Bercak Putih Mati Rasa Bisa Jadi Gejala Kusta, Ini Penjelasan Dokter
Munculnya bercak putih pada kulit sering kali dianggap sebagai panu atau masalah kulit biasa.
Namun, dalam beberapa kasus, bercak yang disertai mati rasa bisa menjadi gejala awal kusta.
Dokter spesialis kulit dan kelamin di RSUD Banyumas, dr. Ermadi Satriyo Sudibyo, M.Sc., Sp.DVE, menjelaskan bahwa kusta masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia dan kerap terlambat terdeteksi karena gejalanya tidak disadari sejak dini.
“Gejala paling khas kusta adalah bercak pada kulit yang mengalami penurunan atau hilangnya rasa. Bercak ini bisa berwarna lebih terang atau kemerahan dibanding kulit sekitar,” ujar dr. Ermadi dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, dikutip Jumat (27/2/2026).
Baca juga: Mengapa Indonesia Masih Peringkat Ketiga Kusta di Dunia? Ini Penjelasan Dokter
Tidak Nyeri, Justru Itu yang Berbahaya
Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi.
Berbeda dengan banyak penyakit kulit lain yang menimbulkan gatal atau nyeri, bercak kusta sering kali tidak menimbulkan keluhan berarti.
Menurut dr. Ermadi, justru karena tidak terasa sakit, banyak pasien mengabaikannya.
“Pasien sering tidak sadar karena bercaknya tidak gatal dan tidak sakit. Padahal ketika disentuh, area tersebut mati rasa atau baal,” jelasnya.
Penurunan sensasi ini terjadi karena bakteri menyerang saraf tepi. Jika tidak ditangani, kerusakan saraf bisa menjadi permanen dan menyebabkan kelemahan otot hingga kecacatan.
Gejala Lain yang Perlu Diwaspadai
Selain bercak mati rasa, beberapa tanda lain yang dapat muncul antara lain:
- Kulit terasa kebas atau kesemutan
- Kelemahan pada tangan atau kaki
- Luka pada telapak tangan atau kaki yang tidak terasa nyeri
- Penebalan saraf di area tertentu
Pada kondisi lebih lanjut, dapat terjadi perubahan bentuk jari tangan atau kaki akibat kerusakan saraf yang berkepanjangan.
“Jika menemukan bercak yang mati rasa dan tidak membaik dalam beberapa minggu, sebaiknya segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan,” kata dr. Ermadi.
Baca juga: Dua WNI Terdiagnosis Kusta di Rumania, Kasus Pertama Setelah 40 Tahun
Kusta Bisa Disembuhkan
Dr. Ermadi menegaskan bahwa kusta bukan kutukan dan bukan penyakit yang tidak bisa diobati.
Pemerintah menyediakan terapi kombinasi antibiotik atau Multi-Drug Therapy (MDT) secara gratis di fasilitas kesehatan.
Dengan pengobatan teratur selama enam hingga 12 bulan, pasien dapat sembuh total dan menghentikan penularan.
“Semakin cepat ditemukan, semakin kecil risiko kecacatan. Deteksi dini adalah kunci,” tegasnya.
Baca juga: Kusta Kembali Muncul di Romania Setelah 40 Tahun, Pemerintah Tegaskan Risiko Rendah
Pentingnya Edukasi dan Menghapus Stigma
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kusta adalah stigma. Masih banyak masyarakat yang takut atau malu memeriksakan diri karena khawatir dikucilkan.
Padahal, pasien yang sudah menjalani pengobatan secara rutin umumnya tidak lagi menjadi sumber penularan. Edukasi yang tepat diperlukan agar masyarakat memahami bahwa kusta adalah penyakit infeksi yang dapat disembuhkan.
“Yang perlu kita lawan bukan hanya bakterinya, tetapi juga stigma di masyarakat,” ujar dr. Ermadi.
Mengenali gejala sejak dini bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu memutus rantai penularan.
Jika menemukan bercak putih atau kemerahan yang mati rasa, jangan ragu untuk berkonsultasi ke tenaga kesehatan.
Deteksi cepat dapat mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup tetap optimal.
Tag: #bercak #putih #mati #rasa #bisa #jadi #gejala #kusta #penjelasan #dokter