Cuaca Ekstrem di Bali, Kawasan Wisata Ubud Terendam Banjir
Ilustrasi banjir.(SHUTTERSTOCK/Tirta Ajie Irawan)
08:35
19 Desember 2025

Cuaca Ekstrem di Bali, Kawasan Wisata Ubud Terendam Banjir

Imbas cuaca ekstrem beberapa hari belakangan, dan hujan deras yang disertai angin kencang sejak Kamis (18/12/2025), kawasan wisata Ubud, Gianyar, Bali, terendam banjir.

Dikutip dari Tribunnews (18/12/2025), genangan air merendam jalur utama menuju Ubud, termasuk Jalan Desa Lodtunduh, hingga menyebabkan sejumlah kendaraan mogok.

Di jalan-jalan kecil seperti Jalan Sandat dan Jalan Sri Wedari, ketinggian air mencapai betis orang dewasa. 

Kondisi ini membuat pengendara menepi dan menimbulkan kemacetan. Selain banjir, longsor juga dilaporkan terjadi di beberapa titik Gianyar.

BPBD masih melakukan pendataan dan mengimbau masyarakat serta wisatawan untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.

Penerbangan sempat terganggu

Imbas cuaca ekstrem di Bali, aktivitas penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sempat terganggu.

"Betul (penerbangan sempat terganggu karena cuaca ekstrem), tapi sudah normal kembali. Hari ini kondisi cerah," kata Kepala Divisi Komunikasi dan Legal Bandara I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi saat Kompas.com konfirmasi via WhatsApp, Jumat (19/12/2025) pagi.

Gede juga mengatakan bahwa lalu lintas menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai terpantau aman dan tidak terdampak banjir.

Diberitakan Tribunnews,  ada 17 penerbangan menuju Bali yang sempat  terdampak. Rinciannya, 13 penerbangan sempat holding di udara sebelum akhirnya mendarat dengan aman, satu penerbangan kembali ke bandara asal, dan tiga penerbangan dialihkan ke Lombok.

General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ahmad Syaugi Shahab, menjelaskan jarak pandang sempat turun di bawah 500 meter.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dikelola PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports), DOK. ANGKASA PURA INDONESIA Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dikelola PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports),

Demi keselamatan penerbangan dan penumpang, pihak bandara melakukan pengaturan terhadap pesawat yang akan mendarat maupun lepas landas.

 “Sekitar pukul 14.28 WITA jarak pandang berangsur normal menjadi 800 meter, sehingga operasional penerbangan kembali berjalan,” ujar Syaugi, dikutip dari Tribun News.

Sebelumnya, diberitakan  Kompas.com (16/12/2025) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat 5 dari 9 kabupaten/kota se-Bali telah terdampak bibit Siklon 93S berupa peristiwa banjir sejak Kamis (11/12/2025) lalu.

Yang pertama kejadian luapan atau banjir di Karangasem pada Sabtu (12/12/2025).

Kemudian pada Minggu (13/12/2025), kejadian di Denpasar dan Badung. Lalu pada Senin (15/12/2025) di Gianyar dan Jembrana.

"Dan ancaman ini masih berpotensi beberapa hari ke depan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, Selasa (16/12/2025).

Ia mengatakan meski saat ini Siklon 93S menjauh dari khatulistiwa, dampak berupa curah hujan tinggi dan angin masih ada.

Kasus di Karangasem saja, kata dia, bencana banjir akibat luapan sungai memberi dampak ke 50 Kepala Keluarga (KK) dan dua bangunan sekolah.

“Kemudian di Denpasar terdapat 20 titik banjir dan di Badung 14 titik, jadi cukup banyak walaupun tidak sebanyak pada bulan September dan itu titiknya berbeda karena karakter hujannya berbeda,” ujar Gede Teja.

Di Gianyar, lanjutnya, banjir merendam lima titik jalan utama dengan tinggi melebihi satu meter dan membuat tembok rumah warga runtuh sehingga menutup akses jalan raya.

“Kalau di Gianyar juga kemarin ada yang luka satu orang, tapi tidak ada pengungsian semua ada di rumah, tapi banyak rumah terdampak, di sana banyak tempat yang memang wilayah peta banjir, cuma sekarang eskalasinya, kalau dulu biasa di bawah lutut sekarang naik, ada yang sepinggang,” ucapnya.

Di Jembrana bencana banjir terjadi di empat desa disertai pohon tumbang dan banjir di jalur utama Denpasar-Gilimanuk.

BPBD Bali menjelaskan karakter Siklon 93S berbeda dengan Gelombang Rosby yang menyebabkan banjir besar pada September lalu.

Namun dampak siklon terhadap curah hujan dan angin patut diwaspadai.

Tak ingin menyalahkan cuaca ekstrem, BPBD Bali juga mengakui bencana banjir turut disebabkan oleh daya dukung lingkungan yang kurang.

"Daya dukung lingkungan belum siap, belum sesuai dengan kemampuan mengalirkan air dengan baik, tata ruangnya, sistem drainasenya, memang perlu rekayasa sistem drainase untuk mengantisipasi curah hujannya,” kata dia.

Tag:  #cuaca #ekstrem #bali #kawasan #wisata #ubud #terendam #banjir

KOMENTAR