Beli Emas Tanpa Rugi: 9 Kesalahan yang Harus Dihindari
Emas selama beberapa dekade dikenal sebagai salah satu instrumen investasi yang aman dan menarik bagi investor individu yang ingin mendiversifikasi portofolio mereka.
Di Indonesia, emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam), emas Pegadaian, hingga produk emas digital semakin mudah diakses masyarakat.
Emas juga kerap dipilih sebagai lindung nilai terhadap inflasi serta gejolak ekonomi.
Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 10 Februari 2026 Menguat, Tembus Rp 2,95 Juta per Gram
Ilustrasi emas Antam, harga emas Antam hari ini, harga Antam hari ini, harga logam mulia Antam.
Namun, bagi investor pemula, membeli emas dapat menjadi pengalaman yang mengecewakan jika dilakukan tanpa pemahaman yang tepat.
Dikutip dari Money.com, Selasa (10/2/2026), berikut sejumlah kesalahan yang paling umum dilakukan investor pemula saat membeli emas.
1. “Terjun semua sekaligus” akibat berita pasar yang menakutkan
Salah satu kesalahan terbesar adalah “going all in after a scary headline”, yaitu langsung mengalokasikan seluruh dana investasi ke emas setelah melihat berita pasar yang buruk atau volatilitas di pasar saham.
Di Indonesia, fenomena ini sering muncul ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam atau ketika terjadi gejolak global yang memicu kekhawatiran resesi.
Baca juga: Investor Baru Wajib Tahu, Ini Cara Aman Membeli Emas Batangan
Investor pemula kerap memindahkan dana secara besar-besaran ke emas karena dianggap lebih aman.
Berita-berita pasar dapat membuat investor lebih rentan terhadap keputusan emosional yang merugikan keuntungan jangka panjang mereka.
Keputusan emosional akibat berita jangka pendek dapat merugikan imbal hasil jangka panjang.
Di samping itu, pergeseran mendadak tanpa strategi jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan portofolio, terutama jika emas dibeli pada harga tinggi akibat lonjakan permintaan sesaat.
Ilustrasi emas. Berikut daftar harga emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam Mulia
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 10 Februari 2026: UBS dan Galeri24 Kompak Menguat
2. Terlalu banyak membeli emas dalam waktu singkat
Kesalahan berikutnya adalah membeli emas dalam jumlah besar sekaligus tanpa strategi bertahap. Investor disarankan agar membangun posisi emas secara bertahap untuk mengurangi risiko membeli pada harga puncak.
Di Indonesia, harga emas batangan, terutama emas Antam, sering mengalami fluktuasi harian mengikuti harga emas global dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Pembelian bertahap dapat membantu investor meredam risiko volatilitas tersebut.
Pendekatan ini juga relevan bagi pembelian emas digital melalui platform resmi yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di mana investor dapat membeli dalam nominal kecil dan konsisten.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 10 Februari 2026: Bertahan di Rp 2,94 Juta per Gram, Cek Daftarnya
3. Mengabaikan peran emas dalam seluruh perencanaan portofolio investasi
Emas bukanlah keseluruhan strategi investasi. Artikel tersebut menekankan bahwa emas idealnya hanya mengambil porsi kecil dalam portofolio, biasanya sekitar 5 sampai 10 persen dari total aset.
Alokasi ini bertujuan memaksimalkan manfaat diversifikasi tanpa membuat portofolio terlalu bergantung pada satu jenis aset.
Sebagai investor Indonesia, diversifikasi dapat mencakup saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, reksa dana, obligasi negara, serta instrumen pasar uang.
Anda bisa berkonsultasi dengan perencana keuangan jika tidak yakin berapa banyak emas yang seharusnya ada dalam portofolio investasi sebelum menentukan porsi aset.
Baca juga: Harga Emas Sempat Anjlok Awal 2026 Usai Cetak Rekor, Saatnya Beli atau Tunggu?
4. Menjual emas terlalu cepat saat pasar menguat
Ilustrasi emas batangan. Harga emas naik ke kisaran 5.000 dollar AS per troy ons pada awal pekan. Pergerakan ini terjadi setelah pasar logam mulia berfluktuasi tajam dan pelaku pasar menanti data ekonomi Amerika Serikat.
