Atur Ulang Strategi Investasi Aset Kripto, Portofolio Tak Boleh Lebih dari 5 Persen?
Ilustrasi kripto. (UNSPLASH/TRAXER)
21:48
8 Februari 2026

Atur Ulang Strategi Investasi Aset Kripto, Portofolio Tak Boleh Lebih dari 5 Persen?

Tren penurunan harga aset Kripto dapat dimanfaatkan oleh investor untuk mengatur ulang strategi investasi dan merapikan portofolionya.

Pekan lalu, harga kripto sempat menyentuh level terendah sejak Oktober 2024, meskipun kembali menguat ke level 70.000 dollar AS.

Perencana keuangan Melvin Mumpuni mengatakan, saat ini aset kripto memang sedang mengalami penurunan yang dalam.

Dalam perjalanan investasi, ia mengimbau, seorang investor tidak menaruh seluruh dana yang ada di dalam satu instrumen.

Baca juga: Waspada Penipuan Investasi Kripto

"Sekali lagi, jangan all in, karena tidak didiversifikasi itu risikonya tinggi kalau all in," kata dia ketika ditemui di kawasan Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Ia juga mengingatkan investor aset kripto untuk kembali mengingat tujuan dari investasi. "Ketika investasi kita lihat nih tujuannya buat kapan," ungkap dia.

Untuk menghadapi tren penurunan yang dalam di aset kripto, Melvin menyarankan investor untuk mempertimbangkan melakukan cut loss atau menjual di bawah harga beli untuk melindungi modal yang ada.

"Kalau sudah ada di posisi dan itu turunnya sudah terlalu jauh, ya, it's time to cut loss, gitu," ujar dia.

Di sisi lain, ia juga menyarankan cut loss bertahap bagi investor yang memiliki profil risiko berbeda.

Portofolio kripto di bawah 5 persen

Adapun, investor yang baru ingin masuk ke aset kripto perlu melakukan riset dan mempertimbangkan dengan matang.

Pasalnya, aset kripto merupakan investasi yang tidak memiliki underlying atau aset yang menjadi dasar atas produk investasi tersebut.

"Kalau saya sih tidak menyarankan portofolio investasi di kripto itu lebih dari 5 persen, maksimal," ungkap dia.

Khusus untuk aset kripto, Melvin bilang, instrumen investasi ini memang tergolong sulit dianalisis lantaran tidak terdapat fundamental.

"Tapi lihatnya price action," ucap dia.

Penyebab harga kripto anjlok

Belakangan, gejolak harga di pasar kripto memang membuat investor khawatir.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menyebut tingginya fluktuasi di pasar kripto saat ini dipicu oleh memburuknya sentimen risk-off atau ketidakpastian ekonomi global.

Kondisi itu mendorong investor melepas aset berisiko secara bersamaan, termasuk Bitcoin. “Fluktuasi tinggi pada pasar kripto saat ini terutama dipicu oleh sentimen risk-off global yang membuat investor melepas aset berisiko secara serentak, termasuk Bitcoin,” ujar Calvin Kizana saat dihubungi Kompas.com, Jumat.

Dalam ketidakpastian, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap instrumen dengan volatilitas tinggi dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman.

Hal ini tecermin dari pergerakan harga Bitcoin yang berkorelasi dengan indeks S&P 500 maupun harga emas.

“Ini mengindikasikan bahwa penurunan kripto lebih banyak dipengaruhi tekanan makro dan perubahan selera risiko investor secara luas, bukan semata-mata faktor internal kripto,” ungkap dia.

Harga aset kripto dipengaruhi isu pengetatan likuiditas

Calvin berpandangan, tekanan risk-off global semakin kuat dipicu oleh kekhawatiran pengetatan likuiditas.

Salah satu perhatian utama pasar datang dari Jepang, setelah Bank of Japan (BOJ) memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan untuk mengendalikan inflasi.

Dorongan sejumlah anggota dewan BOJ memunculkan ekspektasi bahwa kenaikan suku bunga bisa dilakukan secepat April.

Hal itu berpotensi memperparah pelemahan karena biaya pendanaan naik dan likuiditas semakin ketat.

Dalam situasi seperti ini, aset berisiko seperti kripto biasanya lebih rentan mengalami koreksi dan volatilitas yang tajam.

Sementara itu, dari sisi teknikal, volatilitas pasar kripto juga diperbesar oleh likuidasi besar-besaran di pasar derivatif.

Saat harga Bitcoin turun cepat, banyak posisi long ber-leverage terpaksa ditutup secara paksa.

