



Sajak: Robusta
Robusta
Pahit dan kuat
Robusta mengeja malam pekat
Cangkir-cangkir memanas
Menahan tempias
Hujan yang merupa bingkisan dalam kerumunan
Gigil merangkak menuju sunyi
Menusuk hingga hati
Robusta dituang menyangga sepasang mata
Orang-orang terus terjaga dalam mimpi yang tertunda
Memeluk kehangatan
Memilih menempa diri menjaga kehidupan
Seiris malam
Dan kentongan
Dalam cerita puluhan tahun purna
Kini robusta, tetap menjadi diksi dalam puisi
Entah perihal tawa dan air mata
Atau pelarian
Atas berbagai rupa perasaan.
Batang, 7 Oktober 2023
---
Baik-Baik Aku
Aku Menggenggamnya; yang
hendak lari dari tubuhku
Ingin rasanya kucuci ia dengan air mata
Agar semuanya jernih serupa telaga masa balita
Baik-baik, ya, aku!
menyaksikan seraut muka di depan cermin
senandika kesedihan dan segala ingin
merambat di telinga
betapa muskil kedewasaan
serupa benang kehilangan jarum
bermandi simpul
silang sengkarut
dan kusut
Baik-baik, ya, aku!
diri hanya sebuah jasad meniti alur
telah dituliskan
pertinggal catatan
ihwal kehidupan
namun, tak berarti hanya hibuk menerima diri tanpa daya
lantas berlepas menunggu nyawa
Batang, Desember 2023
---
Kepada Cinta Pertama
’’Kutulis sajak ini untuk seorang lelaki
yang mengenalkanku pada layang-layang, panjat pohon, dan bola kasti
lantunan azannya pada hari kelahiran di telinga
telah tertandai semenjak tangis pertama…’’
1/
hari-hari seorang anak yang tak dilahirkannya
adalah rindu yang tak pernah purna
serupa kenangan menimang dan mendongeng
menitipkan kisah kebijaksanaan di ubun-ubun
serta helai rambutku yang jelaga
sebelum kantuk memeluk tubuh
dan menitipkan pejam pada sepasang mata
bapak adalah punggung yang piawai menyembunyikan
air mata dan kesedihan, di kencang urat tangannya masa kecilku bergelantungan
serupa pendulum hari yang beringsut silih berganti
senang ke sedih, tawa kepada air mata
seakan mengabaikan kasar tangan yang tercicip onak dan duri
sebab di sanalah gelisah dan takutku telah terpagut
berkelindan dengan kilat dan gelegar guntur kehidupan
nyeri serta beku dinginnya kemiskinan
2/
Di sepasang mata bapak, kusaksikan pula
sketsa usang bangku sekolahan
ijazah pendidikan yang luput dari genggaman
betapa terbelenggunya ia dalam damba
masa lalu yang meninggalkan bingkisan kecewa
merangsek dan menjagal sepasang terompah yang usang dan lelah
terseok-seok meniti jalan kehidupan
’’hanya baca tulis hitung seadanya
dan bilangan rupiah tak seberapa….”
Kata bapak berkecil hati. Membandingkan dengan Bapak orang lain –teman anaknya
Yang lebih mentereng dan kaya
Namun bapak tetaplah bapak
cinta pertama bagi seorang anak perempuan
Yang mencintai dan selalu menyebut nama
Dalam sujud panjang dan tengadahnya doa-doa
3/
Kendati kini, anak perempuan yang dulu kau timang telah dipinang
Seorang lelaki pilihannya
Namun, ia tetaplah putri kecilmu yang dulu
Yang gemar mengandaikan kendaraan di bidang punggungmu
Yang selalu kau gandeng ke tempat-tempat baru
Bapak, adalah cinta kasih keabadian
di antara insomnia, helai uban, dan arsiran penuaan di wajahnya
yang tak pernah selesai mencintai putri-putrinya
Batang, 9 Juni 2021
---
KURNIA HIDAYATI, Lahir di Batang, 1992. Saat ini mengajar di SMP Negeri 6 Batang.