Kemiskinan Struktural Turut Pengaruhi Mental Anak, Ini Kata Psikolog
Kemiskinan struktural tak hanya soal ekonomi. Psikolog menjelaskan dampaknya pada rasa aman, kesehatan mental, dan keputusasaan anak. (dok. freepik)
18:35
9 Februari 2026

Kemiskinan Struktural Turut Pengaruhi Mental Anak, Ini Kata Psikolog

Kasus gangguan kesehatan mental pada anak kerap dipandang sebagai persoalan individual atau keluarga semata.

Di sisi lain, ada faktor yang lebih luas dan kerap luput dibicarakan, yakni kemiskinan struktural.

Kondisi ini bukan hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga berpengaruh langsung pada rasa aman dan kesehatan mental anak.

Psikolog klinis anak, Reti Oktania, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kemiskinan struktural berbeda dengan kesulitan ekonomi sementara.

Dalam kemiskinan struktural, individu atau keluarga berada dalam sistem yang membuat mereka sulit keluar dari keterbatasan, meskipun sudah berusaha keras.

“Ketika seseorang sudah melakukan berbagai upaya, bekerja keras, tetapi tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, di situlah muncul rasa tidak berdaya. Kondisi ini tidak hanya dirasakan orang dewasa, tetapi juga anak-anak,” ujar Reti saat dihubungi Kompas.com via telepon, Jumat (6/2/2026).

Anak bisa merasa putus asa meski tidak diberi tahu

Banyak orangtua beranggapan bahwa anak tidak akan terdampak kondisi ekonomi selama mereka tidak diberi tahu secara langsung. Namun, Reti menegaskan bahwa anak sangat peka terhadap lingkungan.

“Anak bisa merasakan ketegangan, ketidakpastian, dan rasa tidak aman, meskipun orangtua tidak pernah membicarakan soal keuangan. Mereka melihat, mendengar, dan menyerap situasi di sekitarnya,” jelasnya.

Dalam kondisi kemiskinan struktural, keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan sarana pendukung belajar dapat memicu tekanan psikologis.

Anak dapat merasa berbeda dari teman-temannya, tersisih, atau bahkan menyalahkan diri sendiri karena merasa menjadi beban keluarga.

Baca juga: Rasa Malu dan Tidak Dianggap Bisa Melukai Mental Anak, Ini Kata Psikolog

Kemiskinan struktural tak hanya soal ekonomi. Psikolog menjelaskan dampaknya pada rasa aman, kesehatan mental, dan keputusasaan anak.
freepik Kemiskinan struktural tak hanya soal ekonomi. Psikolog menjelaskan dampaknya pada rasa aman, kesehatan mental, dan keputusasaan anak.

Empat perasaan yang rentan muncul pada anak

Reti menjelaskan bahwa pada anak yang mengalami tekanan berat akibat kondisi sosial-ekonomi, kerap muncul empat perasaan utama yang saling berkaitan.

  • Worthlessness

yaitu perasaan tidak berharga atau merasa tidak berguna. Anak bisa berpikir bahwa keberadaannya hanya menambah kesulitan orangtua.

  • Loneliness

Yakni perasaan kesepian dan terisolasi, meskipun anak tinggal bersama keluarga.

Hal ini bisa diperparah jika anak mengalami stigma, perundungan, atau keterbatasan dalam pergaulan.

  • Hopelessness

Yaitu rasa putus asa karena tidak melihat harapan di masa depan.

Anak merasa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan.

  • Helplessness

Perasaan tidak berdaya karena merasa sudah mencoba berbagai cara, tetapi tidak menemukan jalan keluar.

“Jika perasaan-perasaan ini berlangsung lama dan tidak tertangani, kondisi mental anak bisa semakin memburuk,” kata Reti.

Baca juga: Nikita Willy Bagikan Cara Kurangi Screen Time Anak Saat Makan

Depresi pada anak bukan hal mustahil

Reti menjelaskan bahwa depresi tak hanya bisa dialami orang dewasa. Depresi juga bisa terjadi pada anak, termasuk usia sekolah dasar.

Gejalanya antara lain murung berkepanjangan, kehilangan minat bermain atau belajar, menarik diri dari lingkungan, hingga muncul perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri.

Dalam konteks kemiskinan struktural, depresi pada anak dapat berkembang karena kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi, sementara ia tidak memiliki kapasitas maupun kendali untuk mengubah keadaan.

“Anak berada pada fase perkembangan, di mana mereka seharusnya merasa aman untuk tumbuh dan belajar. Ketika rasa aman itu tidak ada, kesehatan mental anak menjadi rentan,” ujar Reti.

Anak tidak seharusnya menanggung beban ekonomi
Reti menekankan bahwa anak tidak memiliki kewajiban untuk memahami, apalagi bertanggung jawab atas kondisi ekonomi keluarga.

Memperkenalkan konsep uang boleh dilakukan secara bertahap sesuai usia, tetapi membebankan kecemasan finansial kepada anak justru berisiko merusak kesejahteraan psikologisnya.

“Diskusi keuangan harus disesuaikan dengan kapasitas perkembangan anak. Yang terpenting, anak tidak merasa bahwa ia adalah penyebab kesulitan keluarga,” katanya.

Peran negara dan lingkungan sosial

Menurut Reti, kemiskinan struktural tidak bisa diselesaikan hanya di tingkat keluarga. Diperlukan peran negara dalam memastikan pemenuhan kebutuhan dasar anak, seperti akses pendidikan dan layanan kesehatan.

Di sisi lain, lingkungan sosial juga memegang peranan penting. Masyarakat diimbau untuk tidak menghakimi keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, melainkan menunjukkan empati dan kepedulian sesuai kapasitas masing-masing.

“Kadang, menyapa dan menanyakan kabar saja sudah berarti. Yang penting, jangan menambah beban psikologis dengan komentar negatif,” tutup Reti.

Tag:  #kemiskinan #struktural #turut #pengaruhi #mental #anak #kata #psikolog

KOMENTAR