Emas ETF Global Diborong Investor Tembus 120 Ton, Efek Ancaman Perang Dunia?
Ilustrasi perhiasan emas. (Freepik)
13:15
8 Februari 2026

Emas ETF Global Diborong Investor Tembus 120 Ton, Efek Ancaman Perang Dunia?

Baca 10 detik
  • Investasi ETF emas global mencatat rekor *inflow* US$19 miliar (120 ton) pada Januari 2026, menurut World Gold Council.
  • Kawasan Asia menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi $10 miliar, dimana China memimpin akumulasi aset tersebut.
  • Total kepemilikan ETF emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa yaitu 4.145 ton, didorong ketidakpastian geopolitik.

Pasar emas global mencatatkan sejarah baru pada pembukaan tahun ini. Berdasarkan laporan terbaru dari World Gold Council (WGC), produk investasi emas yang diperdagangkan di bursa atau Exchange-Traded Fund (ETF) berhasil menjaring arus kas masuk (inflow) sebesar 120 ton, atau setara dengan nilai fantastis US$19 miliar sepanjang Januari 2026.

Laporan yang dirilis pada Minggu (8/2/2026) ini menegaskan bahwa momentum tersebut merupakan arus masuk bulanan terkuat yang pernah terekam dalam sejarah industri emas.

Dengan lonjakan ini, total volume kepemilikan emas dalam instrumen ETF kini menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) yakni 4.145 ton, melampaui pencapaian yang pernah terjadi pada tahun 2020 silam.

Kejutan terbesar datang dari wilayah Asia yang kini menjadi motor utama pertumbuhan pasar emas dunia, dengan catatan:

  • Volume Arus Masuk: Kawasan Asia menyumbang arus masuk sebesar 62 ton atau senilai hampir US$10 miliar.
  • Porsi Global: Secara mengejutkan, Asia menguasai 51% dari total arus kas bersih dunia pada bulan lalu.
  • Peran Strategis China: China menjadi penggerak utama di kawasan ini dengan nilai transaksi mencapai US$6 miliar.

Posisi China kini berada tepat di belakang Amerika Serikat sebagai sumber arus masuk ETF emas terbesar di dunia.

Ketidakpastian geopolitik dan tingginya permintaan institusional domestik menjadi pemicu utama minat investor China.

Di belahan bumi barat, investor Amerika Utara juga menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengakumulasi 43,4 ton emas senilai hampir US$7 miliar. Meski demikian, pasar sempat mengalami guncangan menjelang akhir Januari.

Koreksi harga terjadi seiring dengan penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua Bank Sentral AS (The Fed) yang baru.

Figur Warsh yang dipandang memiliki kebijakan moneter tertentu memicu volatilitas harga.

Namun, seperti yang dikutip via Kitco, para analis WGC mencatat bahwa meskipun harga mengalami koreksi tajam dari level tertingginya, investor justru memanfaatkan momentum tersebut untuk terus menambah kepemilikan ETF mereka hingga hari perdagangan terakhir bulan tersebut.

Geopolitik dan Ancaman Perang

Selain faktor moneter dari Amerika Serikat, peningkatan minat pada emas juga dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik.

Konflik dan ketegangan yang melibatkan AS dengan sejumlah wilayah seperti Iran, sebagian wilayah Eropa, hingga isu strategis di Greenland, mendorong investor untuk mencari perlindungan pada aset aman (safe haven).

Sementara itu, pasar Eropa terpantau masih tertinggal dibandingkan Asia dan Amerika Utara. Investor di Benua Biru tersebut tercatat hanya menambah kepemilikan sebesar 13 ton emas dengan nilai transaksi sekitar US$2 miliar.

DISCLAIMER: Artikel ini disusun berdasarkan data laporan bulanan World Gold Council (WGC) per Februari 2026. Pergerakan harga emas dan instrumen ETF memiliki risiko fluktuasi pasar yang tinggi. Keputusan untuk melakukan investasi pada instrumen derivatif emas sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi pembaca. Disarankan untuk berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi besar.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #emas #global #diborong #investor #tembus #efek #ancaman #perang #dunia

KOMENTAR