AS Pangkas Tarif Impor Bangladesh Jadi 19 Persen, Tekstil Dapat Skema Khusus
– Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Bangladesh mengumumkan kerangka kerja untuk United States–Bangladesh Agreement on Reciprocal Trade alias Perjanjian Perdagangan Timbal Balik.
Perjanjian yang disepakati pada Senin (9/2/2026) waktu setempat itu dinilai menjadi langkah strategis memperdalam hubungan ekonomi bilateral dan memperluas akses pasar bagi eksportir kedua negara.
Pernyataan bersama dirilis secara resmi oleh Gedung Putih pada hari yang sama.
Baca juga: India Hapus Tarif Produk Industri AS, Trump Tetapkan Tarif 18 Persen
Ilustrasi tarif Trump. Presiden Prabowo dan Presiden Trump sepakat menurunkan tarif ekspor RI ke AS menjadi 19 persen.
Dikutip dari laman resmi Gedung Putih, Selasa (10/2/2026), perjanjian ini dibangun di atas fondasi US – Bangladesh Trade and Investment Cooperation Forum Agreement (TICFA) yang disepakati pada 2013, kerangka dialog ekonomi yang telah menjadi landasan kerja sama selama lebih dari satu dekade.
Pemangkasan tarif impor dari Bangladesh: 37 persen ke 20 persen, kini 19 persen
Salah satu poin krusial dari perjanjian ini adalah pengurangan tarif timbal balik (reciprocal tariff) yang dikenakan AS terhadap barang impor dari Bangladesh.
Dalam kerangka perjanjian, AS sepakat untuk mengurangi tarif tersebut menjadi 19 persen untuk sebagian besar produk Bangladesh yang memasuki pasar AS.
Dikutip dari The Times of India, hal ini menandai pemangkasan dari tarif sebelumnya yang sempat ditetapkan 20 persen sejak Agustus 2025 setelah semula direncanakan mencapai 37 persen oleh pemerintahan sebelumnya.
Baca juga: Maju Mundur Negosiasi Tarif AS dan RI, Sampai Mana?
Pemangkasan tarif menjadi 19 persen ini disebut media sebagai langkah ke level baru yang bersejarah, deskripsi yang menunjukkan kedua negara memasuki fase baru dalam hubungan perdagangan mereka, meskipun perubahan angka tarif itu sendiri terbilang moderat.
Ilustrasi industri tekstil.
Penetapan tarif 19 persen ini juga ditempatkan dalam konteks kompetisi global. Misalnya, negara tetangga seperti Vietnam masih menghadapi tarif sekitar 20 persen.
Sementara itu, pembicaraan dagang antara AS dan India dilaporkan berujung pada tarif impor India menjadi 18 persen di perjanjian yang hampir bersamaan.
Akses bebas tarif untuk tekstil dan pakaian tertentu
Kerangka perjanjian turut mencakup mekanisme baru terkait sektor industri tekstil dan pakaian (ready-made garments/RMG), sektor ekonomi yang menjadi tulang punggung ekspor Bangladesh.
Baca juga: India dan AS Capai Kesepakatan Dagang, Tarif Turun Jadi 18 Persen
AS akan membangun mekanisme untuk mengizinkan sejumlah barang tekstil dan pakaian tertentu asal Bangladesh masuk ke pasar AS dengan zero reciprocal tariff (bebas tarif timbal balik), dengan syarat produk tersebut dibuat menggunakan kapas dan/atau serat buatan yang diproduksi di AS.
Pasar bebas tarif ini dirancang untuk memberi insentif pada pemanfaatan bahan baku sumber AS dan mendukung keterhubungan rantai pasok antara produsen AS dengan industri tekstil Bangladesh.
Preferensi akses pasar dan komitmen ekspor AS
Sebagai imbalan atas pengaturan tarif ini, Bangladesh berkomitmen memberikan akses pasar preferensial yang signifikan terhadap produk industri dan pertanian AS, termasuk:
- Produk industri: kimia, mesin dan suku cadang, peralatan ICT (teknologi informasi dan komunikasi), serta perangkat medis.
- Produk pertanian dan pangan: produk kedelai (soybean), produk susu, daging sapi dan unggas, serta kacang pohon dan buah-buahan lainnya.
