Lansia Meninggal Usai Dokter Salah Potong Pembuluh Darah Saat Operasi
Ilustrasi operasi.(FREEPIK)
14:06
8 Februari 2026

Lansia Meninggal Usai Dokter Salah Potong Pembuluh Darah Saat Operasi

SINGAPURA, KOMPSA.com - Koroner Negara Bagian Singapura, Adam Nakhoda melontarkan kecaman keras terhadap seorang ahli bedah urologi atas insiden malapraktik yang menyebabkan seorang pasien lansia meninggal dunia.

Dokter bernama Fong Yan Kit tersebut dinilai tidak kooperatif dan memberikan keterangan tidak jujur selama proses penyelidikan terkait prosedur operasi yang gagal pada 2022 silam.

Peristiwa ini bermula saat seorang wanita berusia 63 tahun mengeluh adanya darah dalam urine. Hasil pemindaian CT menunjukkan adanya tumor berukuran 7,5 cm pada ginjal kirinya.

Baca juga: Bocah WNI 6 Tahun Meninggal Usai Ditabrak di Singapura, Ibu Luka Berat

Atas saran Fong, pasien menyetujui operasi minimal invasif untuk mengangkat tumor tersebut di Rumah Sakit Raffles pada 29 April 2022.

Namun, dalam prosedur tersebut, Fong secara fatal melakukan kesalahan identifikasi. 

Ia memutus arteri mesenterika superior dan trunkus seliaka, yakni dua pembuluh darah utama yang memasok darah ke lambung dan usus, karena mengira pembuluh tersebut adalah vena ginjal.

Akibatnya, pasokan darah ke organ-organ vital di perut pasien terhenti. Pasien tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada 2 Mei 2022.

Baca juga: Singapura Latih Warga Hadapi Scam, Gelar Simulasi Massal Senegara

Dokter diduga abaikan kesalahan

Penyelidikan koroner pada November 2025 mengungkap fakta mengejutkan. 

Saat menyadari terjadi kesalahan, Fong sempat berhenti selama 13 menit di tengah operasi, namun ia tidak mengakui kesalahan tersebut maupun meminta bantuan ahli lain.

“Setiap ahli bedah yang cukup kompeten pasti menyadari bahwa terlalu banyak pembuluh darah besar yang tidak berhubungan langsung dengan ginjal telah diikat dan dipotong," tegas Adam Nakhoda, dikutip dari The Straits Times, Sabtu (7/2/2026).

Koroner menilai, tindakan mengabaikan petunjuk visual yang jelas dan tidak segera melakukan langkah koreksi saat pasien masih di meja operasi adalah hal yang "tak terbayangkan". 

Jika kesalahan diakui lebih awal dan bantuan ahli bedah vaskular segera dipanggil, nyawa pasien diyakini masih bisa diselamatkan.

Selain itu, Fong juga dituding tidak transparan. Laporan medis awalnya tidak menyebutkan fakta bahwa ia salah memotong arteri. 

Rumah Sakit Raffles pun disebut memberikan laporan keliru mengenai kesalahan identifikasi pembuluh darah tersebut.

Baca juga: Singapura Turun Tangan Bantu Warung Nasi Padang Tertua agar Tak Tutup

Kronologi kejadian

Dokumen pengadilan yang dilihat oleh The Straits Times menunjukkan, ibu dua anak berusia 63 tahun itu mengunjungi Rumah Sakit Raffles sekitar pukul 3 pagi pada 28 April 2022, setelah menemukan darah dalam urinenya dan muntah.

Ia dirujuk ke tempat Fong setelah ditemukan pertumbuhan berukuran 7,5 cm di ginjal kirinya selama pemindaian CT.

Sekitar pukul 8 pagi pada hari yang sama, ahli bedah mendiagnosis tumor ginjal kiri dan memberi tahu wanita itu dan putrinya bahwa operasi minimal invasif diperlukan untuk mengangkatnya.

Keduanya sepakat dan Fong menjadwalkan operasi pada 29 April 2022 sore hari.

Setelah operasi, wanita itu dipindahkan ke bangsal umum. Fong mengaku memeriksanya lagi keesokan harinya dan mencatat tanda-tanda vitalnya stabil.

Baca juga: 6 WNI Dipenjara dan Dicambuk Usai Menyelundup Masuk Singapura Pakai Sampan

Ilustrasi operasi.Freepik/wavebreakmedia_micro Ilustrasi operasi.

Namun, keluarga pasien menceritakan bahwa setelah operasi, korban terus mengeluh perut kembung dan mual. Namun, Fong hanya menyebut hal itu sebagai reaksi normal pasca-operasi.

Kondisi pasien memburuk drastis pada 1 Mei 2022 dini hari saat tekanan darahnya merosot tajam.

Setelah dilakukan pemindaian CT darurat, baru ditemukan bahwa usus pasien telah membengkak hebat.

Baru pada pukul 11.30 siang, Fong merujuk pasien ke ahli radiologi vaskular, di mana ditemukan fakta bahwa dua arteri utama telah putus. 

Operasi darurat dilakukan sore harinya, namun tim dokter terpaksa menghentikan prosedur karena organ-organ dalam sudah menunjukkan tanda kematian jaringan akibat kekurangan darah. 

Dokter mengeklaim, pasien tidak akan selamat dari operasi besar tersebut. Kondisinya pun terus memburuk. Pasien dinyatakan meninggal pada 2 Mei 2022 pukul 03.05 pagi.

Baca juga: Tutup Usai Berjualan 78 Tahun, Warung Nasi Padang Tertua di Singapura Minta Maaf

Bantahan ahli terhadap alasan dokter

Dalam pembelaannya, Fong mengeklaim letak arteri pada pasien tersebut tidak lazim dan tumor mungkin telah menggeser posisi pembuluh darah. 

Namun, klaim ini dibantah oleh Profesor Christopher Cheng, konsultan urologi senior dari Rumah Sakit Umum Singapura.

Profesor Cheng menyatakan bahwa variasi anatomi seharusnya dapat teridentifikasi melalui pemindaian CT sebelum operasi. 

Ia juga menyebut arteri mesenterika jauh lebih besar dan secara anatomi berbeda dari arteri ginjal, sehingga kecil kemungkinan untuk tertukar bagi dokter yang kompeten.

Meski demikian, koroner negara bagian menyimpulkan tidak ada unsur tindak kejahatan dalam kasus ini dan menyatakan bahwa kematian pasien murni diakibatkan oleh kecelakaan prosedur medis.

Tag:  #lansia #meninggal #usai #dokter #salah #potong #pembuluh #darah #saat #operasi

KOMENTAR