Psikologi Mengatakan Ini Dia 9 Kebiasaan Generasi Milenial yang Diam-Diam Mengganggu Generasi Boomer
Perbedaan generasi sering kali memunculkan kesalahpahaman kecil yang lucu, namun juga membingungkan. Cara pandang generasi milenial terhadap pekerjaan, hubungan, dan kehidupan sehari-hari kerap membuat orang tua dari generasi baby boomer mengernyitkan dahi meski sebenarnya penuh rasa sayang.
Psikologi menyebutkan bahwa sebagian besar perbedaan ini bukan soal benar atau salah, melainkan akibat perbedaan tahap kehidupan, kondisi sosial, dan nilai yang berkembang di masing-masing era. Meski begitu, ada sejumlah kebiasaan milenial yang secara tidak sadar sering membuat orang tua boomer merasa heran, bahkan sedikit kesal.
Dilansir dari laman Global English Editing, Jumat (23/01), berikut adalah 9 kebiasaan generasi milenial yang diam-diam kerap mengganggu orang tua boomer menurut psikologi.
1. Menganggap Loyalitas Kerja sebagai Konsep Usang
Generasi boomer terbiasa bekerja puluhan tahun di satu perusahaan. Sebaliknya, milenial kerap berpindah pekerjaan demi mencari makna, keseimbangan hidup, dan peluang berkembang.
Meski bukan tanda tidak setia, kebiasaan job hopping ini sering dianggap gelisah dan tidak sabaran oleh orang tua boomer.
2. Lebih Memprioritaskan Pengalaman daripada Menabung Kekayaan
Banyak milenial memilih menghabiskan uang untuk traveling, konser, dan pengalaman hidup dibanding menabung untuk rumah atau aset jangka panjang.
Bagi boomer yang tumbuh dengan prinsip menabung dan memiliki rumah sebagai simbol kesuksesan, pilihan ini terasa berisiko, meski penelitian menunjukkan pengalaman sering memberi kebahagiaan jangka panjang.
3. Membagikan Hampir Seluruh Kehidupan di Media Sosial
Dari makanan, hubungan, hingga masalah pribadi, semuanya dibagikan secara terbuka. Bagi generasi boomer yang menjunjung tinggi privasi, kebiasaan ini terasa berlebihan.
Namun bagi milenial, berbagi adalah bentuk koneksi dan membangun komunitas.
4. Terlalu Terbuka Membicarakan Terapi dan Kesehatan Mental
Milenial berbicara tentang terapi layaknya membahas olahraga atau hobi. Hal ini membantu mengurangi stigma kesehatan mental, tetapi sering membuat boomer merasa tidak nyaman karena terbiasa menyimpan masalah secara pribadi.
5. Mempertanyakan Peta Hidup Tradisional
Menikah muda, membeli rumah, dan punya anak tidak lagi dianggap kewajiban mutlak. Milenial cenderung menunda atau bahkan mempertanyakan tujuan hidup konvensional.
Bagi boomer yang mengikuti “paket hidup standar”, perubahan ini sering terasa membingungkan.
6. Menuntut Work-Life Balance di Atas Segalanya
Jika boomer percaya kerja keras adalah jalan menuju kebahagiaan di masa depan, milenial justru ingin menikmati hidup sekarang.
Menolak promosi demi keluarga atau waktu luang kerap dianggap kurang ambisius oleh generasi sebelumnya.
7. Mengharapkan Umpan Balik dan Apresiasi Terus-Menerus
Milenial ingin dihargai, didengar, dan diberi umpan balik rutin. Sementara boomer terbiasa bekerja tanpa pujian, dengan gaji sebagai satu-satunya bentuk apresiasi.
Perbedaan ini sering memicu kesalahpahaman di dunia kerja.
8. Bersikap Skeptis terhadap Institusi dan Tradisi
Milenial cenderung mempertanyakan agama formal, budaya kerja lama, hingga institusi pernikahan. Mereka ingin alasan, bukan sekadar tradisi.
Boomer, yang tumbuh dengan menghormati sistem yang ada, kerap menganggap sikap ini terlalu kritis.
9. Mengaburkan Batas antara Kehidupan Kerja dan Pribadi
Milenial membawa identitas pribadi ke dunia kerja dan sebaliknya. Email dibalas malam hari, urusan pribadi diurus saat jam kerja.
Bagi boomer yang memisahkan tegas antara kantor dan rumah, pola ini terlihat tidak teratur, meski memberi fleksibilitas.
Tag: #psikologi #mengatakan #kebiasaan #generasi #milenial #yang #diam #diam #mengganggu #generasi #boomer