Ketika Kerja Keras Tak Lagi Menjamin Sejahtera, Apa Dampaknya?
Ilustrasi lembur(Thinkstockphotos.com)
18:50
9 Februari 2026

Ketika Kerja Keras Tak Lagi Menjamin Sejahtera, Apa Dampaknya?


– Dulu ada persepsi bahwa jika kita mau naik kelas, maka wajib kerja keras. Sayangnya, potret pekerja pada hari ini adalah mereka sudah bekerja keras bertahun-tahun, bahkan punya lebih dari satu pekerjaan, tapi hidup tetap pas-pasan.

Fenomena tersebut disebut juga dengan working poor atau mereka yang bekerja namun penghasilannya tak cukup untuk hidup layak makin nyata, di tengah naiknya biaya hidup dan upah yang pas-pasan.

Kondisi bekerja tetapi tak kunjung sejahtera ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga merembet ke ranah sosial, psikologis, hingga ekonomi secara luas.

Sosiolog dan dosen Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir menilai, situasi tersebut telah menimbulkan tekanan serius bagi masyarakat.

“Ketika masyarakat sudah lelah dan muak dengan keadaan yang tidak bisa sejahtera, pada akhirnya kita mengalami stres, depresi, tekanan,” kata Sry saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Baca juga: Bekerja Tapi Tetap Miskin, Fenomena Working Poor Hantui Jutaan Pekerja RI

Tekanan psikologis yang terakumulasi

Menurut Sry, ketidakpastian ekonomi yang berlangsung terus-menerus membuat masyarakat berada dalam kondisi mental yang rentan.

Kerja keras yang tidak berbanding lurus dengan hasil menciptakan kelelahan emosional yang berkepanjangan.

Tekanan ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terakumulasi dari rasa cemas akan masa depan, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup, hingga perasaan gagal yang terus dipikul individu.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas hidup dan kesehatan mental masyarakat secara kolektif.

“Dampak lainnya bisa pada menunda untuk menikah, menunda untuk punya anak, kita takut untuk merancang hidup yang ke depannya bagaimana, karena hopeless,” ujar Sry.

Baca juga: Pakar UGM: Orang Indonesia Overwork dan Burnout karena Gaji Kecil

Ilustrasi kesepian.PEXELS/STEFAN STEFANCIK Ilustrasi kesepian.

Dampak sosial bisa menunda masa depan

Sry menjelaskan, ketidakmampuan mencapai kesejahteraan membuat banyak orang memilih menunda keputusan-keputusan penting dalam hidup.

Pernikahan dan memiliki anak tidak lagi dipandang sebagai fase alami, melainkan sebagai beban ekonomi yang menakutkan.

Baca juga: Angka Pernikahan Menurun, Kesiapan Finansial Jadi Tolak Ukur Menikah

Ketakutan merancang masa depan ini berimplikasi pada perubahan struktur sosial.

Generasi muda tumbuh dengan kecemasan kronis dan perasaan tidak aman, yang pada akhirnya mengubah cara mereka memandang stabilitas hidup dan keluarga. Kondisi tersebut juga berdampak pada relasi masyarakat dengan negara.

“Alhasil akan terjadi krisis terhadap pemerintah, kita tidak percaya lagi pada pemerintah karena merasa tidak diperhatikan, diabaikan, serta menganggap mereka sengaja buta hati dan buta mata,” kata Sry.

Hilangnya kepercayaan dan potensi krisis sosial

Lebih lanjut, Sry mengungkap, rasa diabaikan oleh kebijakan publik dapat memicu krisis kepercayaan yang serius.

Ketika masyarakat merasa suaranya tidak didengar, jarak antara negara dan warga semakin melebar. Dalam situasi ekstrem, dampaknya bisa menjadi sangat mengkhawatirkan.

Baca juga: Belajar dari Film Materialists, Menilai Kematangan Finansial Pasangan Tak Berarti Matre

“Kondisi ekonomi ini juga sangat miris, karena pada akhirnya banyak yang bunuh diri, banyak anak-anak tidak bisa lanjut sekolah. Hal-hal seperti itu yang akan terjadi ke depannya kalau kita tidak bisa bersuara untuk menuntut hak-hak kita,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara individual.

“Kita harus menyadari bahwa ini masalah bersama dan untuk keluar dari itu, kesadaran kolektif dan solidaritas sih untuk keluar dari tekanan-tekanan seperti ini,” tutur Sry.

Sry juga menyoroti munculnya karakter baru pada generasi mendatang akibat ketidakpastian kerja dan kesejahteraan.

“Banyak juga sifat-sifat baru yang muncul di generasi baru yang akan datang. Ada pengaruh pola kerja, pola perlawanan, dan menjadi mudah untuk pindah-pindah kerja,” ujarnya.

Perilaku ini muncul karena pekerjaan tidak lagi dianggap sebagai jaminan hidup layak. Akibatnya, produktivitas kerja menurun dan ketidakpuasan meningkat.

“Jika terus begini, perekonomian kita akan terganggu, tidak produktif, makin lama perputaran ekonominya melambat, karena jarang yang membeli barang dan memilih untuk menyimpan uang saja,” tutup Sry.

Baca juga: Mengapa Banyak Orang Bekerja Tak Kunjung Kaya? Ini Kata Sosiolog

Tag:  #ketika #kerja #keras #lagi #menjamin #sejahtera #dampaknya

KOMENTAR