Memahami Limerence, Saat Rasa Suka Berubah Jadi Obsesi
Ilustrasi stalker.(Google Gemini AI)
20:50
8 Februari 2026

Memahami Limerence, Saat Rasa Suka Berubah Jadi Obsesi

- Rasa naksir alias crush yang sederhana biasanya terasa ringan dan menyenangkan, membuatmu tersipu malu saat memikirkan orang tersebut.

Saking tertariknya, kamu mungkin sampai sering membicarakan orang tersebut ke teman-temanmu. Namun, dilansir dari Real Simple, Minggu (8/2/2026), ada istilah bernama limerence, yang diperkenalkan oleh psikolog Amerika Serikat (AS) bernama Dorothy Tennov.

Limerence adalah istilah untung menggambarkan ketika rasa suka biasa, berubah menjadi obsesi yang tidak sehat. Namun, apa yang membedakan limerence dengan crush?

Baca juga: Naksir sama Cowok Zodiak Pisces? Begini 8 Cara Menarik Perhatiannya

Apa itu limerence?

Limerence adalah kondisi ketertarikan romantis yang sangat kuat, dan sering kali bersifat obsesif terhadap seseorang.

Kondisi ini ditandai oleh pikiran yang terus-menerus mengganggu, serta kebutuhan intens akan balasan emosional dari orang tertentu tersebut.

“Ini lebih dari sekadar ketertarikan. Limerence melibatkan pengidealan terhadap seseorang dan perasaan naik-turun emosi yang sangat kuat, dan hal ini bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari orang yang kamu kenal secara pribadi sampai orang yang benar-benar asing,” kata neuropsikolog berbasis di New York City, AS, dan direktur Comprehend the Mind, Sanam Hafeez, Psy.D.

Orang yang menjadi obyek limerence bisa siapa saja yang kamu ketahui dalam hidupmu, entah itu teman sekelas, rekan kerja, bahkan barista langgan sampai selebritas maupun figur publik.

Kesamaannya adalah tidak adanya hubungan personal yang mendalam. Namun, pikiranmu mengisi kekosongan itu dengan fantasi dan keinginan.

Meski rasa naksir semacam ini bisa terasa mengasyikkan, kondisi tersebut juga dapat memicu stres dan mengganggu fokus, terutama ketika sudah mulai menguasai hidup.

Dan "gongnya", khayalan dalam limerence ini hampir tidak pernah berujung pada hubungan nyata.

Baca juga: Berapa Lama Perasaan Jatuh Cinta Bisa Bertahan Sebelum Memudar? Ini Jawaban Pakar

Apa yang membedakan limerence dengan crush?

Beberapa zodiak punya kecenderungan masih menjaga hubungan baik dengan mantan pasangan. SHUTTERSTOCK Beberapa zodiak punya kecenderungan masih menjaga hubungan baik dengan mantan pasangan.

Entah obyeknya adalah orang di kehidupan nyata maupun selebritas yang sering muncul di televisi dan majalah, ada perbedaan yang cukup jelas antara limerence dan rasa suka yang ringan terhadap seseorang.

“Ketika kamu naksir seseorang, perasaannya biasanya ringan, menyenangkan, dan fleksibel. Saat memikirkan rasa suka tersebut, hidupmu tetap terasa seimbang,” kata terapis dan pendiri Mend with Mere, Meredith Beardmore, LMHC.

“Sebaliknya, limerence sering kali ditandai oleh perenungan obsesif, emosi yang naik turun drastis, dan perasaan bahwa kesejahteraan diri bergantung pada perhatian orang dari orang tersebut," sambung dia.

Seseorang yang mengalami limerence kerap memutar ulang interaksi, atau interaksi yang hanya dibayangkan, di dalam pikirannya. Lalu, mereka merasa tertekan ketika kontak dengan orang tersebut terbatas, atau bahkan tidak ada sama sekali.

Selain itu, limerence juga dapat memunculkan rasa mendesak dan putus asa, bukan sekadar antusiasme yang biasa muncul saat naksir.

Baca juga: Alasan Psikologis Kebanyakan Wanita Lebih Suka Pria Tinggi

“Aturan praktisnya seperti ini, jika pengalaman tersebut terasa lebih menguras daripada menyenangkan, kemungkinan besar itu adalah limerence, bukan sekadar rasa naksir,” ujar Beardmore.

Ia menambahkan bahwa rasa suka justru dapat membawa dampak positif. Naksir yang wajar bisa memicu inspirasi, kreativitas, atau perasaan terhubung tanpa tuntutan balasan, yang pada akhirnya membantu menenangkan sistem saraf.

“Terutama pada rasa suka pada selebritas, ini sering berfungsi sebagai bentuk permainan imajinatif atau pelarian, yang sangat membantu di masa-masa penuh stres atau kesepian,” kata Beardmore.

“Selama rasa naksir tersebut tidak mengganggu hubungan nyata, tanggung jawab sehari-hari, atau memengaruhi harga diri, kondisi ini umumnya tidak berbahaya," lanjut dia.

Namun, masalah muncul ketika rasa suka berubah dari sesuatu yang menyenangkan menjadi sesuatu yang menguasai segalanya.

Mengapa limerence terjadi?

Ilustrasi naksir.Google Gemini AI Ilustrasi naksir.

Limerence memiliki titik awal yang mirip dengan rasa naksir biasa atau bahkan kisah cinta yang berujung pada pernikahan. Perbedaannya terletak pada bagaimana rasa suka tersebut berkembang dan berlangsung.

Baca juga: Emofilia, Istilah untuk Orang yang Gampang Jatuh Cinta

Limerence memiliki kesamaan ciri neurobiologis dengan cinta romantis maupun kecanduan, dengan melibatkan jalur penghargaan (reward pathways) otak yang kaya dopamin,” jelas profesor psikiatri di NY Presbyterian Hospital Weill-Cornell School of Medicine Gail Saltz, PhD.

Limerence tumpang tindih dengan fase awal cinta romantis yang intens. Namun, lanjut dia, kondisi ini dibedakan dengan sifatnya yang berpotensi maladaptif.

"Pengalamannya dapat memunculkan gejala mirip kecanduan zat, termasuk euforia, hasrat yang kuat, ketergantungan emosional, dan gejala putus," ucap Saltz.

Beardmore menambahkan, individu dengan pola keterikatan cemas (anxious attachment style), lebih rentan mengidealkan orang lain dan mencari rasa aman melalui fantasi.

Dalam situasi tertentu, rasa naksir yang awalnya biasa saja bisa berkembang menjadi limerence, terutama pada masa transisi hidup, duka, atau rendahnya harga diri, ketika sistem saraf sedang mencari pegangan yang terasa menstabilkan.

“Dalam momen-momen tersebut, fantasi bisa menjadi cara untuk merasa hidup, diinginkan, atau memiliki harapan tanpa harus menghadapi kerentanan yang menuntut dari keintiman nyata,” tutur Beardmore.

“Apa yang awalnya merupakan kebutuhan tulus akan koneksi dan kepastian, dapat perlahan berubah menjadi sesuatu yang menguasai," lanjut dia.

Baca juga: Begini Sikap Pria Taurus Saat Jatuh Cinta, Perlahan tapi Pasti

Tag:  #memahami #limerence #saat #rasa #suka #berubah #jadi #obsesi

KOMENTAR