Si Raja Argumen! 6 Kepribadian Orang yang Tak Bisa Diam di Kolom Komentar Media Sosial
Ilustrasi orang yang sedang bermain sosial media. (Freepik)
10:22
21 November 2024

Si Raja Argumen! 6 Kepribadian Orang yang Tak Bisa Diam di Kolom Komentar Media Sosial

 

Media sosial, tempat yang awalnya diciptakan untuk saling terhubung dan berbagi cerita, kini sering kali menjadi arena pertarungan opini.

Di balik layar gadget, muncul sosok-sosok yang dikenal sebagai "pejuang keyboard" atau keyboard warriors.

Mereka adalah individu yang tidak pernah kehabisan energi untuk berdebat, membalas komentar, bahkan menciptakan konflik.

Dalam setiap unggahan viral atau isu sensitif, Anda hampir selalu bisa menemukan mereka hadir dengan argumen tajam atau pendapat kontroversial.

Tapi, siapa sebenarnya para pejuang keyboard ini? Apa yang memotivasi mereka untuk terus berargumen di dunia maya?

Dilansir dari Personal Branding Blog, inilah enam kepribadian dan ciri khas yang paling sering ditemukan pada orang-orang yang hobi berdebat di kolom komentar.

1. Mencari Perhatian dan Validasi

Di balik komentar provokatif yang dilontarkan, pejuang keyboard sering kali memiliki kebutuhan mendalam untuk diakui.

Dunia maya menjadi panggung utama mereka untuk mendapatkan perhatian, baik melalui "suka," tanggapan serius, maupun serangan balik.

Setiap reaksi yang diterima memberikan validasi bahwa suara mereka didengar, meskipun hal ini sering kali memicu perdebatan baru.

Banyak dari mereka mungkin merasa kurang mendapatkan perhatian di dunia nyata, sehingga media sosial menjadi tempat untuk bersinar, meskipun hanya sebentar.

Dengan mengetik komentar yang penuh opini, provokatif, atau kontroversial, mereka berharap menjadi pusat perhatian.

Misalnya, sebuah komentar yang berisi kritik tajam terhadap isu sensitif sering kali menarik banyak respons, yang semakin memuaskan kebutuhan mereka akan pengakuan.

Namun, kebutuhan ini memiliki sisi gelap. Keinginan terus-menerus untuk diperhatikan sering kali menyebabkan seseorang mengabaikan batas etika.

Mereka lebih fokus pada dampak komentar mereka daripada bagaimana hal itu memengaruhi orang lain.

2. Terlalu Teguh Mempertahankan Pendapat

Salah satu ciri utama pejuang keyboard adalah keyakinan yang begitu kuat terhadap pendapat mereka.

Dalam diskusi online, mereka sering kali menunjukkan sikap keras kepala, tidak peduli seberapa logis atau masuk akalnya argumen lawan. Keteguhan ini sering kali membuat mereka terlihat anti-dialog.

Beberapa pejuang keyboard bahkan rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari bukti pendukung yang memperkuat klaim mereka.

Misalnya, dalam perdebatan tentang perubahan iklim, seseorang mungkin akan menggali artikel ilmiah atau data statistik untuk mendukung argumennya, meskipun konteksnya tidak relevan.

Keinginan untuk selalu benar sering menjadi akar dari perdebatan panjang. Sikap ini dapat membuat diskusi terasa seperti jalan buntu.

Meski keteguhan mereka bisa dianggap mengagumkan dalam beberapa aspek, hal ini juga mencerminkan kesulitan mereka untuk menerima sudut pandang yang berbeda.

3. Enggan Mengakui Kesalahan

Kapan terakhir kali Anda melihat seseorang di kolom komentar media sosial berkata, “Anda benar, saya salah”? Hampir tidak pernah, bukan?

Pejuang keyboard cenderung enggan mengakui kesalahan mereka, bahkan jika bukti yang bertentangan telah disajikan dengan jelas.