- Dengan pembukaan pasar tersebut, eksportir AS diperkirakan mendapatkan ruang ekspor yang lebih luas ke Bangladesh, menguatkan permintaan terhadap komoditas strategis AS.
Baca juga: Trump Ancam Tarif 50 Persen untuk Pesawat Buatan Kanada
Bahasan hambatan non-tarif
Ilustrasi ekspor.
Selain isu tarif, pernyataan bersama menyebutkan komitmen kedua negara untuk secara sistematis menangani hambatan non-tarif (non-tariff barriers). Bangladesh sepakat untuk menerima:
- Standar keselamatan kendaraan dan emisi AS.
- Sertifikasi dan izin pemasaran dari U.S. Food and Drug Administration (FDA) untuk produk farmasi dan alat kesehatan.
- Penghapusan pembatasan impor atas barang yang diremanufaktur atau dibongkar ulang (remanufactured items).
Langkah ini diharapkan membuat proses ekspor-impor berjalan lebih lancar dan mengurangi biaya non-tarif yang sering dipandang sebagai hambatan dalam perdagangan.
Komitmen regulasi internal Bangladesh
Kesepakatan ini juga memuat komitmen Bangladesh untuk menyesuaikan beberapa regulasi internal agar selaras dengan praktik internasional, termasuk:
Baca juga: Kesepakatan Tarif Resiprokal Rampung Tunggu Jadwal Pertemuan Prabowo dan Trump
- Kebijakan good regulatory practices.
- Memperkuat perlindungan hak tenaga kerja internasional yang diakui, termasuk larangan tenaga kerja paksa (forced labor).
- Penegakan hukum untuk organisasi pekerja dan negosiasi kolektif.
- Perlindungan lingkungan dan pengawasan hukum lingkungan yang lebih efektif.
- Fasilitasi kepabeanan (trade facilitation) yang lebih transparan.
Pembelian komersial produk AS oleh Bangladesh
Pernyataan bersama juga mencatat sejumlah kesepakatan komersial baru atau yang akan segera direalisasikan sebagai bagian dari hubungan ekonomi yang lebih luas antara kedua negara.
Kedua pihak menyoroti komitmen Bangladesh dalam membeli produk AS dengan nilai besar, antara lain sebagai berikut.
- Sekitar 3,5 miliar dollar AS untuk pembelian produk pertanian AS, termasuk gandum, kedelai, kapas, dan jagung.
- Komitmen pembelian produk energi dengan nilai diperkirakan mencapai 15 miliar dollar AS selama 15 tahun ke depan.
- Rencana pembelian pesawat dari industri kedirgantaraan AS, termasuk pesawat Boeing.
Baca juga: Trump Naikkan Tarif untuk Korsel Jadi 25 Persen, Ada Apa?
Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.
Hak ekspor dan posisi Bangladesh di pasar global
Bangladesh selama ini dikenal sebagai salah satu eksportir tekstil dan pakaian terbesar dunia, dengan lebih dari 80 persen dari total pendapatan ekspornya berasal dari sektor garmen ini.
Strategi pemangkasan tarif menjadi sangat penting karena sektor ini mentargetkan akses pasar AS yang merupakan salah satu pasar ekspor besar bagi produk Bangladesh.
Menurut data Export Promotion Bureau Bangladesh, AS tetap menjadi tujuan ekspor utama Bangladesh, dengan nilai ekspor mencapai miliaran dollar AS per tahun.
Pemangkasan tarif menjadi peluang penting untuk mempertahankan daya saing ekspor Bangladesh di tengah persaingan global.
Baca juga: Perjanjian Tarif Resiprokal dan Masa Depan WTO: Pelajaran dari Brexit
Proses implementasi perjanjian
Pernyataan kedua negara menyatakan akan menyelesaikan proses domestik formalitas masing-masing sebelum perjanjian tersebut mulai berlaku secara resmi.
Pemberlakuan ini menandai fase penting dalam hubungan perdagangan antara AS dan Bangladesh di tahun 2026, serta memberikan arah strategis bagi pengusaha kedua negara.
Tag: #pangkas #tarif #impor #bangladesh #jadi #persen #tekstil #dapat #skema #khusus