Indonesia Boyong Kapal Riset Kelautan dari Jerman
Gambar ilustrasi kapal riset untuk hidrografi.(Jochen Tack/picture alliance via DW Indonesia)
22:30
11 Februari 2026

Indonesia Boyong Kapal Riset Kelautan dari Jerman

Penulis: Ayu Purwaningsih/DW Indonesia

- Di era ketika laut tak lagi hanya soal gelombang, tetapi juga data, Indonesia membeli KRI Canopus-936 dari Jerman

Kapal Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) Ocean Going menambah daftar armada survei laut Indonesia untuk pengelolaan dan pengamanan wilayah maritim.

KRI Canopus-936 merupakan hasil pengadaan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk mendukung kebutuhan survei hidro-oseanografi, pemetaan dasar laut, serta pengumpulan dan pengelolaan data kelautan. 

Menurut Duta Besar Republik Indonesia, Abdul Kadir Jailani, kemampuan tersebut dibutuhkan untuk menunjang kepentingan pertahanan, keamanan, dan kedaulatan maritim.

"Indonesia membutuhkan sarana survei laut berdaya jelajah samudra yang mampu beroperasi secara mandiri, berkelanjutan, dan presisi tinggi. Karena itu, KRI Canopus-936 dirancang tidak hanya sebagai kapal survei ilmiah, tetapi juga sebagai platform pendukung operasi militer nontempur dan pengawasan maritim,” ujar Abdul Kadir Jailani dalam pernyataan tertulisnya.

Baca juga: Tekan Iran, AS Akan Kirim Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah

Antara teknologi dan transfer pengetahuan

Pembangunan KRI Canopus-936 dilaksanakan selama 36 bulan oleh galangan Palindo Marine, bekerja sama dengan galangan Abeking & Rasmussen dari Jerman sebagai mitra teknologi. 

Kerja sama ini berada dalam kerangka kebijakan Imbal Dagang, Kandungan Lokal, dan Offset (IDKLO), yang selama ini diklaim mendorong peningkatan kapasitas industri nasional.

Melalui skema tersebut, pembangunan kapal ini tidak berhenti pada hasil fisik. 

"Transfer teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia menjadi bagian dari proses yang diharapkan dapat memperkuat kemampuan galangan dalam negeri untuk membangun kapal berstandar ocean-going," ujar Dubes.  

Sejauh mana dampak jangka panjangnya terhadap kemandirian industri pertahanan nasional, akan diuji oleh waktu.

Baca juga: 10 Kapal Perang Terbesar yang Pernah Dibuat Manusia

Dirancang untuk operasi jangka panjang

Kapal untuk survei kelautan ini akan diserahterimakan dan diberangkatkan ke tanah air pada hari Kamis (12/2/2026) di Pelabuhan Bremen.

Secara teknis, KRI Canopus-936 dirancang untuk operasi jangka panjang di laut lepas. 

Kapal ini memiliki panjang 105 meter dan lebar 17,4 meter, dengan bobot mati 3.419 ton, serta kapasitas tambahan 200 ton untuk mendukung Submarine Rescue Vessel (SRV).

Struktur kapal menggunakan baja AH36 pada bagian badan kapal di bawah garis air dan baja A-36 pada bagian atas. 

Spesifikasi ini memungkinkan kapal beroperasi di perairan samudra dengan tingkat keamanan yang memadai.

Baca juga: Washington Serukan Kapal Berbendera AS Jauhi Perairan Iran

Dengan kapasitas bahan bakar 610 meter kubik, KRI Canopus-936 diklaim mampu menempuh jarak hingga 10.000 mil laut tanpa henti, dengan kecepatan maksimum 16 knot dan daya tahan operasi mencapai 60 hari. 

Kemampuan tersebut memberi fleksibilitas bagi kapal ini untuk menjalankan misi di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia maupun perairan internasional, tanpa ketergantungan tinggi pada dukungan logistik darat.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap geopolitik maritim dan pengelolaan data kelautan, KRI Canopus-936 menempati posisi yang menarik: bukan kapal tempur, bukan pula sekadar kapal riset. 

Perannya berada di area abu-abu—di mana ilmu pengetahuan, kepentingan strategis, dan realitas keamanan laut saling beririsan.

Artikel ini pernah tayang di DW Indonesia dengan judul: Indonesia Boyong Kapal Riset Kelautan dari Jerman

Baca juga: Derita Awak Kapal WNI: Telantar Berbulan-bulan di Laut Afrika, Tuntut Gaji Belum Dibayar

Tag:  #indonesia #boyong #kapal #riset #kelautan #dari #jerman

KOMENTAR