem mobilitas otonom.

Namun di balik langkah ekspansif tersebut, implikasinya terhadap tenaga kerja menjadi sorotan utama. Khosrowshahi memperkirakan kecerdasan buatan dalam satu dekade ke depan berpotensi menggantikan 70 persen hingga 80 persen pekerjaan manusia.

"Sepuluh tahun bukan waktu yang lama bagi masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan dampak sebesar itu," ujarnya. Dia menambahkan, "Ketika Anda melihat lebih dari lima tahun ke depan, ini akan menjadi isu yang semakin besar bagi masyarakat secara luas."

Sebagai langkah mitigasi, Uber memperluas jenis pekerjaan di platformnya, termasuk layanan pengantaran dan belanja, serta inisiatif pelatihan model kecerdasan buatan melalui telepon seluler bagi mitra pengemudi. Perusahaan menilai diversifikasi ini dapat membantu masa transisi sebelum otomatisasi mencapai skala penuh.

Proyeksi pertumbuhan robotaksi juga memperlihatkan arah yang jelas. Laporan Goldman Sachs pada 2025 memperkirakan jumlah robotaksi di Amerika Serikat meningkat dari 1.500 unit pada 2025 menjadi sekitar 35.000 unit pada 2030, menguasai sekitar 8 persen pasar berbagi tumpangan. Meski masih jauh dari estimasi jangka panjang Uber, laju pertumbuhannya mencerminkan percepatan adopsi teknologi.

Dengan demikian, prediksi Khosrowshahi bukan sekadar wacana futuristik, melainkan sinyal bahwa peta mobilitas global sedang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi apakah kendaraan otonom akan mendominasi, melainkan seberapa cepat masyarakat, regulator, dan jutaan pengemudi mampu beradaptasi menghadapi gelombang disrupsi kecerdasan buatan yang kian tak terelakkan.

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #uber #prediksi #mayoritas #perjalanan #akan #dioperasikan #robot #dalam #tahun #jutaan #pengemudi #terancam #disrupsi

KOMENTAR