Sanae Takaichi Bakal Menang Telak di Pemilu Jepang, China Makin Geram
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi diprediksi meraih kemenangan besar dalam pemilihan umum sela yang digelar pada Minggu (8/2/2026).
Hasil ini berpotensi meningkatkan ketegangan Jepang dengan China.
Berpartisipasi sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang, Takaichi berhasil mendorong blok penguasa menuju mayoritas dua pertiga di majelis rendah, menurut proyeksi sejumlah media lokal yang dikutip AFP.
Baca juga: Turis BAB Taman Warga, Kota di Jepang Langsung Batalkan Festival Sakura
Jika hasil tersebut dikonfirmasi, ini akan menjadi capaian terbaik bagi Partai Demokrat Liberal (LDP) sejak pemilu 2017 di bawah kepemimpinan Shinzo Abe, mentor politik Takaichi yang tewas ditembak pada 2022.
LDP diperkirakan merebut sekitar 300 dari total 465 kursi di majelis rendah. Angka ini meningkat tajam dari 198 kursi sebelumnya, sekaligus mengembalikan mayoritas absolut yang hilang pada pemilu 2024, bahkan berpotensi membentuk mayoritas super tanpa koalisi.
"Kami menerima dukungan untuk kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dan proaktif dari Perdana Menteri Sanae Takaichi, serta penguatan kemampuan pertahanan nasional," ujar Sekretaris Jenderal LDP, Shunichi Suzuki, dikutip media Jepang.
Di sisi lain, aliansi baru Reformasi Sentris, gabungan dari oposisi utama Partai Demokrat Konstitusional (CDP) dan mantan mitra LDP, Komeito, diproyeksi kehilangan lebih dari dua pertiga dari 167 kursi mereka.
Sementara itu, partai Sanseito yang dikenal dengan sikap anti-imigrasi, diperkirakan menambah jumlah kursi dari dua menjadi antara 5-14, menurut laporan stasiun televisi NHK.
Baca juga: Takato Ishida Gubernur Termuda Jepang: Baru 35 Tahun, Tanpa Partai
Takaichi raih dukungan pemilih muda
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi saat tiba di hari kedua Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 di Nasrec Expo Centre, Johannesburg, Afrika Selatan, 23 November 2025.Takaichi (64) dikenal sebagai pengagum tokoh konservatif Margaret Thatcher dan sempat bermain drum dalam band heavy metal di masa muda.
Ia sebelumnya menempati sayap kanan LDP sebelum terpilih sebagai ketua partai dan perdana menteri pada Oktober 2025.
Gaya komunikasi tegas dan kepribadian yang unik menjadikannya populer, terutama di kalangan pemilih muda.
Tak sedikit yang memuji gaya berpakaiannya, hingga penampilannya menyanyikan lagu K-pop bersama Presiden Korea Selatan.
Namun, di tengah popularitasnya, Takaichi menghadapi tekanan untuk memberikan hasil nyata di sektor ekonomi.
"Dengan kenaikan harga seperti ini, yang terpenting bagi saya adalah kebijakan apa yang akan mereka terapkan untuk mengatasi inflasi," kata Chika Sakamoto (50), pemilih di Tokyo, kepada AFP.
Baca juga: Orangnya Ramah, Jepang Jadi Sasaran Empuk Mata-mata Rusia
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bermain drum bersama, Selasa (13/1/2026)"Hampir semua barang naik harganya, tapi pendapatan tidak banyak berubah, jadi daya beli kami terus menurun," ujarnya.
Takaichi mendorong paket stimulus senilai 135 miliar dollar AS (Rp 2,27 kuadriliun) untuk meredam inflasi, sekaligus berjanji akan menangguhkan pajak konsumsi atas makanan, isu yang sangat sensitif di kalangan rumah tangga.
Namun, langkah ini menuai kritik, mengingat Jepang memiliki utang publik lebih dari dua kali lipat Produk Domestik Bruto (PDB)-nya. Imbal hasil obligasi jangka panjang juga sempat menyentuh rekor tertinggi, memicu kekhawatiran di pasar global.
"Berbagai partai mengusulkan penghapusan pajak konsumsi. Mungkin bagus untuk saat ini, tapi saya khawatir apakah kebijakan ini benar-benar bertanggung jawab bagi generasi mendatang," ujar Taku Sakamoto (49), pemilih lain yang ditemui AFP.
Baca juga: Jepang Temukan Sumber Kekayaan Raksasa di Dasar Laut, Ubah Peta Ekonomi Dunia
Ketegangan dengan China meningkat
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kiri) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping (kanan) menjelang KTT Jepang-China di sela-sela KTT APEC di Gyeongju, Korea Selatan, 31 Oktober 2025.Kemenangan Takaichi juga dikhawatirkan dapat memperburuk hubungan Jepang dan China.
Belum genap sebulan menjabat, ia menyatakan bahwa Jepang bisa melakukan intervensi militer apabila China menyerang Taiwan secara paksa.
Pernyataan tersebut menuai kecaman dari Beijing, yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup opsi penggunaan kekuatan untuk merebut pulau demokratis tersebut.
Situasi semakin panas setelah kunjungan penuh sambutan dari Takaichi terhadap Presiden AS Donald Trump.
China merespons dengan memanggil Duta Besar Jepang, memperingatkan warganya agar tidak berkunjung ke "Negeri Sakura", serta menggelar latihan udara bersama Rusia.
Beijing juga menarik kembali dua panda terakhir yang dipinjamkan ke Jepang bulan lalu.
Trump sendiri belum mengomentari langsung perselisihan tersebut, tetapi sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap Takaichi sebagai “pemimpin kuat, berkuasa, dan bijaksana, yang benar-benar mencintai negaranya”.
Baca juga: Jepang Ungkap Skenario jika Taiwan Diserang, Hubungan dengan AS Jadi Taruhan
Tag: #sanae #takaichi #bakal #menang #telak #pemilu #jepang #china #makin #geram