Pembukaan Hutan Disebut Bisa Picu Kenaikan Kasus “Monkey Malaria”
Ilustrasi monyet. Dokter mengingatkan pembukaan hutan dapat meningkatkan kontak manusia dengan habitat alami pembawa monkey malaria.(iStockPhoto/SolStock)
21:36
13 Mei 2026

Pembukaan Hutan Disebut Bisa Picu Kenaikan Kasus “Monkey Malaria”

Kasus monkey malaria atau malaria knowlesi yang mulai ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia disebut berkaitan dengan perubahan lingkungan dan pembukaan hutan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa alih fungsi lahan dapat meningkatkan interaksi manusia dengan habitat monyet dan nyamuk pembawa parasit malaria.

Hal itu disampaikan dalam webinar IDAI yang diikuti Kompas.com secara daring pada Rabu (13/5/2026).

Dokter spesialis anak konsultan infeksi penyakit tropik IDAI, Inke Nadia Diniyanti Lubis mengatakan, monkey malaria merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia.

“Monkey malaria atau malaria knowlesi disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi,” ujar dr. Inke.

Parasit tersebut umumnya menginfeksi monyet ekor panjang dan beruk. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk anopheles yang sebelumnya menggigit monyet terinfeksi.

Baca juga: Monkey Malaria Sudah Ditemukan di Indonesia, Apa yang Perlu Diwaspadai?

Pembukaan hutan ubah pola interaksi manusia dan satwa

Menurut Inke, meningkatnya kasus monkey malaria tidak bisa dilepaskan dari perubahan ekosistem yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

“Karena terjadi alih fungsi lahan, manusia masuk ke dalam habitat yang baru sehingga berbagi ruang yang sama dengan monyet dan nyamuk yang dapat menularkan,” kata dia.

Ia menjelaskan, pembukaan hutan untuk perkebunan, pertambangan, maupun permukiman membuat manusia semakin sering beraktivitas di area yang sebelumnya menjadi habitat satwa liar.

Akibatnya, risiko penularan penyakit zoonosis ikut meningkat.

Baca juga: Monkey Malaria Mulai Ditemukan di Indonesia, Pendaki Diminta Waspada

Pendaki dan pekerja kebun diminta waspada

Ilustrasi nyamuk. Dokter mengingatkan pembukaan hutan dapat meningkatkan kontak manusia dengan habitat alami pembawa monkey malaria.Freepik/jcomp Ilustrasi nyamuk. Dokter mengingatkan pembukaan hutan dapat meningkatkan kontak manusia dengan habitat alami pembawa monkey malaria.

IDAI menyebut kelompok yang paling berisiko terkena malaria knowlesi adalah masyarakat yang sering beraktivitas di area hutan. Mereka antara lain:

  • Pekerja kebun
  • Pekerja tambang
  • Pencari rotan
  • Masyarakat sekitar hutan
  • Pendaki atau orang yang gemar hiking

Menurut Inke, nyamuk pembawa malaria knowlesi banyak ditemukan di area hutan tropis.

Karena itu, orang yang mengalami demam setelah melakukan aktivitas luar ruang diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul.

Baca juga: 79 Persen Wilayah Indonesia Bebas Malaria, Menkes Optimistis Eliminasi Kasusnya

Gejalanya mirip malaria biasa

Inke menjelaskan, gejala malaria knowlesi sulit dibedakan dari malaria biasa. Gejalanya meliputi:

  • Demam
  • Menggigil
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Mual
  • Muntah
  • Tubuh lemas

Namun, malaria knowlesi dapat berkembang menjadi berat lebih cepat.

“Parasitnya berkembang sangat cepat di dalam tubuh manusia,” ujar dr. Inke.

Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami sesak napas, gangguan ginjal, penurunan kesadaran, hingga syok.

Baca juga: Kemenkes Prioritaskan Eliminasi Malaria di Papua yang Masih Tinggi Kasusnya

IDAI minta masyarakat tidak panik

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso meminta masyarakat tidak panik menyikapi kemunculan monkey malaria di Indonesia.

“Tujuan seminar media pada sore hari ini adalah untuk edukasi agar teman-teman media bisa lebih paham dan membuat diseminasi informasi, tapi jangan bikin panik,” kata dr. Piprim.

Menurut Inke, hingga saat ini belum ditemukan penularan monkey malaria dari manusia ke manusia.

“Penularannya bukan lewat udara, bukan lewat kontak, dan bukan karena makan monyet,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa malaria knowlesi masih dapat diobati menggunakan terapi malaria yang tersedia saat ini.

Cara mengurangi risiko monkey malaria

Untuk menekan risiko penularan, IDAI menyarankan masyarakat:

  • Memakai pakaian lengan panjang saat berada di area hutan
  • Menggunakan obat anti-nyamuk
  • Tidur memakai kelambu
  • Menghindari aktivitas di luar ruangan saat nyamuk aktif, terutama menjelang malam hingga dini hari

Piprim menambahkan, meningkatnya penyakit zoonosis menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.

“Kerusakan ekosistem ternyata juga bisa berkaitan dengan munculnya penyakit-penyakit baru,” kata dr. Piprim.

Baca juga: Inovasi Nyamuk Malaria Diberi Obat untuk Hentikan Penularan

Tag:  #pembukaan #hutan #disebut #bisa #picu #kenaikan #kasus #monkey #malaria

KOMENTAR