Ketakutan Menikah di Kalangan Anak Muda: Wajar atau Perlu Diwaspadai?
Ketakutan menikah bukan hal baru di kalangan anak muda.
Hal ini semakin terlihat seiring maraknya berita tentang perceraian, konflik rumah tangga, dan perselingkuhan di media sosial.
Paparan konten semacam ini kerap membentuk persepsi negatif tentang pernikahan, bahkan memengaruhi mindset bawah sadar terhadap komitmen jangka panjang.
Menurut Psikolog keluarga Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., berita di media sosial memang sedikit banyak mempengaruhi persepsi anak muda.
"Wajar bila muncul rasa takut, tapi tiap orang berbeda kadar dan respon ketakutannya, tergantung sejauh mana ‘beban emosional’ yang ia pikul," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Senin (10/2/2026).
"Bagi yang tidak punya isu konflik keluarga, berita itu hanya sebagai peringatan untuk seleksi pasangan. Tetapi bagi yang memiliki pengalaman konflik di keluarga, paparan berita sejenis bisa memperkuat ketakutan sehingga menghalangi komitmen meski sudah ada calon pasangan," sambungnya.
Baca juga: Cerita Elsa dan Kevin Memilih Tak Buru-buru Menikah meski Telah Pacaran Hampir 6 Tahun
Pengaruh masa kecil terhadap ketakutan komitmen
Selain pengaruh media, pengalaman masa kecil juga memainkan peran besar.
Anak yang tumbuh menyaksikan konflik atau perceraian orangtua cenderung membentuk “program bawah sadar” yang menimbulkan ketakutan terhadap pernikahan.
Sukmadiarti menekankan pentingnya berdamai dengan pengalaman masa lalu.
“Menerima, memaafkan keterbatasan orangtua, dan memberi izin pada diri sendiri untuk pulih adalah langkah awal sebelum membangun komitmen jangka panjang yang sehat,” ujarnya.
Baca juga: Generasi Sandwich di Antara Tanggungan keluarga dan Tabungan Menikah
Ilustrasi
Menjaga identitas pribadi dalam hubungan
Rasa takut kehilangan diri, kebebasan, atau identitas pribadi sering menjadi alasan anak muda menunda komitmen.
Menurut psikolog, relasi yang sehat adalah ketika kedua pihak tetap bisa menjadi diri sendiri sambil belajar beradaptasi.
“Pernikahan memang menyatukan dua kepala, tapi komunikasi terbuka dan penerimaan perbedaan justru membuat hubungan lebih harmonis,” tambah Sukmadiarti.
Baca juga: Semakin Banyak Perempuan Mandiri Finansial, Keputusan Menikah Tak Lagi Terburu-buru
Kesiapan psikologis menikah
Siap menikah bukan berarti bebas dari keraguan atau takut.
“Siap menikah berarti menerima adanya keraguan, tapi tetap terbuka untuk mencoba dan belajar. Kesiapan itu muncul ketika seseorang mau beradaptasi, belajar dari pengalaman, dan mengelola emosi dengan dewasa,” jelas Sukmadiarti.
Tanda perlu bantuan profesional
Ketakutan yang berlarut-larut perlu diwaspadai. Tanda-tandanya antara lain: sulit membuka diri, menutup diri dari peluang hubungan, atau merasa cemas berlebihan saat membahas pernikahan.
Konsultasi dengan psikolog atau konselor keluarga bisa menjadi langkah preventif sekaligus bukti kesadaran dan kematangan emosi.
Baca juga: Cerita Christopher dan Kezia Pacaran 11 Tahun, Sadar Menikah Bukan Sekadar Ucap Janji
Langkah praktis menghadapi ketakutan menikah
Anak muda bisa mulai menghadapi rasa takut menikah dengan langkah sederhana:
- Mengenali sumber ketakutan
- Berdiskusi terbuka dengan pasangan
- Mengelola ekspektasi realistis
- Menghadapi kekhawatiran perlahan
“Ketika kita menghadapi rasa takut, biasanya kita justru menemukan bahwa yang kita khawatirkan tidak semenakutkan itu,” kata Sukmadiarti.
Dengan memahami akar ketakutan dan menyiapkan mental yang matang, anak muda bisa membangun komitmen yang sehat, harmonis, dan tetap menjaga jati diri.
Pernikahan bukan tentang menghilangkan rasa takut, tapi bagaimana menghadapinya bersama pasangan dengan sikap dewasa dan penuh pengertian.
Tag: #ketakutan #menikah #kalangan #anak #muda #wajar #atau #perlu #diwaspadai