Jangan Sepelekan Gangguan Pendengaran, Bisa Tingkatkan Risiko Demensia
- Mendengarkan musik dengan volume tinggi, membersihkan telinga dengan kapas, dan bekerja di lingkungan yang berisik, berpotensi merusak pendengaran.
Dilansir dari Parade, Rabu (25/2/2026), pendengaran yang rusak bukan hanya menurunkan kualitas hidup, tapi juga meningkatkan potensi seseorang mengalami demensia pada kemudian hari.
Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association menemukan, orang dewasa lanjut usia yang memiliki gangguan pendengaran yang tidak diobati memiliki prevalensi demensia 60 persen lebih tinggi. Namun, mereka yang menggunakan alat bantu dengar mampu menurunkan risiko tersebut.
“Kami tidak yakin secara pasti mengapa gangguan pendengaran yang tidak diobati dikaitkan dengan demensia, tetapi itu adalah faktor risiko,” kata direktur Women’s Alzheimer’s Movement Prevention Center di Cleveland Clinic Lou Ruvo Center for Brain Health, Jessica Caldwell, Ph.D..
Caldwell menambahkan, kehilangan pendengaran bukan sekadar faktor risiko. Jika diabaikan, dampaknya bisa tetap terasa, bahkan setelah masalah memori atau demensia dimulai. Ini juga berpotensi mempercepat penurunan fungsi kognitif bagi penderita demensia.
Baca juga: Terlalu Sering Terpapar Suara Keras Bisa Rusak Pendengaran, Ini Saran Dokter THT
Kaitan antara gangguan pendengaran dan demensia
Kata dr. Dale Bredesen, MD, pemegang Singleton Endowed Chair di bidang Neurologi dari Pacific Neuroscience Institute, meski mekanismenya belum dipahami utuh, terdapat hubungan yang jelas antara kedua kondisi tersebut.
"Salah satu pemicunya kemungkinan karena penyebab penyakit neurodegeneratif seperti Parkinson atau Alzheimer juga bisa merusak sistem indra, mulai dari pendengaran, penglihatan, hingga penciuman," jelas Dr. Bredesen.
Faktor lain menurut Caldwell adalah kecenderungan penderita gangguan pendengaran menarik diri dari kegiatan belajar atau interaksi sosial, yang membutuhkan kemampuan menyimak.
Hasil riset pun membuktikan, isolasi diri dapat menaikkan risiko demensia.
Baca juga: Dokter Bagikan Cara Menghindari Kerusakan Pendengaran Permanen Karena Pakai Headset
Dokter Bredesen juga menjelaskan kaitan lainnya melalui stimulasi otak yang meningkatkan nerve growth factor (NGF), termasuk protein brain-derived neurotrophic factor (BDNF) yang mendukung pertumbuhan sel saraf. Jika BDNF menurun akibat gangguan indra, risiko penurunan kognitif pun akan meningkat.
"Singkatnya, gangguan pendengaran berarti berkurangnya masukan sensorik dan berkurangnya stimulasi pada otak, dan hal itu menyebabkan penurunan,” papar Caldwell.
Melindungi otak melalui pendengaran
Melissa Heche, AuD, seorang audiolog sekaligus pemilik New York Speech and Hearing, menjelaskan bahwa indra penglihatan dan pendengaran berfungsi membantu manusia menyatu dengan lingkungannya.
Ia menyebutkan, saat pendengaran mulai hilang, seseorang akan kesulitan memahami dunia luar dan merasa terasing. Ketika pendengaran memburuk, kemampuan untuk berkomunikasi yang bertugas menutrisi otak pun akan ikut merosot.
Pendengaran yang terganggu juga akan mempercepat penurunan kondisi pada penderita demensia.
Baca juga: 5 Tanda Demensia pada Lansia yang Sering Diabaikan, Waspadai!
Ilustrasi demensia. Sebuah penelitian menemukan beberapa nutrisi yang bisa membantu menurunkan risiko demensia, yang diperkirakan kasusnya meningkat di masa depan.
Mengenali indikasi awal gangguan telinga
Heche berpendapat, sering kali gejala awal gangguan pendengaran menyerupai tanda awal demensia. Misalnya, dalam tes pendengaran, pasien sering diminta mengulang apa yang didengar, sebuah hal yang juga sulit dilakukan oleh pengidap demensia.
“Tanda-tanda awal demensia berupa sifat pelupa itu mungkin sebenarnya merupakan tanda gangguan pendengaran dan mungkin bukan merupakan tanda kognitif ringan sama sekali,” ujar Heche.
Baca juga: Penelitian Ungkap Musik Bisa Lindungi Lansia dari Risiko Demensia
Waktu yang tepat untuk tes pendengaran
Bagi mereka yang bekerja di lingkungan bising seperti industri hiburan atau konstruksi, Heche menyarankan untuk melakukan tes setiap tahun demi memantau perubahan yang terjadi. Bagi orang dewasa lainnya, setidaknya lakukan satu kali tes sebelum menginjak usia 60 tahun.
Heche menegaskan, jika merasakan nyeri, tekanan, atau dengingan di telinga, segera lakukan pemeriksaan.
“Jika dokter menyarankan alat bantu dengar, gunakanlah. Ini adalah salah satu cara dapat mengurangi risiko demensia," ucap Caldwell.
Baca juga: Sering Pakai Headset? Kenali Gejala Gangguan Pendengaran Sejak Dini Sebelum Terlambat
Cara terbaik untuk melindungi pendengaran
Meskipun beberapa jenis penurunan pendengaran akibat faktor usia mungkin tidak dapat dihindari, tetapi ada berbagai cara untuk menjaga fungsi pendengaran. Mulailah dengan melindungi telinga dari paparan suara bising.
Berikut adalah beberapa metode lain untuk melindungi pendengaran:
- Jagalah agar volume suara pada earbuds tetap rendah sehingga kamu masih bisa mendengarkan pembicaraan orang-orang di sekitar.
- Jauhilah kebiasaan memasukkan korek kuping kapas atau benda apa pun ke dalam saluran telinga.
- Berhenti merokok karena kebiasaan ini dapat mengganggu sirkulasi darah dan berdampak buruk pada fungsi pendengaran.
- Olahraga secara teratur guna mencegah munculnya masalah kesehatan, seperti diabetes atau tekanan darah tinggi, yang diketahui dapat memengaruhi pendengaran.
- Terapkanlah pola makan yang sehat karena beberapa kekurangan vitamin dan mineral, seperti vitamin B12, C, D, E, serta magnesium, dapat berperan dalam terjadinya kehilangan pendengaran.
Baca juga: Begini Proses Headphone Merusak Pendengaran
Tag: #jangan #sepelekan #gangguan #pendengaran #bisa #tingkatkan #risiko #demensia