Kondisi ini memicu liquidation cascade yang menciptakan tekanan jual otomatis dan mempercepat penurunan harga dalam waktu singkat.

Hal tersebut tidak hanya berdampak pada harga aset kripto, tetapi juga merembet ke saham perusahaan publik yang memiliki cadangan Bitcoin besar di neraca, sehingga tekanan pasar makin meluas.

Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin (BTC) kembali menguat ke level 70.000 dollar AS pada Jumat (6/2/2026), setelah sebelumnya sempat jatuh tajam ke 61.000 dollar ASWIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin (BTC) kembali menguat ke level 70.000 dollar AS pada Jumat (6/2/2026), setelah sebelumnya sempat jatuh tajam ke 61.000 dollar AS

Investor kripto diimbau wait and see

Dengan harga Bitcoin yang masih bergerak di kisaran di atas 60.000 dollar AS, Calvin menilai pendekatan wait and see menjadi pilihan paling rasional bagi investor saat ini.

Menurut dia, pasar masih berada di bawah tekanan sentimen makro dan rawan terseret volatilitas lanjutan dari likuidasi di pasar derivatif.

“Sikap yang paling masuk akal saat ini adalah wait and see, karena pasar masih tertekan oleh sentimen risk-off makro dan rawan terseret volatilitas lanjutan dari likuidasi derivatif,” kata dia.

Saat ini, fokus dari investor adalah menunggu konfirmasi arah berikutnya, terutama apakah BTC mampu bertahan di support kunci sekitar 63.543 dollar AS.

Ketika harga bertahan, ada peluang relief bounce ke 66.600-67.900 dollar AS, tetapi jika jebol, risiko koreksi bisa berlanjut ke sekitar 62.875 dollar AS.

Investor bisa manfaatkan pembelian bertahap

Dalam situasi pasar yang masih rapuh dan mudah bergejolak, investor disarankan tidak bersikap agresif dengan masuk secara sekaligus.

Strategi pembelian bertahap atau dollar cost averaging dinilai lebih aman, disertai disiplin pengelolaan risiko yang ketat.

Secara keseluruhan, sikap wait and see masih lebih dominan untuk saat ini, sambil mencermati apakah tekanan makro mulai mereda dan pasar derivatif menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, seperti funding rate yang kembali normal.

Ia bilang, ketika investor tetap ingin masuk, sebaiknya tidak all-in dan lebih aman dilakukan bertahap (DCA) sambil tetap disiplin mengelola risiko.

"Jadi intinya, untuk kondisi sekarang lebih dominan wait and see, sembari memantau apakah tekanan makro mereda dan apakah pasar derivatif mulai stabil (misalnya funding rate kembali normal),” ucap Calvin.

Pekan Pertama Februari, Harga Bitcoin Anjlok

Jumat lalu, harga Bitcoin melemah dan berpengaruh pada pasar kripto global secara umum.

Data CoinMarketCap menunjukkan, pada Jumat siang Bitcoin melemah tajam hingga mendekati 9 persen, bergerak turun dari area 71.195,94 dollar AS dan sempat bertahan di posisi 64.977,93 dollar AS.

Guncangan tidak hanya terjadi pada Bitcoin.

Ethereum ikut terseret dengan koreksi lebih dalam, turun 9,82 persen ke level 1.904 dollar AS.

Tak hanya itu, tekanan serupa juga melanda aset kripto berkapitalisasi besar lainnya.

Sebagai contoh, aset kripto Binance Coin (BNB) terkoreksi 10,54 persen, sedangkan XRP juga melemah dua digit.

Koreksi terdalam juga terlihat pada Solana, yang anjlok 12,96 persen.

Setelah itu, harga Bitcoin kembali naik ke level 70.000 dollar AS setelah sebelumnya jatuh ke level terendah dalam 16 bulan terakhir.

Dikutip dari Reuters, harga Bitcoin naik 11 persen ke level 70.231 dollar AS dan sempat menyentuh level 71.464,96 dollar AS.

Bitcoin memang mencatat kenaikan terbesar dalam satu hari sejak Maret 2023, meskipun sebelumnya turun hingga 8 persen pekan lalu.

Harga Bitcoin yang sempat menginjak level 60.017,60 dollar AS menjadi level terendah sejak 24 Oktober 2024.

Baca juga: Harga Bitcoin “Rungkad” dan Seret Aset Kripto Lainya, Apa Sikap Investor?

Tag:  #atur #ulang #strategi #investasi #aset #kripto #portofolio #boleh #lebih #dari #persen

KOMENTAR