SBY Kirim Pesan untuk Trump dan Khamenei Terkait Eskalasi Konflik AS dan Iran
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memberikan kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Senin (23/2/2026).(KOMPAS.com/NICHOLAS RYAN ADITYA)
21:36
27 Februari 2026

SBY Kirim Pesan untuk Trump dan Khamenei Terkait Eskalasi Konflik AS dan Iran

Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pesan kepada para pemimpin negara-negara yang hendak berkonflik, dalam hal ini Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Ayatullah Khamenei.

Melalui akun Twitter @SBYudhoyono, Jumat (27/2/2026) malam, SBY memberikan perhatian terkait perundingan antara pemerintah AS dengan Iran yang sedang terjadi di Jenewa, Swiss.

SBY bilang negosiasi utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak.

"Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang," tulis SBY.

Baca juga: AS Kosongkan Kedubes di Israel, Geber Persiapan Serang Iran

Namun di balik juru runding kedua negara, ada dua pemimpin yang disebut "unik" oleh SBY, yakni Trump dan Khamenei.

Menurut SBY, Trump dan Khamenei punya ambisi dan juga rasa percaya diri.

Oleh sebab itu, SBY menilai perundingan di Jenewa yang sedang berlangsung menjadi titik nadir.

Jika tak bisa membuahkan hasil apapun, perang tinggal menunggu tangan Trump dan Khamenei memencet tombol memulai.

Baca juga: Milisi Kuat Irak Siaga Perang Panjang Iran-Amerika, Akan Ikut Tempur

"Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah," tulis SBY.

Secara khusus, SBY mengingatkan Trump terkait dengan peperangan AS di masa lalu, di mana kemenangan berperang bukan berarti sebuah penaklukan.

Ia mencontohkan, ada banyak sejarah pahit ketika AS berperang baik di Vietnam, Irak, dan Afghanistan.

Dalam teori perang, Amerika Serikat mungkin menang di Irak, tetapi bukan berarti Irak telah ditaklukan sepenuhnya.

Baca juga: Iran-AS Memanas, Status Siaga 1 untuk WNI Masih Berlaku

Saat perang tersebut terjadi, hasilnya adalah yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu.

Terlebih saat ini Iran memiliki kesiapan yang lebih baik dari sisi senjata nuklir.

"Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan," tulis SBY.

"Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan," sambung dia.

Baca juga: AS Kirim Jet Tempur Siluman F-22 ke Israel, Siap Hadapi Iran

SBY dalam pesannya mengatakan, selama 30 tahun menjadi seorang prajurit dan bertempur untuk membela negara, suksesnya sebuah perang ditentukan dari hati dan pikiran para prajurit.

"Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati)," ucap SBY.

Konflik Iran dan AS

Sebagai informasi, konflik antara AS dan Iran semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump tengah mematangkan strategi militer dua tahap untuk menghadapi Iran.

Rencana ini bertujuan memberikan tekanan hebat hingga peluang penggulingan kekuasaan di Teheran jika jalur diplomasi menemui jalan buntu.

Baca juga: Negosiasi Nuklir AS-Iran Buntu Lagi, Perang di Depan Mata?

Informasi mengenai pertimbangan internal pemerintahan ini mencuat setelah adanya pertemuan tertutup di Ruang Situasi Gedung Putih pada Rabu (18/2/2026). Dikutip dari The New York Times, Minggu (22/2/2026), tahap pertama yang dipertimbangkan Trump adalah serangan awal dalam waktu dekat.

Fokus dari operasi ini bukan langsung menyasar kepemimpinan tertinggi, melainkan melumpuhkan otot militer dan aset strategis Iran.

Sejumlah target potensial yang masuk dalam radar militer AS antara lain markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), situs nuklir strategis, dan fasilitas program rudal balistik.

Langkah ini dirancang untuk memberikan efek kejut dan tekanan maksimal agar Iran bersedia tunduk pada tuntutan diplomatik Washington.

Tag:  #kirim #pesan #untuk #trump #khamenei #terkait #eskalasi #konflik #iran

KOMENTAR