Ketika pasar saham global atau domestik menguat, investor pemula sering tergoda menjual emas untuk mengejar potensi keuntungan lebih tinggi di saham.
Namun, perlu diingat bahwa emas berfungsi sebagai aset pelindung (recession-proof asset), bukan semata-mata untuk memaksimalkan imbal hasil saat pasar saham naik.
Wajar jika harga emas tertinggal dari pasar saham selama beberapa siklus, tetapi biasanya itu tidak lantas membenarkan untuk sepenuhnya meninggalkan investasi emas.
5. Tergiur taktik penjualan bertekanan tinggi
Investor pemula sering menjadi sasaran praktik penjualan agresif, baik dalam bentuk penawaran koin emas edisi terbatas maupun promosi investasi emas dengan janji keuntungan cepat.
Baca juga: Harga Emas di Pakistan Bergejolak, Pembeli Beralih ke Perak
Investor mewaspadai pressure selling tactics yang mendorong keputusan cepat tanpa riset mendalam.
Penting untuk memastikan pembelian emas dilakukan melalui saluran resmi, seperti gerai resmi Antam atau lembaga keuangan yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Riset terhadap reputasi penjual dan transparansi harga menjadi kunci untuk menghindari potensi kerugian.
6. Tidak memahami struktur biaya
Kesalahan umum lainnya adalah kurang memahami biaya yang melekat pada investasi emas.
Baca juga: Emas Bukan Cuma Antam, Ini 6 Merek Logam Mulia di Indonesia
Bagi investor, penting untuk memahami biaya penyimpanan, spread harga beli dan harga jual, hingga biaya administrasi.
7. Membeli koin koleksi yang kompleks
Pembelian koin emas koleksi menambah kompleksitas karena nilainya tidak hanya ditentukan oleh harga emas, tetapi juga faktor kelangkaan, kondisi fisik, dan permintaan kolektor.
Emas batangan standar dengan sertifikat resmi lebih transparan dalam hal harga dan likuiditas dibandingkan koin koleksi yang pasarnya terbatas.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) memandang tren kenaikan harga emas sebagai momentum untuk memperluas bisnis emas fisik atau bullion bank yang tengah digarap perseroan.
8. Menyimpan emas fisik di rumah tanpa sistem keamanan yang tepat
Menyimpan emas fisik di rumah tanpa sistem keamanan memadai meningkatkan risiko kehilangan atau pencurian.
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik 0,7 Persen, Pasar Cermati Arah The Fed
Risiko fisik ini dapat menghilangkan nilai investasi bukan karena pergerakan harga, tetapi karena faktor keamanan. Di Indonesia, investor dapat memilih layanan penitipan atau brankas bank untuk mengurangi risiko tersebut.
Alternatif lain adalah menggunakan emas digital atau instrumen berbasis pasar modal yang tidak memerlukan penyimpanan fisik.
9. Kehilangan dokumen penting emas
Dokumen seperti sertifikat keaslian dan bukti pembelian sangat penting ketika ingin menjual kembali emas.
Tanpa dokumen tersebut, proses penjualan bisa menjadi lebih sulit atau harga jual menjadi kurang optimal.
Baca juga: Harga Emas Hartadinata Abadi 9 Februari 2026: Tembus Rp 2,92 Juta Per Gram
Oleh karena itu, penting untuk mengorganisasi dokumen dengan baik.
Sertifikat resmi dari Antam atau lembaga penjual menjadi faktor penting dalam menentukan kepercayaan pembeli di pasar sekunder.
Karakteristik investasi emas
Sejalan dengan kesalahan-kesalahan di atas, terdapat beberapa karakteristik utama investasi emas yang perlu dipahami.
1. Peran diversifikasi
Emas berfungsi sebagai penyeimbang risiko dalam portofolio, bukan sebagai aset dominan.
Baca juga: Harga Emas Bergejolak, Menkeu AS Singgung Spekulasi di China
2. Fluktuasi harga
Harga emas dipengaruhi faktor global seperti suku bunga AS, nilai dollar AS, serta ketegangan geopolitik.
3. Pilihan instrumen
Investor Indonesia dapat memilih emas fisik, emas digital, reksa dana berbasis emas, atau ETF yang tercatat di bursa.
Tag: #beli #emas #tanpa #rugi #kesalahan #yang #harus #dihindari