Fenomena ini bisa dijelaskan oleh rasa gengsi atau ketakutan akan kehilangan muka di hadapan audiens online.

Mengakui kesalahan di ruang publik, meskipun hanya di media sosial, terasa seperti kekalahan yang memalukan.

Akibatnya, mereka lebih memilih untuk mengalihkan topik ke hal lain yang tidak relevan, mencari celah baru dalam argumen lawan, atau menghilang dari diskusi tanpa pamit.

Sikap ini memperburuk kualitas diskusi. Padahal, mengakui kesalahan bukan hanya menunjukkan kedewasaan, tetapi juga membuka ruang untuk pembelajaran bersama.

Sayangnya, bagi sebagian pejuang keyboard, hal ini terlalu sulit dilakukan.

4. Menikmati Konflik dan Perdebatan

Tidak semua orang merasa nyaman dengan konflik. Namun, bagi pejuang keyboard, perdebatan online adalah hiburan favorit.

Mereka menikmati sensasi adrenalin yang muncul saat argumen sengit berlangsung.

Bagi mereka, memenangkan perdebatan membawa rasa puas yang sulit dijelaskan.

Bagi sebagian orang, konflik online adalah bentuk pelarian dari rasa bosan atau masalah di dunia nyata.

Dalam perdebatan, mereka menemukan tantangan yang membuat hidup terasa lebih “berwarna.”

Sayangnya, kesenangan ini sering kali menciptakan suasana yang tidak sehat, terutama jika mereka mulai menyerang secara personal.

Misalnya, dalam diskusi politik, pejuang keyboard mungkin akan menyerang karakter seseorang alih-alih fokus pada argumen.

Hal ini sering memancing emosi lawan, yang kemudian memperburuk kualitas percakapan.

5. Melupakan Bahwa Ada Manusia di Balik Layar

Salah satu alasan mengapa konflik di dunia maya sering kali lebih intens adalah anonimitas.

Di dunia nyata, kita cenderung berpikir dua kali sebelum melontarkan kata-kata kasar.

Namun, di balik layar, tanpa wajah atau suara yang terlihat, batas-batas tersebut menjadi kabur.

Pejuang keyboard sering kali lupa bahwa di balik setiap komentar ada manusia nyata dengan perasaan dan kehidupan yang kompleks.

Anonimitas membuat mereka merasa bebas untuk berkata kasar, meremehkan, atau bahkan menghina tanpa memikirkan dampaknya.

Padahal, serangan verbal yang mereka lontarkan bisa meninggalkan luka emosional yang dalam bagi pihak lain.

Sayangnya, bagi pejuang keyboard, konsekuensi ini sering kali dianggap sepele karena mereka tidak perlu bertatap muka dengan orang yang mereka serang.

6. Kesulitan Mengelola Emosi

Komentar bernada emosional sering kali menjadi ciri khas pejuang keyboard. Ketika mereka merasa tersinggung atau tidak setuju, mereka cenderung langsung merespons tanpa berpikir panjang.

Ketidakmampuan untuk menunda reaksi emosional ini menjadi salah satu alasan mengapa perdebatan di media sosial sering kali berakhir dengan saling hina dan serang.

Misalnya, seseorang yang merasa pendapatnya direndahkan mungkin akan langsung membalas dengan nada kasar.

Respon instan seperti ini sering kali memperburuk situasi, membuat diskusi semakin jauh dari tujuan awal.

Padahal, jika mereka mampu berhenti sejenak untuk merenung dan menenangkan diri, diskusi yang lebih sehat dan konstruktif bisa terjadi.

Sayangnya, kebutuhan untuk segera membela diri sering kali lebih kuat daripada keinginan untuk berdialog secara rasional.


***

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #raja #argumen #kepribadian #orang #yang #bisa #diam #kolom #komentar #media #sosial

KOMENTAR