Futsal Indonesia: Menunggu Sejarah Tanpa Kehilangan Arah
Ekspresi sedih para Pemain timnas Futsal Indonesia usai kalah dari Iran di final AFC Futsal Asian Cup 2026 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com
10:25
8 Februari 2026

Futsal Indonesia: Menunggu Sejarah Tanpa Kehilangan Arah

Timnas futsal Indonesia gagal merengkuh gelar juara Piala Asia Futsal 2026, tapi sejarah tentu saja tidak runtuh. Ia tetap bersemi dan memilih menunggu di waktu yang tepat.

Dalam laga final yang berlangsung di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu malam, Timnas futsal Indonesia kalah dari Iran lewat mekanisme paling kejam, yakni adu tendangan penalti; sebuah prosedur yang mengubah kerja kolektif selama 50 menit menjadi sekadar urusan psikologis dua telapak kaki.

Iran menang 5–4 dalam tos-tosan yang mengguncang saraf itu, setelah sebelumnya melalui pertandingan dramatis yang absurd, indah, melelahkan, dan berakhir sama kuat 5–5.

Dalam 50 menit, penonton menyaksikan Indonesia berkali-kali unggul. Iran berkali-kali menyamakan. Seolah-olah laga ini disusun oleh seorang filsuf yang gemar paradoks: setiap keunggulan harus diuji, setiap harapan harus dikoreksi.

Israr Megantara mencetak hat-trick. Habiebie menepis penalti. Indonesia memimpin 2–1, 3–1, 4–3, bahkan 5–4 di babak tambahan. Namun, Iran yang telah 14 kali menjuarai turnamen ini, menolak tunduk pada narasi “tuan rumah siap mencetak sejarah”. Mereka memilih narasi "pengalaman selalu punya solusi terakhir".

Sepanjang pertandingan, Indonesia bermain dengan kesadaran bahwa mereka pantas berada di final ini. Timnas yang dilatih Hector Souto asal Spanyol ini sama sekali tidak gugup dan tidak merasa ragu-ragu dengan ambisinya menjadi juara di depan publik sendiri.

Indonesia bermain cepat, berani, meski terkadang masih ceroboh. Gol-gol pun langsung mengalir bak pemikiran segar yang belum takut disensor. Iran, sebaliknya. Mereka bermain seperti arsip berjalan: rapi, sabar, dan tahu bahwa waktu sering berpihak kepada mereka yang tak panik.

Ketika skor 5–5 bertahan hingga perpanjangan waktu usai, adu penalti terasa seperti epilog yang tidak adil tapi sah. Dua penendang Indonesia gagal. Iran menang dan mempercantik statistik mereka. Namun ada hal yang tetap membanggakan bahwa Indonesia tak kalah karena lebih lemah, melainkan kalah karena belum cukup terbiasa menang.

Mengomentari pertandingan, Hector Souto memilih ungkapan yang agak asing bagi telinga kita. Ia mengaku bangga, tapi tidak mabuk. Ia memuji mental pemain, tapi mengakui jarak kualitas dengan Iran dan Jepang.

Ia bahkan mengatakan bahwa jika turnamen ini diulang dua pekan lagi, Indonesia mungkin tidak akan sampai ke final. Sebuah pernyataan yang mungkin terdengar pesimistis. Padahal sesungguhnya itu adalah bentuk kejujuran metodologis.

Dalam konteks olahraga Indonesia, pernyataan Souto terasa penting. Ia mengingatkan bahwa kerendahan hati adalah kejernihan melihat diri sendiri apa adanya. Timnas Futsal Indonesia, malam itu, melihat dirinya dengan cukup jujur; cukup kuat untuk menantang sang raja Iran, tapi belum cukup matang untuk merenggut mahkotanya.

Walau tak juara, tak bisa dipungkiri, Souto telah membawa pasukannya menuai sukses. Di sinilah ada satire yang bekerja. Di saat futsal, cabang olahraga yang minim sorotan dan minim intrik, mampu bermain hingga detik terakhir melawan kekuatan terbesar Asia, sepak bola lapangan besar Indonesia justru masih sibuk dengan soal-soal administratif yang lebih panjang dari durasi pertandingan itu sendiri.

Menyisakan luka

Futsal Indonesia kalah lewat adu penalti, sementara sepak bola lapangan Indonesia kerap kali kalah, jauh sebelum kick off karena konflik, ekspektasi kosong, dan obsesi pada hasil instan dengan naturalisasi pemain.

Kekalahan di final Piala Asia Futsal 2026 mungkin menyisakan luka. Namun, kalau pun ada, itu bukan luka yang melumpuhkan. Itu adalah jenis perih yang produktif dengan satu syarat penting bahwa kita benar-benar belajar darinya.

Futsal Indonesia telah belajar sesuatu malam itu, bahwa mereka bisa bersaing, bahwa mental mereka cukup, dan bahwa jarak dengan elite Asia bukan mitos, melainkan pekerjaan rumah (PR).

Souto menyinggung beberapa PR itu, seperti fasilitas akar rumput yang buruk, pengelolaan liga domestik yang belum memadai, dan kebutuhan-kebutuhan investasi jangka panjang.

Souto bahkan sempat bergurau bahwa seluruh dunia mendukung Indonesia malam itu, kecuali satu negara bernama Iran. Sebuah guyonan yang terdengar ringan, tapi menyimpan makna dalam, bahwa dunia menyukai cerita underdog yang bekerja keras, diam-diam, dan tidak terlalu banyak bicara.

Peringkat kedua Asia adalah pencapaian terbaik futsal Indonesia sepanjang sejarah, dan itu entah kapan bisa dilakukan cabang olahraga sepak bola lapangan yang luas.

Dari sini, kesuksesan timnas futsal itu adalah cermin yang memantulkan pertanyaan yang mungkin kurang nyaman: mengapa ekosistem di dalam futsal yang lebih kecil, lebih senyap, dan lebih jarang dipolitisasi justru mampu melangkah lebih jauh? Apa sebenarnya yang salah dengan ekosistem sepak bola lapangan yang besar yang merasa selalu “menuju” tapi tidak pernah “tiba”?

Sejarah menjadi juara memang belum ditorehkan Israr Megantara dkk. Namun, justru dari kekalahan adu penalti yang menyakitkan inilah, Indonesia akhirnya belajar satu hal yang paling sulit dalam olahraga dan dalam hidup, bahwa kedewasaan bukan tentang menang sekarang, melainkan tentang siap menang nanti.

Sejarah besar memang belum lahir, tapi sudah bergerak, dan untuk pertama kalinya, futsal Indonesia tahu bahwa mereka tidak sedang bermimpi, melainkan sedang belajar menunggu dengan benar.

Editor: Banu Adikara

Tag:  #futsal #indonesia #menunggu #sejarah #tanpa #kehilangan #arah

KOMENTAR