Mungkinkah China dan AS Membentuk Koalisi G2?
- Presiden AS Donald Trump telah tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) untuk agenda pertemuan puncak (KTT) Pemimpin China Xi Jinping.
Ini menandai tatap muka pertama kedua pemimpin tersebut dalam enam bulan setelah mencapai gencatan senjata perang dagang.
KTT tersebut berlangsung ketika Trump membutuhkan kemenangan kebijakan luar negeri di tengah ketidakpuasan di dalam negeri atas situasi di Timur Tengah.
Trump kemungkinan akan kembali menyerukan agar China bergabung dalam "operasi internasional" untuk membuka Selat Hormuz, yang sejauh ini ditolak oleh Beijing.
Baca juga: Bertemu Xi Jinping, Trump Yakin AS-China Akan Punya Masa Depan Cerah
Di sisi lain, Xi diperkirakan akan mencari keuntungan dalam isu-isu mendesak, termasuk perdagangan, mineral langka, dan pengakuan AS terhadap hak China atas Taiwan.
Satu hal yang menarik dibahas, saat Trump mengancam untuk keluar dari NATO, karena kecewa tidak memberi bantuan saat melawan Iran, KTT Trump-Xi menghidupkan kembali gagasan Kelompok Dua (G2).
Itu adalah kelompok informal di mana dua negara adidaya terbesar di dunia dapat mengarahkan masa depan kolektif dunia.
Baca juga: Bawa CEO Top AS ke Beijing, Trump Mengaku Ingin Hormati China
Konsep G2 AS-China sudah ada sejak era Obama
Konsep "G2" antara China dan AS, serupa dengan forum Kelompok Tujuh (G7) atau Kelompok 20 (G20), awalnya diusulkan oleh ekonom terkemuka AS, C Fred Bergsten, pada 2005.
Secara sederhana, konsep ini menganjurkan tanggung jawab bersama bagi dua ekonomi terbesar di dunia untuk menstabilkan pasar global dan mengatasi isu-isu yang menjadi perhatian global.
Konsep G2 mulai mendapat perhatian selama pemerintahan Presiden AS Barack Obama, yang membentuk Dialog Strategis dan Ekonomi (S&ED) dengan Presiden China Hu Jintao pada 2009.
Baca juga: Xi Jinping kepada Trump: Kita Seharusnya Jadi Mitra, Bukan Saingan
Tujuannya adalah untuk mengupayakan hubungan AS-China yang “positif, kooperatif, dan komprehensif,” menurut Gedung Putih pada saat itu.
Tim Obama meyakini bahwa keterlibatan strategis dengan China diperlukan untuk mengatasi tantangan global, termasuk perubahan iklim dan transisi menuju energi bersih.
Namun, selama bertahun-tahun, gagasan AS dan China dapat menjadi pengelola yang bertanggung jawab atas kebaikan bersama disambut dengan skeptisisme yang signifikan.
Gagasan G2 memicu kekhawatiran akan penyimpangan dari sistem multilateral menuju sistem di mana dua negara adidaya menegaskan kepentingan mereka di atas kepentingan negara lain.
Baca juga: Trump Baru Tiba di Beijing, China Dilaporkan Diam-diam Kirim Senjata ke Iran
Pertemuan Trump dan Xi bukan awal G2
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan negara mereka selama upacara penyambutan di Balai Besar Rakyat di Beijing pada 14 Mei 2026.
Jing Gu, direktur Centre for Rising Powers and Global Development di Institut Studi Pembangunan (IDS) di Inggris, mengatakan bahwa pertemuan tersebut seharusnya tidak dilihat sebagai awal dari G2, melainkan sebagai "pengintaian strategis".
“Kedua belah pihak mencoba membaca batasan terbaru pihak lain, memperjelas garis merah, dan menguji seberapa jauh tekanan dapat berlanjut sebelum ketegangan yang stabil berubah menjadi keretakan,” kata Gu kepada Al Jazeera.
Tujuannya bukan untuk mengakhiri persaingan, melainkan untuk memahami medan, mengatur tempo, dan menghindari pertarungan dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
“Dalam hal ini, kunjungan ini bukan semata-mata tentang rekonsiliasi, melainkan tentang menjaga ketegangan yang terkendali di mana persaingan dapat berlanjut tanpa berubah menjadi bentrokan terbuka,” lanjutnya.
Baca juga: Dua Pemimpin Kekuatan Besar Dunia, Trump dan Xi Jinping Akan Bertemu Hari Ini
Negosiasi mengenai isu perdagangan, teknologi, tata kelola, dan keamanan berpusat bagaimana menjaga persaingan tetap ketat tetapi tetap terkendali.
Senada dengan itu, Steve Tsang, direktur SOAS China Institute di London, Inggris, mengatakan kesepakatan perdagangan kemungkinan akan terjadi, kecuali G2.
“Karena keduanya ingin memastikan pertemuan tersebut sukses. Tetapi itu tidak sama dengan bekerja sebagai G2, yang tidak mungkin terjadi,” ujarnya.
“Ketegangan mendasar adalah bahwa Trump ingin menegaskan kembali AS sebagai negara paling kuat, dan Xi menginginkan hal yang sama.”
Tsang menyebut, keduanya tidak mungkin berhasil secara bersamaan, bahkan jika Xi hanya ingin China diakui sebagai negara terkemuka dan bukan sebagai negara hegemon.
Baca juga: Pertemuan Trump dan Xi Jinping, Akankah Memengaruhi Arah Ekonomi Global?
Dunia meragukan pembentukan G2 oleh AS-China
Jing Gu juga menambahkan, pembentukan G2 akan menyiratkan bahwa seluruh dunia perlu menerima pengelolaan bersama oleh AS-China.
“Itu diragukan,” kata analis tersebut, dan menambahkan “Eropa, India, Jepang, Brasil, Afrika Selatan, Timur Tengah, negara-negara ASEAN, dan banyak negara berkembang tidak ingin tatanan global dinegosiasikan di atas kepala mereka.”
Tsang juga mengatakan jika G2 terwujud, “dunia akan didominasi oleh dua kekuatan yang mementingkan diri sendiri dan hanya tertarik pada diri mereka sendiri.”
Sementara itu, lembaga global seperti Organisasi Perdagangan Dunia akan “menjadi semakin tidak relevan”.
Baca juga: Trump Boyong 18 CEO ke China, Mau Bertemu Xi Jinping
Di sisi lain, kemungkinan terbentuknya G2 juga akan menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara sekutu AS.
Mereka takut bahwa Washington dan Beijing dapat mengesampingkan mereka dari keputusan-keputusan penting dan membuat kesepakatan yang merugikan kepentingan mereka.
Apalagi hubungan transatlantik antara Uni Eropa dan AS tengah tegang pada sejumlah isu, termasuk keanggotaan NATO, klaim Trump atas Greenland, dan bantuan militer kepada Ukraina sejak invasi Rusia pada 2022.
India, Brasil, dan negara-negara berkembang utama lainnya dalam kelompok ekonomi BRICS juga memandang hubungan AS-China sebagai tantangan bagi aspirasi mereka sebagai negara adidaya global.