AI Terpintar Vs Soal Matematika Bikinan Profesor, Hasilnya Sesuai Keinginan Pelajar
Sir Martin Hairer, pemenang Fields Medal (penghargaan paling bergengsi setara Nobel di dunia matematika)(NYT)
13:06
10 Februari 2026

AI Terpintar Vs Soal Matematika Bikinan Profesor, Hasilnya Sesuai Keinginan Pelajar

- Ketakutan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menggantikan peran matematikawan ditepis mentah-mentah oleh Martin Hairer, peraih Fields Medal 2014 (penghargaan paling bergengsi di dunia matematika).

Menurut Hairer, matematika masih "aman" dari ancaman AI.

Hal ini diungkapkan Hairer saat menjawab kegelisahan seorang siswa SMA yang mengirim e-mail kepadanya.

Siswa tersebut khawatir masa depannya di bidang matematika akan sirna karena kemampuan AI yang makin canggih setiap harinya.

Hairer menenangkan siswa tersebut dengan argumen yang kuat. Ia mengakui bahwa Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT memang jago menyelesaikan soal-soal latihan standar yang sudah ada jawabannya di internet.

Namun, ia menegaskan belum pernah melihat satu pun contoh di mana AI mampu mencetuskan ide atau konsep matematika yang benar-benar orisinal.

"Saya belum melihat contoh yang masuk akal di mana LLM menghasilkan ide atau konsep baru yang benar-benar orisinal," ujar Hairer.

Untuk membuktikan klaim tersebut, Hairer bersama tim matematikawan elit dari Harvard, Stanford, dan MathSci.ai merilis eksperimen bertajuk "First Proof".

Dalam eksperimen ini, mereka menguji model AI tercanggih saat ini, termasuk ChatGPT-5.2 Pro dan Google Gemini 3.0 Deep Think, menggunakan soal-soal riset yang belum pernah dipublikasikan.

Baca juga: Moltbook, Medsos Tempat AI Saling Ngobrol dan Ngomongin Manusia

Tujuannya jelas, memastikan AI tidak bisa "menyontek" jawaban dari data latihannya di internet.

Hasilnya? Mengecewakan. Hairer bahkan menyamakan jawaban AI dengan "mahasiswa S1 yang kurang pintar".

"Model AI cenderung memberikan banyak detail bertele-tele pada bagian yang mudah. Namun, pada inti argumen yang sulit, detailnya sangat minim," kata Hairer.

Ia menambahkan, AI seolah tahu titik awal dan tujuan akhirnya, tetapi tidak tahu jalan untuk sampai ke sana.

Alhasil, AI sering kali hanya "mengarang" atau melakukan hand-waving (memberikan argumen yang tidak jelas/kabur) di tengah-tengah pembuktian, berharap pembaca tidak menyadarinya.

Baca juga: Lulusan Kampus Beken Tak Lagi Aman di Era AI

Kelemahan AI 

Tim peneliti menemukan beberapa alasan kenapa AI masih belum bisa menggantikan profesor matematika:

  • Lemah di visual, AI terkenal buruk dalam penalaran visual (visual reasoning), jadi soal yang butuh imajinasi ruang pasti gagal.
  • Daya ingat pendek, jika jawaban membutuhkan pembuktian panjang lebih dari 5 halaman, kualitas jawaban AI langsung drop dan mulai ngawur.
  • Cuma "Yes Man", Tamara Kolda, salah satu penulis makalah, menyebut AI membosankan karena tidak bisa diajak debat. AI hanya mengikuti sudut pandang penggunanya, padahal kemajuan sains butuh perdebatan ide.

Baca juga: Cara Mengerjakan Soal Matematika dengan Gemini AI, Mudah dan Cepat

Terjebak "Infinite Loop"

Lauren Williams, profesor matematika dari Harvard yang terlibat dalam riset ini, menemukan fenomena unik lainnya. Saat diuji dengan masalah riset sungguhan, AI sering terjebak dalam lingkaran setan (infinite loop).

AI akan memberikan jawaban, lalu mengoreksi dirinya sendiri ("Tunggu, ada yang salah!"), memberikan jawaban baru, mengoreksinya lagi, dan begitu seterusnya tanpa pernah sampai pada solusi final yang benar.

Tamara Kolda, salah satu penulis riset dari MathSci.ai, juga memperingatkan bahaya lain yang lebih fundamental. Menurut dia, AI justru berpotensi memperlambat kemajuan sains di masa depan.

Alasannya, AI hanya akan mengulang sudut pandang yang diperintahkan kepadanya, berbeda dengan rekan kerja manusia yang bisa berdebat dan memberikan perspektif baru yang menantang, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari The New York Times, Selasa (10/2/2026).

Baca juga: 8 Aplikasi AI yang Bisa Jawab Soal Matematika, Gratis dan Mudah Dipakai

Tag:  #terpintar #soal #matematika #bikinan #profesor #hasilnya #sesuai #keinginan #pelajar

KOMENTAR