Ketika Korban Perselingkuhan Jadi Pelaku, Benarkah karena Tak Mampu Berempati?
Ilustrasi perselingkuhan dalam hubungan.(Dok. Shutterstock/MiniStocker)
09:05
29 November 2025

Ketika Korban Perselingkuhan Jadi Pelaku, Benarkah karena Tak Mampu Berempati?

- Banyak orang berpikir, seseorang yang pernah menjadi korban perselingkuhan, tak akan pernah menjadi pelaku perselingkuhan.

Inilah mengapa, ketika ada korban perselingkuhan menjadi pelaku, orang-orang menudingnya tidak berempati. Namun, benarkah demikian?

“Sebenarnya bukan masalah empati, karena empati itu memang kemampuan umum,” ujar Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, yang berpraktik di Indopsycare, saat dihubungi Kompas.com pada Kamis (27/11/2025).

Empati bukan penghalang perselingkuhan

Meskipun empati adalah sifat umum yang dimiliki oleh kebanyakan orang, bukan berarti seseorang yang bisa berempati, tidak bisa melakukan kejahatan sama sekali, dalam hal ini berselingkuh. 

“Tapi apakah empati bisa menghambat dia melakukan kejahatan (perselingkuhan)? Bisa menghambat. Tapi, faktornya (perselingkuhan) enggak cuma empati,” tutur Clement.

Menurut dia, ada banyak faktor yang menyebabkan korban perselingkuhan menjadi pelaku. Tidak punya empati bukan salah satunya. Artinya, tidak semua orang yang berselingkuh tidak memiliki empati.

“Apakah dia kurang empati di aspek lain? Belum tentu juga. Dia bisa jadi empati ke kucing, ke anak-anak, dia bisa jadi empati ke anaknya sendiri, tapi perselingkuhan bisa saja terjadi,” tutur Clement.

Sebab menurutnya, perselingkuhan muncul karena adanya kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi, meskipun pemenuhan kebutuhan psikologis bisa dilakukan dengan cara selain berselingkuh.

Di sisi lain, empati pada anak, juga bukan jaminan bahwa ia akan mementingkan perasaan anaknya. 

“Dia hanya memandang bahwa keluarga besarnya (dan anaknya) mungkin bakal malu. Tapi dia enggak memandang itu sesuatu yang penting buat dia, karena perselingkuhan dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis dan nilai-nilai yang dia anut sebagai seseorang,” jelas Clement.

Kemampuan berpikir matang

Lebih lanjut Clement menjelaskan, manusia diberi kemampuan untuk bisa berpikir secara matang, agar bisa bertindak dan berperilaku secara bijak tanpa menyakiti orang lain.

Akan tetapi, untuk bisa berpikir secara matang, seseorang tentu harus memiliki kematangan emosional.

Lantas, apakah berarti pelaku perselingkuhan tidak mampu berpikir dengan matang?

“Belum tentu, karena mereka kan pintar-pintar juga. Tapi di sini banyak terkait dengan pengelolaan emosi, karena kadang-kadang, orang berselingkuh didorong oleh impulsivitas,” pungkas Clement.

Tag:  #ketika #korban #perselingkuhan #jadi #pelaku #benarkah #karena #mampu #berempati

KOMENTAR