Saat Heboh Kasus Pelecehan Seksual, Mengapa Public Figure Lebih Dipercaya?
– Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan pemilik brand Thanksinsomnia, Mohan Hazian memantik perbincangan publik.
Meski korban baru berani bersuara beberapa bulan setelah peristiwa yang disebut terjadi pada 2025, respons sebagian masyarakat mempertanyakan korban dan cenderung membela terduga pelaku yang merupakan public figure.
Dalam kronologi yang beredar, korban merupakan talent pemotretan produk. Usai photoshoot, korban diajak makan bersama, namun situasi berubah ketika korban justru dibawa berdua saja dan mengalami dugaan pelecehan.
Trauma mendalam membuat korban memilih diam cukup lama sebelum akhirnya speak up. Mohan Hazian telah menyampaikan permintaan maaf, namun dinamika opini publik menunjukkan fenomena lain.
Public figure lebih mudah dipercaya dibanding korban. Mengapa hal tersebut sering terjadi? Psikolog dan sosiolog menilai, reaksi ini bukan semata soal fakta kejadian, tetapi juga dipengaruhi bias psikologis dan cara masyarakat memaknai figur publik.
Baca juga: Dugaan Pelecehan Seksual Mohan Hazian Viral, Polisi Sebut Belum Ada Laporan
Efek halo dan citra positif public figure
Psikolog klinis Ellyana Dwi Farisandy, M.Psi., menjelaskan, fenomena ini bisa dipahami melalui teori psikologi sosial, salah satunya halo effect.
“Halo effect ini adalah kesan positif terhadap seseorang itu bisa mempengaruhi penilaian pada aspek yang lainnya,” ungkap Ellyana saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (11/2/2026).
“Ketika seorang public figure ini dianggap memiliki citra yang baik, publik melihatnya sebagai sosok yang baik secara moral,” lanjut Dosen Psikologi Universitas Pembangunan Jaya ini.
Saat muncul tuduhan pelecehan, informasi tersebut dianggap bertentangan dengan citra yang selama ini dibangun. Publik pun menjadi susah untuk melihat peristiwa tersebut secara objektif.
Baca juga: Mohan Hazian Minta Maaf dan Akui Kesalahan Masa Lalu, tetapi Bantah Tuduhan Pemerkosaan
“Ketika ada kasus pelecehan mencuat, informasi itu rasanya bertentangan dengan citra positif yang terbentuk. Maka banyak masyarakat yang percaya public figure tersebut,” kata Ellyana.
Ia menambahkan, jumlah pengikut juga memperkuat bias ini. Tak jarang, masyarakay justru menyalahkan korban atas apa yang dilakukan pelaku.
“Dengan pengikut yang lebih banyak, maka masyarakat jadi keliru dan menyalahkan korban yang dianggap manipulasi atau punya niat untuk menjatuhkan public figure,” ujarnya.
Ilustrasi pelecehan. Polres Malang terus melakukan penyelidikan atas dugaan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh konten kreator asal Kabupaten Malang, IA yang baru-baru ini viral di media sosial.
Kebutuhan percaya dunia yang adil
Selain halo effect, Ellyana menyebut adanya just world hypothesis, yakni keyakinan bahwa dunia berjalan secara adil.
“Teori ini menjelaskan, banyak orang punya kebutuhan psikologis untuk percaya bahwa dunia ini berjalan secara adil. Ketika ada public figure yang dianggap baik ternyata melakukan pelecehan, keyakinan ini bakal terganggu,” tutur Ellyana.
Baca juga: UNICEF: Kasus Cyberbullying hingga Kekerasan Seksual Anak Terus Meningkat
Dalam kondisi ini, masyarakat berusaha mencari penjelasan yang terasa masuk akal bagi mereka. Alih-alih menerima kemungkinan bahwa pelaku benar-benar bersalah, sebagian orang justru menggiring asumsi bahwa korban melakukan sesuatu yang memicu kejadian tersebut.
Sosiolog dan Dosen Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir, M.Sos, menilai pola ini berbahaya karena memindahkan fokus dari perilaku pelaku.
“Citra yang ditampilkan public figure di media sosial tidak sesempurna itu. Masyarakat itu hanya mengetahui sepenggal kecil dari kehidupannya dari media sosial,” kata Sry.
Menurutnya, persepsi semu ini membuat publik lebih mudah membela figur yang dikenal dibanding mendengarkan pengalaman korban.
Authority bias dan tekanan pada korban
Sry Lestari menambahkan, fenomena lain yang berperan adalah authority bias atau bias terhadap figur yang dianggap memiliki otoritas.
“Public figure punya banyak pengikut, maka tak jarang merasa bisa memanfaatkannya untuk membuat si korban semakin tersudutkan,” ujarnya.
Jumlah pengikut kerap dimaknai sebagai legitimasi sosial. Penyalahgunaan kekuasaan ini membuat pelaku semena-mena untuk memutarbalikkan fakta.
Baca juga: Dugaan Pelecehan Seksual oleh Mohan Hazian: Duduk Perkara hingga Klarifikasi
“Kekuasaan yang dimiliki ketika memiliki followers itu dianggap dukungannya besar. Akhirnya memframing bahwa si korbannya itu hanya mencari sensasi,” lanjut Sry Lestari.
Ellyana menilai kondisi ini semakin memperberat beban psikologis korban yang sudah trauma. Ketika korban justru diragukan dan disalahkan, luka mental bisa semakin dalam.
“Ini pentingnya mengedukasi untuk tidak percaya mentah-mentah apa yang ada di media sosial. Jika ada kasus serupa, publik jadi tidak menyalahkan dan semakin menekan mental korban,” Imbau Sry.
Kasus dugaan pelecehan Mohan Hazian menjadi cermin bahwa empati publik masih kerap kalah oleh bias terhadap citra dan popularitas.
Memahami mekanisme psikologis dan sosial ini penting agar korban tidak kembali menjadi pihak yang terluka untuk kedua kalinya.
Baca juga: 4 Fakta Permintaan Maaf Mohan Hazian soal Tudingan Pelecehan Seksual
Tag: #saat #heboh #kasus #pelecehan #seksual #mengapa #public #figure #lebih #dipercaya