Dalih Dokter Salah Potong Pembuluh Darah Lansia Saat Operasi, Sebut Anatomi Tak Lazim
Ilustrasi operasi.(Freepik/wavebreakmedia_micro)
19:06
8 Februari 2026

Dalih Dokter Salah Potong Pembuluh Darah Lansia Saat Operasi, Sebut Anatomi Tak Lazim

- Seorang ahli bedah urologi di Singapura, Fong Yan Kit, kini berada dalam sorotan tajam atas insiden malapraktik yang menewaskan seorang lansia berusia 63 tahun pada 2022.

Ia melakukan kesalahan fatal dengan memotong pembuluh darah yang menyuplai darah ke perut dan usus.

Kasus ini memicu kecaman keras dari Koroner Negara Bagian, Adam Nakhoda. 

Dalam persidangan, Fong mencoba mengajukan sejumlah pembelaan untuk menjelaskan alasan ia melakukan kesalahan fatal saat operasi ginjal pasien.

Baca juga: Lansia Meninggal Usai Dokter Salah Potong Pembuluh Darah Saat Operasi

Anatomi tak lazim

Dikutip dari Straits Times, Jumat (7/2/2026), berdasarkan dokumen pengadilan, Fong Yan Kit secara fatal memutus arteri mesenterika superior dan trunkus seliaka, yakni dua pembuluh darah vital yang memasok darah ke lambung dan usus, karena mengira pembuluh tersebut adalah vena ginjal.

Dalam pembelaannya, Fong berdalih bahwa letak arteri pada tubuh pasien tersebut tidak lazim atau mengalami anomali. 

Ia mengeklaim bahwa tumor ginjal berukuran 7,5 cm yang diderita pasien kemungkinan besar telah menyebabkan pembuluh darah bergeser dari posisi anatomi yang seharusnya.

Fong juga berargumen bahwa pendarahan hebat sering terjadi dalam prosedur urologi.

Ia pun mengaku hanya melakukan praktik biasa untuk menghentikan pendarahan dengan memotong pembuluh darah di sekitarnya yang ia yakini sebagai arteri ginjal.

Baca juga: Bocah WNI 6 Tahun Meninggal Usai Ditabrak di Singapura, Ibu Luka Berat

Ahli patahkan dalih dokter

Namun, dalih anatomi tidak lazim tersebut dipatahkan oleh Profesor Christopher Cheng, konsultan urologi senior dari Rumah Sakit Umum Singapura (SGH). 

Profesor Cheng menyatakan, meski ada kemungkinan pergeseran pembuluh darah, variasi tersebut seharusnya sudah teridentifikasi dengan jelas melalui pemindaian CT (computed tomography) sebelum operasi.

Selain itu, bukti video menunjukkan arteri yang dipotong Fong secara anatomi jauh lebih besar dan berbeda secara visual dari arteri ginjal.

Rekaman video juga menampilkan Fong sempat berhenti selama 13 menit setelah melakukan pemotongan yang salah. 

Selama waktu itu, ia melihat arteri ginjal kiri yang asli, namun tidak segera mengakui kesalahannya.

Profesor Cheng juga menyoroti tak adanya bukti dokumentasi bahwa Fong berusaha mencari pendapat kedua atau memanggil ahli bedah vaskular saat ia mulai merasa ada yang tidak beres di meja operasi.

Baca juga: Singapura Latih Warga Hadapi Scam, Gelar Simulasi Massal Senegara

Sikap tak jujur dokter

Koroner Adam Nakhoda mengecam keras sikap Fong yang dinilai tidak transparan. 

Selain dalih medis yang lemah, Fong diketahui tidak mencantumkan fakta salah potong arteri tersebut dalam laporan medis pertamanya.

Bahkan, laporan medis dari Rumah Sakit Raffles juga disorot karena dianggap hanya "mengelak" dari kenyataan bahwa pembuluh darah utama pasien terputus akibat kelalaian identifikasi.

Menurutnya, pengabaian petunjuk yang jelas dan tidak melakukan upaya untuk memperbaiki situasi selagi kesempatan masih ada, sungguh tak terbayangkan.

Padahal, jika kesalahan diakui lebih awal dan bantuan ahli bedah vaskular segera dipanggil, nyawa pasien diyakini masih bisa diselamatkan.

“Setiap ahli bedah yang cukup kompeten pasti menyadari bahwa terlalu banyak pembuluh darah besar yang tidak berhubungan langsung dengan ginjal telah diikat dan dipotong," tegas Adam Nakhoda.

Tag:  #dalih #dokter #salah #potong #pembuluh #darah #lansia #saat #operasi #sebut #anatomi #lazim

KOMENTAR