Pasca Penurunan Outlook Kredit RI, Danantara akan Buka Komunikasi Dengan Moody's
- Danantara Indonesia akan membuka komunikasi dengan lembaga pemeringkat global, Moody's Ratings, pasca penurunan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Patria Sjahrir menilai solusi dari permasalahan ini dapat diatasi dengan memberikan penjelasan yang komprehensif kepada lembaga tersebut, terutama terkait Danantara.
Sebab Danantara menjadi salah satu yang disorot oleh Moody's karena dinilai memunculkan ketidakpastian terkait pembiayaan, tata kelola, serta prioritas investasi.
"Moody’s Ratings itu kan nanti baiknya juga nanti dari Kemenkeu, mungkin juga Danantara diajak ngomong, dan ada beberapa institusi yang akan diajak berbicara, ya tentu harus di-follow up dengan baik," ujarnya saat acara China Conference: Southeast Asia 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak capaian positif yang perlu diketahui oleh lembaga-lembaga internasional seperti Moody's, Morgan Stanley Capital International (MSCI), maupun S&P. Dari sisi kinerja perekonomian misalnya, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,39 persen pada Kuartal IV 2025.
Besaran ini menjadi yang tertinggi sejak delapan kuartal terakhir.
Kemudian lembaga tersebut juga perlu memahami besarnya peran Danantara dalam mengelola aset badan usaha milik negara (BUMN), termasuk batasan wewenang Danantara terhadap BUMN. "Poin utama dari Moody’s itu adalah soal komunikasi dan arahan. Itu mereka perlu kepastiannya. Itu our job lah," kata Pandu.
Kendati demikian, dalam melakukan komunikasi dengan pihak global, pemerintah harus satu suara dengan institusi lain agar pesan yang disampaikan dapat tertangkap dengan utuh. "Saya rasa semua unsur dari yang berkomunikasi ke luar itu, ya harus satu suara," tuturnya.
Penurunan Outlook Peringkat Kredit
Sebelumnya, lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Peringkat kredit tetap bertahan di level Baa2.
Moody’s menjelaskan penurunan outlook dipicu oleh menurunnya prediktabilitas dan koherensi perumusan kebijakan.
Kondisi tersebut disertai komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif sepanjang setahun terakhir.
Moody’s menilai situasi tersebut berisiko melemahkan kredibilitas kebijakan di mata investor.
Penilaian itu juga mencerminkan pelemahan tata kelola pemerintahan. "Ini tecermin dalam peningkatan volatilitas pasar saham dan valuta asing," tulis Moody’s.
Moody’s menilai kelanjutan kondisi tersebut berpotensi mencerminkan lemahnya kekuatan kelembagaan.
Risiko tersebut dinilai dapat menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah terbangun dalam jangka panjang.
Moody’s juga menyoroti pembentukan dana investasi pemerintah baru, BPI Danantara.
Moody’s mencatat Danantara masih berada pada tahap awal pengembangan.
Pemerintah telah menetapkan kerangka hukum dan kelembagaan.
Kejelasan terkait prioritas investasi, regulasi, dan manajemen risiko dinilai masih terbatas. "Terlepas dari risiko-risiko ini, asumsi dasar kami adalah bahwa pengembangan kelembagaan lebih lanjut akan membawa kejelasan yang lebih besar seputar tata kelola dan operasional Danantara," tulis Moody’s.
Tag: #pasca #penurunan #outlook #kredit #danantara #akan #buka #komunikasi #dengan #moodys