Keagungan Batik Tanahan dalam Koleksi Baju Muslim Karya Lia Afif
Koleksi dari desainer Lia Afif dalam Indonesia Fashion Aesthetic (IFA) 2026 di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/2/2026).(dok. IFA 2026)
22:05
11 Februari 2026

Keagungan Batik Tanahan dalam Koleksi Baju Muslim Karya Lia Afif

- Desainer Lia Afif kembali menegaskan kecintaannya terhadap wastra Indonesia, melalui karya terbarunya dalam ajang Indonesia Fashion Aesthetic (IFA) 2026 yang digelar di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Kali ini, ia membawa pesan mendalam tentang kemewahan budaya melalui koleksi baju Muslim bertajuk "Reimpire Empire".

"Reimpire itu isian dari batiknya itu. Karena batik yang saya pakai ini adalah batik Tanahan yang cecek-nya (titik) kecil dan pengerjaannya lama, satu motif itu bisa dua bulan lebih," ungkap Lia Afif kepada Kompas.com di lokasi acara, Selasa.

Baca juga: Paduan Tenun NTT dan Motif Perancis dalam Koleksi Raya Gita Orlin

Lia menjelaskan bahwa batik Tanahan dengan motif isian yang sangat detail ini melambangkan sebuah ketelitian untuk memenuhi kekosongan, yang secara filosofis berarti tidak ada celah dalam pengabdian manusia yang dilakukan sepenuh hati.

Sementara “Empire”, ia memaknainya bukan sebagai kerajaan atau kekaisaran, tetapi sebagai keperkasaan dan keteguhan, yang tercermin dari potongan busananya.

Desainer Lia Afif saat ditemui di Indonesia Fashion Aesthetic (IFA) 2026 yang digelar di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/2/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Desainer Lia Afif saat ditemui di Indonesia Fashion Aesthetic (IFA) 2026 yang digelar di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Untuk diketahui, “Reimpre Empire” memiliki "Keagungan Penuh", dan lahir dari penggabungan dua bahasa. “Reimpire” diambil dari bahasa Italia yang berarti "mengisi", sedangkan “Empire” dari bahasa Inggris yang bermakna "kerajaan".

Baca juga: Fleur Reverie, Koleksi Lebaran Bertema Floral dari Paula Verhoeven di IFA 2026

Bagi Lia, sebuah keagungan harus diisi dengan substansi budaya yang utuh. Perihal koleksinya, “keagungan” alias potongan busananya, diisi dengan budaya berupa batik Tanahan sebagai motif.

Siluet berwibawa dan teknik cutting arsitektural

Dalam koleksi terbarunya, Lia menampilkan total 15 looks yang terdiri dari 13 busana wanita dan dua busana pria.

Setiap rancangan menonjolkan garis rancangan yang kuat dengan detail kerah bermotif, aplikasi payet yang elegan, dan paduan warna yang mengalir harmonis.

Sebagai desainer yang memiliki latar belakang pendidikan arsitektur, Lia menerapkan teknik cutting yang presisi dan tegas.

Teknik ini tidak hanya memberikan kesan berwibawa, tetapi juga berfungsi secara estetika untuk mengoreksi bentuk tubuh pemakainya.

Koleksi dari desainer Lia Afif dalam Indonesia Fashion Aesthetic (IFA) 2026 di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/2/2026).dok. IFA 2026 Koleksi dari desainer Lia Afif dalam Indonesia Fashion Aesthetic (IFA) 2026 di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

"Saya menggunakan main cutting untuk menyesuaikan lekuk badan. Jadi, orang yang badannya besar bisa tetap kelihatan ramping karena adanya permainan potongan tersebut. Di situ saya kombinasikan juga dengan warna-warna polos yang cenderung gelap agar tetap nyaman dipakai," jelas Lia.

Kemewahan koleksi ini semakin dipertegas dengan palet warna yang megah, mulai dari krem, terakota, putih, navy, mahogani, hingga hijau zamrud.

Misi penyelamatan wastra Nusantara dari kepunahan

Eksplorasi Lia terhadap wastra Nusantara sebenarnya telah dimulai sejak ia pertama kali terjun ke industri mode pada tahun 2006.

Ketertarikannya pada kain tradisional bermula saat masa kuliah, ketika ia melakukan riset tentang rumah tradisional. Ini membawanya mengenal lebih dalam pada kerumitan pembuatan wastra.

Lia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengangkat wastra tulis dan tenun ke panggung mode agar para perajin lokal tetap bisa bertahan di tengah gempuran kain motif cetak (cap).

Baca juga: Ajang Fashion dan Kecantikan IFA 2026 Kembali Digelar

Koleksi dari desainer Lia Afif dalam Indonesia Fashion Aesthetic (IFA) 2026 di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/2/2026).dok. IFA 2026 Koleksi dari desainer Lia Afif dalam Indonesia Fashion Aesthetic (IFA) 2026 di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Ia mengungkapkan bagaimana perajin binaannya hampir menyerah karena ketiadaan pasar bagi batik tulis yang harganya mencapai jutaan rupiah.

"Rasanya miris banget kalau perajin punya skill dan pewarnaan yang bagus, tapi akhirnya lari ke batik cap karena tidak ada pembeli. Padahal pengerjaannya sangat sulit," tutur Lia.

Melalui kolaborasi dengan para perajin wastra Indonesia, Lia berusaha memperkenalkan wastra dari berbagai daerah, mulai dari Kalimantan Timur sampai Jawa Timur, kepada para penikmat fesyen luas.

Baginya, melihat customer menyukai dan memesan kain dari perajin lokal adalah sebuah kebanggaan yang melampaui sekadar bisnis fesyen.

"Dengan saya olah menjadi busana, orang-orang jadi tahu dan banyak yang pesan langsung ke perajin. Ini simbiosis mutualisme untuk ikut mengembangkan dan memperkenalkan wastra kita ke seluruh Indonesia," pungkas Lia.

Baca juga: Keanggunan Bunga Calla Lily dalam Koleksi Terbaru Lia Soraya di IFA 2026

Tag:  #keagungan #batik #tanahan #dalam #koleksi #baju #muslim #karya #afif

KOMENTAR