Kebaya Night Hangatkan Malam yang Dingin di Italia
Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Eropa berfoto bersama Gloria Gigante selaku Konsul Kehormatan untuk Indonesia di Trieste, dan Atie Nitiasmoro sebagai istri Dubes RI untuk Takhta suci Vatikan juga sebagai pegiat kebaya di Indonesia dan salah satu pejuang yang mengupayakan kebaya goes to UNESCO.(DOK PEREMPUAN BERKEBAYA INDONESIA (PBI))
16:36
8 Februari 2026

Kebaya Night Hangatkan Malam yang Dingin di Italia

- Malam yang dingin di Kota Treviso, Italia, menjadi hangat dalam Kebaya Night.  Senandung merdu lagu Indonesia yang dinyanyikan Cahaya, penyanyi muda berbakat jebolan The Voice Kids Spanyol & Eurovision Junior Spanyol, mengiringi langkah anggun perempuan perempuan berkebaya anggota PBI Eropa yang datang dari berbagai negara.

Mereka berkebaya  membawa sepotong identitas Nusantara ke jantung Eropa dan memukau warga Italia yang hadir malam itu.

Suasana Indonesia semakin kuat ketika aroma dan lezat nasi goreng, sate ayam, pastel dan risoles disajikan Chef Marco Feltrin dari Feria Restaurant, resto  yang masuk dalam daftar Michelin Guide.

Baca juga: Kebaya Menari di KBRI Vatikan: Simbol Semangat, Keragaman, dan Persaudaraan Indonesia

Kebaya Night yang digagas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) di Eropa menjadi ruang perjumpaan budaya dan panggung diplomasi kultural, tempat kebaya berbicara tentang sejarah, jati diri, dan peran perempuan Indonesia di dunia global.

Ketua PBI Eropa, Christiana D Streiff, menegaskan komitmen organisasinya untuk membawa kebaya melampaui batas geografis.

“Kami berkomitmen memperkuat posisi kebaya sebagai identitas budaya nasional yang berkelas global,” tegasnya, dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (8/2/2026).

Acara ini sekaligus menandai kelanjutan langkah PBI Eropa pasca kunjungan mereka ke UNESCO pada Februari 2025. 

Duta Besar RI untuk Italia, Prof Dr Junimart Girsang, menegaskan bahwa kebaya bukan sekadar busana tradisional, melainkan narasi panjang tentang bangsa.

“Bagi bangsa Indonesia, kebaya adalah identitas, sejarah, dan kisah tentang perempuan Indonesia, tentang keanggunan yang berpadu dengan keteguhan, serta tradisi yang terus hidup dan berkembang seiring zaman,” ujarnya.

Baca juga: Sejarah dan Asal-usul Kebaya, Warisan Banyak Budaya di Asia Tenggara

Acara Kebaya Night di Treviso, Italia, Februari 2025.DOK PEREMPUAN BERKEBAYA INDONESIA (PBI) Acara Kebaya Night di Treviso, Italia, Februari 2025.Pegiat kebaya dan pendamping Dubes RI untuk Takhta Suci Atie Nitiasmoro berpendapat, berkebaya adalah cara merawat ingatan kolektif bangsa, sekaligus menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme di tengah derasnya arus modernisasi global.

Kebaya juga membuat roda perekonomian berputar kuat, UMKM sampai industri mode skala besar memproduksi kebaya dan segala perlengkapannya.

"Sekarang ini kita bisa melihat banyak UMKM, department store, dan marketplace menjual kebaya. Bahkan banyak pesanan kebaya datang dari luar negeri," jelas Atie.

Sekitar 50 tamu undangan hadir, termasuk Gloria Gigante, Konsul Kehormatan RI di Trieste, pelaku industri mode, warga Italia serta diaspora Indonesia dari berbagai negara.

Anggota PBI Eropa yang hadir malam itu dari sepuluh negara, mulai dari Belanda, Perancis, Swiss, Italia, Norwegia, Spanyol, Republik Irlandia dan Irlandia Utara, Skotlandia, hingga Vatikan.

Saat ini, PBI Eropa sendiri telah merangkul komunitas perempuan Indonesia dari 23 negara.

Baca juga: Duduk Perkara Singapura Daftarkan Kebaya ke UNESCO bersama Malaysia, Brunei, dan Thailand

Tag:  #kebaya #night #hangatkan #malam #yang #dingin #italia

KOMENTAR