Hadapi Tantangan di 2026, BWS Perkuat Permodalan
Bank Woori Saudara (SDRA)(Dok. BWS)
15:44
10 Februari 2026

Hadapi Tantangan di 2026, BWS Perkuat Permodalan

- Di tengah berbagai risiko dan tantangan yang membayangi sektor perbankan, Bank Woori Saudara (BWS) menekankan aspek kekuatan permodalan sebagai salah satu pilar strategi utama pada 2026.

Memasuki tahun ini, industri perbankan nasional diperkirakan masih tumbuh dalam fase moderat. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit berada pada kisaran 8–12 persen. Meski prospek ekspansi tetap positif, tekanan terhadap kualitas aset dinilai masih perlu diwaspadai seiring normalisasi suku bunga, dinamika ekonomi global, serta tekanan pada sejumlah sektor usaha.

Dalam konteks tersebut, ketahanan permodalan dan disiplin pengelolaan risiko menjadi fondasi penting bagi bank untuk menjaga keberlanjutan kinerja.

Baca juga: Ini Strategi BCA Halau Serangan Siber ke Sistem Perbankan

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, pertumbuhan kredit yang solid tetap menjadi motor utama intermediasi perbankan.

"Namun, laju ekspansi tersebut tidak terlepas dari potensi peningkatan risiko kredit, terutama pada segmen-segmen yang sensitif terhadap volatilitas ekonomi dan arus kas. Oleh karena itu, perbankan secara umum mengarahkan strategi pada pertumbuhan yang lebih selektif, berbasis kualitas, serta disiplin dalam manajemen risiko," kata Azis dari Kiwoom Sekuritas dalam keterangannya, Selasa (10/2/2026).

Menurut dia, salah satu fokus utama industri perbankan saat ini adalah memperkuat pencadangan dan permodalan untuk mengantisipasi potensi pemburukan kualitas kredit sekaligus menjaga stabilitas keuangan dalam jangka menengah. Bank dengan struktur permodalan kuat dinilai memiliki ruang manuver lebih luas dalam menghadapi dinamika ekonomi sepanjang 2026.

Dalam situasi tersebut, bank-bank skala kecil menengah turut menjadi sorotan. Meski memiliki skala operasional lebih terbatas, kelompok bank ini dinilai memiliki tingkat permodalan yang relatif kuat. Salah satunya adalah BWS yang berada pada posisi unggul dari sisi rasio permodalan.

BWS mencatat rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 32,25 persen. Angka ini jauh di atas ketentuan regulator maupun rata-rata industri, mencerminkan kekuatan neraca yang solid sekaligus kesiapan bank menyerap berbagai potensi risiko.

"KPMM yang tinggi memberikan fleksibilitas strategis bagi bank seperti BWS dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kehati-hatian. Bank memiliki kapasitas untuk tetap menyalurkan kredit secara terukur tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian, sekaligus memastikan rasio permodalan tetap berada pada level yang sehat di tengah ketidakpastian ekonomi," sebut Azis.

Permodalan yang kuat juga memberi ruang bagi emiten berkode SDRA ini untuk mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga kualitas aset serta memitigasi potensi lonjakan kredit bermasalah, terutama pada periode transisi ekonomi dan penyesuaian siklus bisnis. Dengan pencadangan yang memadai, potensi tekanan terhadap profitabilitas dapat dikelola lebih terkendali.

Di sisi lain, strategi BWS pada 2026 tetap mengedepankan selektivitas dalam penyaluran kredit. Fokus diarahkan pada sektor dan debitur dengan fundamental kuat, arus kas terjaga, serta profil risiko yang terukur. Langkah tersebut sejalan dengan upaya bank memastikan pertumbuhan kredit yang berkelanjutan dan berkualitas, bukan semata mengejar volume.

"Pendekatan kehati-hatian tersebut menjadi semakin relevan di tengah potensi volatilitas global, termasuk ketidakpastian arah kebijakan moneter global dan dinamika geopolitik. Dalam kondisi seperti ini, bank dengan struktur permodalan yang kuat cenderung lebih resilien dan mampu menjaga kepercayaan publik," ujar Azis.

Bagi BWS, menjaga soliditas permodalan tidak hanya terkait kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat daya tahan bisnis. Modal yang kuat menjadi fondasi bagi bank dalam menghadapi berbagai skenario ekonomi, baik dalam kondisi normal maupun saat terjadi tekanan.

Dengan kombinasi permodalan yang solid, kebijakan pencadangan yang disiplin, serta strategi pertumbuhan kredit yang selektif, BWS dinilai memiliki kesiapan yang memadai untuk menghadapi tantangan 2026 sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan yang tersedia.

Fokus pada ketahanan dan kehati-hatian diharapkan mampu menjaga stabilitas kinerja serta memperkuat kepercayaan pasar di tengah prospek pertumbuhan kredit yang tetap positif namun sarat risiko.

Tag:  #hadapi #tantangan #2026 #perkuat #permodalan

KOMENTAR