Iran Ingin Lanjutkan Dialog dengan AS, tapi Tegaskan 1 Hal, Apa Itu?
- Pertemuan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2/2026), kembali membuka peluang kelanjutan dialog dua negara yang sempat terhenti.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pihaknya siap melanjutkan pembicaraan, tetapi tetap berpegang teguh pada batasan yang telah ditetapkan Teheran sejak awal.
"Iran siap mencapai kesepakatan yang meyakinkan mengenai pengayaan nuklir," ujar Araghchi, dikutip dari AFP, Minggu (8/2/2026).
Baca juga: Negosiator Trump Sambangi USS Abraham Lincoln, Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS
Namun, ia menegaskan bahwa program rudal Iran tidak akan menjadi bagian dari agenda pembahasan.
"Rudal Iran tidak pernah bisa dinegosiasikan karena berkaitan dengan masalah pertahanan," katanya.
Berbeda dengan Iran, Pemerintah AS justru mendorong agar agenda negosiasi mencakup isu program rudal balistik dan keterlibatan Iran dalam mendukung kelompok militan di kawasan Timur Tengah.
Laporan sejumlah media menyebut, desakan ini datang akibat tekanan dari Israel yang menghendaki pembahasan lebih luas dalam kesepakatan.
Meski begitu, Iran bersikukuh menolak perluasan cakupan negosiasi di luar isu nuklir.
Baca juga: Berunding Tanpa Tatap Muka, Ini Hasil Negosiasi AS-Iran di Oman
Pertemuan perdana pasca-kegagalan tahun lalu
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (tengah) saat tiba untuk negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat di Muscat, Oman, 6 Februari 2026.Pertemuan di Muscat menjadi yang pertama sejak pembicaraan nuklir Iran-AS gagal pada tahun lalu.
Meski berlangsung secara tidak langsung, Araghchi menyebut pertemuan ini sebagai awal yang baik.
"Ada kesempatan untuk berjabat tangan dengan delegasi AS," ujarnya.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa proses membangun kepercayaan masih membutuhkan waktu yang panjang.
Araghchi menambahkan, pembicaraan lanjutan kemungkinan akan digelar dalam waktu dekat.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menilai dialog di Oman berlangsung positif.
Ia bahkan menyatakan bahwa putaran negosiasi berikutnya akan digelar pekan depan.
Namun, di tengah optimisme tersebut, Trump justru menandatangani perintah eksekutif baru pada Sabtu (7/2/2026), menetapkan pemberlakuan tarif bagi negara-negara yang masih menjalin kerja sama bisnis dengan Iran.
Washington juga mengumumkan sanksi tambahan terhadap sejumlah entitas dan kapal pengiriman untuk membatasi ekspor minyak Iran.
Berdasarkan data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), China merupakan mitra dagang terbesar Iran dengan total impor sebesar 18 miliar dollar AS (Rp 303,13 triliun), dan ekspor senilai 14,5 miliar dollar AS (Rp 244,19 triliun) sepanjang 2024.
Baca juga: Kenapa Negosiasi Nuklir AS-Iran Digelar di Oman?
Sumber: Kompas.com/Ahmad Naufal Dzulfaroh
Tag: #iran #ingin #lanjutkan #dialog #dengan #tapi #tegaskan