Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Tertinggi Tiga Tahun, Pasar Masih Ragu...
Ilustrasi ekonomi.(canva.com)
14:16
8 Februari 2026

Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Tertinggi Tiga Tahun, Pasar Masih Ragu...

Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada 2025.

Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya diiringi kepercayaan pasar dan masih memunculkan tanda tanya di kalangan ekonom terkait kualitas pertumbuhan dan konsistensi data.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, meningkat dibandingkan 5,03 persen pada 2024.

Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan bahkan mencapai 5,39 persen secara tahunan, tertinggi sejak kuartal III 2022 dan melampaui ekspektasi pasar.

Baca juga: Pastikan Pertumbuhan Ekonomi 2026 Capai Target, Purbaya Janji Tidak Naikkan Tarif Pajak

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh penguatan konsumsi rumah tangga dan investasi.

Pemerintah, menurut dia, menggelontorkan stimulus fiskal senilai Rp 16,23 triliun pada kuartal terakhir 2025 yang membantu menjaga daya beli masyarakat.

“Pengeluaran rumah tangga tumbuh 5,11 persen pada kuartal IV 2025, menjadi yang tercepat dalam lebih dari dua tahun,” ujar Amalia dalam rilis BPS pada Senin (5/2/2026).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Pasar ragu

Namun, di balik angka tersebut, sentimen pasar justru bergerak berlawanan.

Dalam beberapa pekan terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) tertekan tajam dan nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah terhadap dollar AS.

Tekanan pasar itu muncul di tengah pelebaran defisit anggaran, pergantian mendadak Menteri Keuangan pada September 2025, serta kekhawatiran terhadap transparansi kebijakan dan tata kelola ekonomi, termasuk pengangkatan kerabat Presiden Prabowo Subianto di bank sentral.

Ekonom ANZ, Krystal Tan, menilai pemulihan ekonomi pada akhir 2025 memang cukup solid, terutama setelah perubahan arah kebijakan fiskal.

Namun, ia mengingatkan bahwa pemulihan tersebut masih sangat bergantung pada dorongan kebijakan pemerintah.

“Permintaan domestik pulih pada kuartal keempat seiring perubahan kebijakan fiskal setelah pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan,” kata Tan dikutip dari Reuters, Minggu (8/2/2026).

Keraguan yang lebih tajam datang dari sejumlah ekonom domestik.

Ekonom Universitas Indonesia Rizki Siregar, mempertanyakan konsistensi pertumbuhan konsumsi rumah tangga dengan kondisi lapangan.

“Orang bisa bertanya apakah angka pertumbuhan konsumsi masih terlalu tinggi, mengingat pasar tenaga kerja yang lesu, aktivitas pariwisata yang lebih rendah, serta penerimaan pajak yang justru menurun,” ujarnya.

Menurutnya, data penerimaan pajak sepanjang 2025 tercatat melemah, berlawanan dengan narasi pemulihan ekonomi.

Selain itu, pertumbuhan investasi asing langsung relatif stagnan.

Sementara sejumlah indikator riil seperti penjualan mobil, aktivitas manufaktur, dan laporan pemutusan hubungan kerja menunjukkan perlambatan.

Disisi lain, ekonom dari Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios) Nailul Huda, juga menyoroti ketidaksinkronan antara lonjakan ekspor bersih dan pertumbuhan investasi.

“Ada perbedaan antara data ekspor bersih yang tinggi dengan pertumbuhan investasi yang disebut kuat, padahal impor mesin sebagai indikator investasi tidak menunjukkan lonjakan signifikan,” kata Nailul.

Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2026 dengan mengandalkan peningkatan belanja untuk program unggulan Presiden Prabowo serta investasi dari sovereign wealth fund Danantara.

Namun, ekonom Maybank, Brian Lee, menilai ruang peningkatan pertumbuhan masih terbatas.

Ia mengingatkan bahwa koreksi pasar saham dan kebijakan pemerintah di sektor sumber daya alam berpotensi menekan kepercayaan investor.

“Penurunan pasar saham baru-baru ini bisa berdampak ke sentimen konsumen dan investor,” ujarnya.

Baca juga: Indef: Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Masih Ditopang Bantuan dan Stimulus

Tag:  #pertumbuhan #ekonomi #2025 #tertinggi #tiga #tahun #pasar #masih #ragu

KOMENTAR