Hindari Menanyakan Detail Kematian pada Orang yang Sedang Berduka, Ini Kata Psikolog
Saat menghadapi teman atau keluarga yang sedang berduka, kata-kata dan pertanyaan yang kita ajukan bisa berdampak besar pada proses pemulihan emosional mereka.
Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog, membagikan panduan mengenai jenis pertanyaan yang sebaiknya dihindari.
"Jangan langsung menanyakan detail kematian seperti kapan meninggal, sakit apa, kok bisa dan terakhir ketemu kapan," kata Ratriana dikutip dari Antara, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, pertanyaan ini sebaiknya hanya diajukan ketika orang yang berduka sudah bersedia membuka ceritanya sendiri.
Jika dipaksakan, pertanyaan ini dapat memaksa mereka mengulang kembali momen traumatis, padahal mereka mungkin belum siap secara emosional.
Baca juga: Psikolog Ungkap Pentingnya Peran Sosial Saat Berduka Usai Orangtua Meninggal
Jangan memberi nada menyalahkan
Selain itu, pertanyaan yang mengandung nada menyalahkan juga sebaiknya dihindari.
Contohnya, alasan tidak membawa orang yang meninggal ke rumah sakit lebih awal atau kenapa tidak mendapatkan penanganan cepat.
"Pertanyaan seperti ini, meskipun tidak bermaksud menyalahkan, sering membuat orang yang berduka merasa bersalah dan mempertanyakan apa yang sudah mereka lakukan untuk orang yang telah pergi," jelas Ratriana.
Baca juga: Berduka karena Orangtua Meninggal, Kapan Jadi Tidak Sehat? Ini Kata Psikolog
Hindari meminta ‘tetap kuat’
Tidak hanya pertanyaan, beberapa pernyataan pun sebaiknya dihindari.
Misalnya, kalimat yang meminta orang berduka untuk bersikap kuat atau tabah.
"Ini bisa membuat mereka merasa tidak punya ruang untuk rapuh dan mengekspresikan emosi. Jika emosi tidak diproses dengan baik, dalam jangka panjang justru berdampak negatif," ujarnya.
Setiap orang memiliki cara berduka sendiri
Psikolog yang berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi, itu juga menekankan agar teman atau pihak lain tidak saling mengadu nasib atau membandingkan pengalaman berduka.
Setiap orang memiliki cara sendiri dalam memproses kesedihan mereka, dan membandingkan pengalaman justru membuat mereka merasa tidak dipahami.
Dukungan terbaik adalah hadir dan memberi ruang
Dukungan terbaik, menurut Ratriana, adalah hadir dengan cara yang tepat, tidak menghakimi, dan memberikan waktu bagi orang yang berduka untuk menyembuhkan luka secara perlahan.
Memberikan ruang bagi mereka mengekspresikan emosi adalah bentuk empati yang paling berarti.
"Ketika seseorang ditinggal meninggal secara mendadak oleh orang terdekatnya, dukungan dari lingkungan memang menjadi sangat penting. Dukungan yang paling utama adalah hadir dengan cara yang tepat," kata Ratriana.
Ratriana menekankan pentingnya kepekaan dari teman maupun keluarga dalam membaca kebutuhan emosional orang yang sedang berduka.
Jika mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri, keputusan tersebut sebaiknya dihormati.
Meski begitu, tetap penting untuk memantau kondisi mereka secara berkala agar tidak merasa terabaikan.
Bentuk perhatian juga tidak harus selalu intens atau menuntut respons.
Cukup dengan menyampaikan bahwa bantuan selalu tersedia dapat membuat orang yang berduka merasa tidak sendirian.
Ketika mereka memilih untuk berbagi cerita, dengarkan dengan empati tanpa menyela atau menghakimi.
Baca juga: Tak Perlu Terburu-Buru Pulih, Psikolog Jelaskan Proses Berdamai dengan Duka Kehilangan Orangtua
Tawarkan bantuan yang konkret
Langkah berikutnya yang dapat dilakukan adalah menawarkan bantuan secara nyata dan praktis.
Dalam masa berduka, seseorang kerap kesulitan mengurus kebutuhan sehari-hari.
Bantuan sederhana seperti menyiapkan makanan, membantu membersihkan rumah, menemani mengurus administrasi, atau sekadar duduk menemani dapat memberi dampak besar.
"Terakhir, hormati proses berduka mereka. Tidak ada timeline yang sama bagi setiap orang. Ada yang cepat tampak pulih, ada yang membutuhkan waktu lama. Tugas kita bukan mempercepat proses itu, tetapi menemani mereka melaluinya dengan penuh empati dan kesabaran," ujar Ratriana.
Karangan bunga bukan pengganti kehadiran
Dalam kesempatan yang sama, Ratriana menilai karangan bunga bisa menjadi salah satu bentuk kehadiran, terutama ketika seseorang tidak dapat datang secara langsung.
Namun, hal ini lebih relevan sebagai gestur empati dari pihak yang tidak memiliki kedekatan emosional.
"Tapi mungkin lebih ke yang bentuknya acquaintances (kenalan) ya bukan yang keluarga atau kerabat dekat. Mungkin sebagai gestur dan simbol empati bisa," tambahnya.
Meski demikian, secara psikologis karangan bunga tidak dapat menggantikan dukungan emosional secara langsung. Bagi orang terdekat, kehadiran nyata atau pesan personal tetap menjadi bentuk dukungan yang paling dibutuhkan.
Tag: #hindari #menanyakan #detail #kematian #pada #orang #yang #sedang #berduka #kata #psikolog